Umi, Nanik dan Dwipa mengalami nasib buruk di Canada. Mereka berangkat dari tanah air dengan harapan mendapatkan gaji lumayan bekerja di negeri orang, ternyata harus menanggung beban biaya perjalanan dan akomodasi, hingga tidak dapat pulang ke kampung halamannya. Bahkan Umi, tidak dapat menghadiri pemakaman ibunya yang meninggal dunia menjelang Lebaran tahun lalu.
Nasib pilu TKI Indonesia itu diungkap dalam laporan investigasi Al Jazeera, dalam program acara ”Witness”. Dalam laporan berjudul ‘Migrant Dreams: Canada Broken Promise’ itu, diceritakan para migran asing yang bekerja di Canada. Mereka bekerja di perkebunan rumah hijau di Leamington, Ontario, yang menjadi lokasi program pemerintah setempat bernama Canada’s Temporary Foreign Worker Program.
Mereka rata-rata berpenghasilan rendah, dan tidak seperti yang dijanjikan agen tenaga kerja yang merekrut TKW ke Canada. Banyak di antara mereka yang terluka di tempat pekerjaan dan dikirim pulang tanpa menjalani pengobatan. Mereka juga dibentak-bentak karena dianggap lamban bekerja dan kondisi tempat kerjanya tidak memadai.
Tapi, ‘’Mereka tidak berani mengungkapkan karena takut dipecat dan dipulangkan. Padahal mereka harus menanggung biaya perjalanan dan akomodasi yang disediakan agen TKI,’’ tutur Min Sook Lee, pembuat film dokumentasi di Al Jazera.
Bagaimana kisah pilu TKI Indonesia itu? Simak video yang diunggah di artikel ini. (Aljazeera.com)
Departemen Kesehatan Masyarakat Philadelphia (Philadelphia Department of Public Health/PDPH) merilis laporan terbaru mengenai tingkat kematian…
Pemerintahan Donald Trump menggunakan ancaman “public charge” untuk menghentikan visa imigran dari 75 negara. Namun,…
Semangat kemerdekaan tak selalu dirayakan dengan upacara atau perlombaan tradisional. Di Philadelphia, komunitas tenis Indonesia…
Kebijakan yang sempat menghentikan penerbitan immigrant visa bagi warga 75 negara akhirnya dibatalkan hakim federal…
Apa yang dirisaukan para peselancar? Jawabnya pasti, ”Tak ada ombak besar!” Semakin ganas ombak, adrenalin…