Kelompok penuh kebencian meningkat jumlahnya karena dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump soal imigran, serta persepsi yang menyebutkan bahwa pemimpin AS membela supremasi kulit putih.
Kantor berita Reuters mengabarkan, hal itu diungkap oleh Southern Poverty Law Center, SPLC, Rabu (21/2/2018). Kelompok pemerhati HAM menjelaskan bahwa pada tahun 2017, jumlah grup penuh kebencian sebanyak 945 grup pada 2017 lalu. Atau meningkat 4% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata cuma 2,8%. ‘’Jika dibandingkan tahun 2014, peningkatannya sampai 20 persen,’’ lanjut SPLC. Di antara jumlah itu, 600 di antaranya terdiri dari kelompok supremasi kulit putih, sedangkan kelompok Neo-Nazi bertambah hingga 121 buah dari sebelumnya yang cuma 99 buah. ‘’Kelompok anti-Muslim meningkat dalam kurun waktu tiga tahun secara berturut-turut, hingga naik menjadi 114 buah dari 101 grup pada 2016 lalu,’’ bunyi laporan SPLC. ‘’Bahkan tahun lalu, jumlah kelompok radikal kanan semakin banyak jumlahnya, karena tindakan Presiden Trump. Di antaranya kiriman pesannya lewat Twitter yang berisi materi kebencian dan mengandung ancaman ringan kepada kelompok tertentu,’’ kata Heidi Beirich, direktur Proyek Intelijen SPLC. Agustus tahun lalu, Presiden Trump dikecam banyak pihak karena menyatakan, ‘’Kesalahan dilakukan oleh dua pihak,’’ dalam aksi kekerasan yang dilakukan kelompok supremasi kulit putih di Virginia. Sementara itu, pernyataan Presiden Trump yang anti imigran dan anti-Muslim, termasuk mengeluarkan pernyataan vulgar bagi warga Haiti dan negara-negara Afrika sebagai negara, juga membuat kelompok kebencian semakin mendapat angin.
Kenaikan juga dialami kelompok nasionalis kulit hitam. Sejak tahun lalu, kelompok seperti Nation of Islam meningkat 23 persen menjadi 233 grup, bunyi penjelasan sebuah organisasi non-profit AS. Dan, untuk pertama kalinya, kelompok supremasi kaum lelaki juga bertambah dua grup, bunyi penelitian organisasi non-profit tersebut. Investigasi terpisah menyebutkan pula bahwa kelompok al-right membunuh 43 korban sejak empat tahun silam. 17 di antaranya terjadi pada 2017. Kelompok Al-right dikenal sebagai gerakan yang yakin bahwa identitas kaum kulit putih mengalami serangan dari kekuatan kelompok multikultural. Tak hanya itu. Laporan SPLC juga menyebutkan bahwa 40 persen di antara 689 grup yang tergabung dalam gerakan Patriot anti-pemerintah, mempersenjatai diri dan membentuk satuan milisi bersenjata.
Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…
Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…
Sekitar 237 orang yang menjadi korban penipuan investasi bodong di AS, bisa bernafas sedikit lega.…
Datang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bukan hanya soal mengejar mimpi. Bagi banyak pendatang…
Komunitas Indonesia di Philadelphia kembali berduka. Nathali, seorang perempuan diaspora Indonesia berusia 72 tahun, meninggal…
"Saya tidak hanya kehilangan uang. Saya kehilangan kepercayaan kepada orang-orang yang saya anggap keluarga." Kalimat…