Wajah Donald Trump kini tercetak di lembaran mata uang Rusia bernilai 5 ribu Ruble dan dapat dipesan lewat internet dengan harga $ 9.99. Majalah Newsweek memberitakan Kamis (29/6/2017), mata uang, yang tentu saja palsu itu, bisa dipesan lewat laman TrumpRubles.com milik Jules M. dan Gabe L. Pasangan ini pernah kesohor namanya awal tahun 2017, karena mengirim kotoran manusia kepada sejumlah politikus AS.
Menurut mereka, ‘’Donald Trump layak mendapat penghargaan itu, karena telah bekerja menjalankan tugasnya di Gedung Putih.’’ Lebih lanjut, pasangan yang menyembunyikan nama belakangnya, karena diancam banyak pihak itu, menjelaskan ‘’Trump sendiri harus menerima kompensasi layak, karena keterlibatannya dengan Rusia.’’ Dalam laman itu, Jules M dan Gabe L, tak lupa menguraikan kritiknya terhadap kebijaksanaan Trump. Mulai dari upaya mengubah Obama Care, juga pengangkatan para anggota kabinet yang kontroversial, hingga pemecatan James Comey sebagai Direktur FBI.
Pasangan tersebut menjelaskan, keuntungan penjualan Ruble itu akan dikirimkan ke Badan Keluarga Berencana AS, yang sebentar lagi akan dipenggal subsidinya oleh Washington. Sejauh ini, penjualan Ruble Trump itu baru mencapai $ 2.400.
Mata uang palsu yang meniru mata uang Ruble bernilai 5000 yang didisain kembali pada tahun 1997 dan 2001. Mata uang yang diterbitkan Bank Rusia itu bergambar Nikolay Murrayov-Amursky, seorang negarawan Rusia yang berjasa membangun perbatasan Rusia dan China sepanjang Sungai Amur. Di mata uang palsu itu, kepala Nikolay diganti dengan kepala Presiden Trump yang mengenakan pakaian Rusia.
Bulan lalu Senator Cory Booker dari New Jersey pernah mengolok-olok Presiden Trump yang meniru cara Presiden Harry S. Truman menata meja kerjanya, agar kelihatan rajin bekerja. ‘’Di situ Truman memasang tanda: ‘Dolar ada di sini!. Seharusnya Trump juga memasang tanda yang sama di mejanya: ‘Ruble juga ada di sini!’’. Mungkin lantaran olok-olok ini, pasangan Jules M dan Gabe L punya inspirasi menciptakan mata uang Ruble palsu bergambar Trump.
SaveSave
SaveSave
SaveSave
SaveSave
SaveSave
Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…
Sekitar 237 orang yang menjadi korban penipuan investasi bodong di AS, bisa bernafas sedikit lega.…
Datang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bukan hanya soal mengejar mimpi. Bagi banyak pendatang…
Komunitas Indonesia di Philadelphia kembali berduka. Nathali, seorang perempuan diaspora Indonesia berusia 72 tahun, meninggal…
"Saya tidak hanya kehilangan uang. Saya kehilangan kepercayaan kepada orang-orang yang saya anggap keluarga." Kalimat…
oleh: Nuria Soeharto Setelah tayang perdananya di Forum Papua Barat, di Auckland, Selandia Baru, pada…