Categories: PoliticsTechnology

Banyak Guru AS Tolak Pegang Senjata

Sejumlah guru AS menyatakan akan berhenti dari pekerjaannya, apabila harus memegang senjata ke sekolah seperti yang diusulkan Presiden Trump.

The Daily Beast mengabarkan Kamis (22/2/2018), bahkan banyak di antara mereka merasa jijik dengan jalan keluar yang disampaikan Trump. Saat bertemu dengan para murid dan guru di SLTA Parkland, Florida, Trump mengusulkan agar para guru dipersenjatai bahkan bakal memberi bonus bagi mereka yang bersedia menjalani latihan. Setelah dikecam banyak pihak, Presiden Trump membantah usulan itu. ‘’Saya tidak pernah mengeluarkan usulan itu. Tidak pernah sama sekali,’’ katanya.

Di antara para guru yang menolak dipersenjatai, adalah Katie Murray. Guru sebuah sekolah Katolik di New York ini menganggap ‘’Ide membawa senjata ke dalam ruang kelas membuat saya pengin muntah,’’ kata Katie Murray. ‘’Benar-benar tidak bertanggung jawab dan gila,’’ sambungnya. Katie menegaskan lagi bahwa pada 2017 lalu, terjadi 2 ribu insiden penembakan. ‘’Lalu apa jadinya bila bila senjata dibawa ke ruang kelas,’’ ujarnya.

Torry Logsdon, guru ilmu sosial di Genoa, Illinois, menentang bila guru dipersenjatai. Alasannya, ‘’Karena langkah itu seperti halnya menempelkan plester ke masalah yang lebih besar. ‘’Para pejabat di Washington ingin lepas tangan dari tanggung jawab,’’ kata Torry Logsdon, veteran angkatan darat AS itu. ‘’Jika ada orang gila yang menembak di sekolah, maka tanggung jawab guru adalah melindungi murid dan anak didiknya sebanyak mungkin,’’ ujar Torry Logsdon.

Tanggapan senada diutarakan Peter Hay. ‘’Mempersenjatai guru adalah ide orang dungu, karena semakin banyak senjata beredar, maka semakin banyak yang mati. Bukannya malah berkurang,’’ kata Peter Hay, mantan guru dan veteran militer AS itu. Menurutnya, gaji para guru sudah di bawah standar, selalu dikritik dan tidak punya kemampuan apa-apa lagi untuk mengembangkan diri. ‘’Apabila ditambahi tugas membawa senjata untuk melindungi anak didiknya, mereka pasti akan disalahkan lagi bila terjadi sesuatu,’’ tutur Peter Hay.

Sedangkan Aashish Parekh, seorang guru di Washington DC mengaku tidak tahu lagi berbuat apa. ‘’Berapa banyak dana, waktu dan kesempatan yang dihabiskan untuk melatih para guru menembak dan membawa senjata,’’ kata Aashish Parekh.

Pembimbing berdarah India ini juga mengeluhkan bahwa seorang guru telah kehabisan waktu untuk mengajar dan memeriksa pekerjaan rumah. ‘’Kami tidak punya waktu untuk berakhir pekan,’’ katanya. ‘’Pasti bakalan ada demonstrasi dan unjuk rasa para guru atau mogok, karena kami tidak mau dibebani tugas baru lagi,’’ sambungnya.

.

Recent Posts

Nonton World Cup di Philly? Pulangnya Gratis Naik SEPTA

Ketika banyak kota tuan rumah FIFA World Cup 2026 mulai menaikkan tarif transportasi umum demi…

18 hours ago

Mengenang James F. Sundah, Sang Penulis “Lilin-Lilin Kecil” yang Menyalakan Harapan Generasi

Dunia musik Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok pentingnya. Kabar wafatnya James F. Sundah pada…

5 days ago

Keluarga Imigran di Tengah Pemotongan SNAP

Bagi banyak keluarga imigran dan pekerja berpenghasilan rendah di Amerika Serikat, kartu SNAP bukan sekadar…

5 days ago

AS Bongkar Jaringan Scam Asia Tenggara

Di balik pesan WhatsApp yang terdengar ramah, atau tawaran investasi yang terlihat “terlalu bagus untuk…

1 week ago

Ketakutan dan Penipuan: Wajah Lain Krisis Imigrasi di Philly

Di tengah meningkatnya penegakan hukum imigrasi di Amerika Serikat, muncul ancaman lain yang tak kalah…

2 weeks ago

Bali Cafe Indo Brings Indonesian Flavors to Las Vegas

The Consul for Economic Affairs at the Consulate General of the Republic of Indonesia in…

2 weeks ago