Sepuluh imigran gelap tewas dalam peti kemas

James Matthew Bradley Jr, diancam hukuman manti karena membawa hampir seratus imigran tak berdokumen di dalam peti kemas yang panasnya mencapai 38 derajat Celcius atau 100 Farenheit. Majalah TIME mengabarkan Senin (24/7/2017), 10 orang tewas dan sekitar 90 orang lainnya mengalami dehidrasi akut, terbekap di dalam peti kemas tanpa lubang hawa.

Para imigran tak berdokumen itu diselundupkan James Matthew Bradley Jr dari perbatasan Mexico menuju San Antonio. Selama perjalanan sepanjang 240 kilometer itu, para korban dibiarkan mati lemas, padahal banyak di antara mereka telah menggedor dinding peti kemas sejak lama.

Dalam pengakuannya di pengadilan San Antonio, James Matthew mengaku tak tahu peti kemas pesanan majikannya itu berisi manusia. ‘’Saat saya buka pintunya, saya kaget melihat mereka menggedor-gedor lantai dan dinding peti kemas,’’ kata James Matthew. Namun jaksa penuntut umum tak percaya begitu saja. Sopir peti kemas berusia 60 tahun itu dituntut hukuman mati, karena tahu mesin pendingin dalam peti kemas itu tak berfungsi, dan lubang ventilasi tak dapat dibuka.

Kasus ini terbongkar Ahad malam, setelah salah seorang penumpang peti kemas maut itu menghampiri seorang pengunjung Wal-Mart dan minta air karena kehausan. Para diplomat Mexico dan AS menduga para penumpang itu berasal dari Guatemala dan Mexico yang hendak masuk secara ilegal ke AS. ‘’Meski pengemudinya telah ditahan, saya berani jamin banyak lagi pelaku yang terlibat dalam kasus ini,’’ tutur Thomas Homan, akting Direktur Petugas Imigrasi, ICE.

Patroli penjaga perbatasan melaporkan, sedikitnya ada empat truk yang ditangkap di Laredo, Texax. Pada 7 Juli lalu, mereka menemukan 72 pendatang gelap dari Mexico, Ecuador, Guatemala dan El Salvador, disembunyikan di dalam truk. ‘’Tragedi seperti ini semakin parah, lebih berbahaya dan menjadi pengalaman yang sangat mahal,’’ kata Bob Libal, aktivis imigrasi AS. ‘’Kami mendorong petugas imigrasi agar menangkap pentolannya,’’ sambung Bob Libal.

SaveSave

SaveSave

SaveSave

SaveSave

SaveSave

SaveSave

.

Recent Posts

Bali Cafe Indo Brings Indonesian Flavors to Las Vegas

The Consul for Economic Affairs at the Consulate General of the Republic of Indonesia in…

3 hours ago

Bayang Deportasi di Balik DACA

Di balik istilah hukum yang terdengar teknis, tersimpan kegelisahan yang sangat nyata bagi ratusan ribu…

2 days ago

Dari Saksi ke Tahanan: Kisah Lansia Indonesia di Philly

Di balik peristiwa penangkapan oleh agen U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) di luar Philadelphia…

5 days ago

The Sandwich Generation in Exile: Antara Karier di Amerika dan Bakti di Indonesia

Opini: Akmal Nasery Basral* Bagi diaspora Indonesia di Amerika Serikat, ada satu suara yang paling ditakuti…

3 weeks ago

Power Up Philly: Philadelphia Perluas Akses Digital untuk Warga

Pada Sabtu, 28 Maret, City of Philadelphia menggelar Power Up Philly: Community Tech Expo, salah…

4 weeks ago

Lampion Merah di Museum Benteng Heritage

Oleh: Renville Almatsier Lampion merah bergantungan sepanjang gang sempit yang pendèk sekitar Museum Benteng Heritage…

2 months ago