Konjen RI New York: Tidak Benar Veronica dan Bayinya Meninggal

Arifi Saiman, Konjen RI di New York City menyangkal berita yang mengatakan Veronica Tjahjadi, seorang WNI di New York yang sedang mengandung 6 bulan, meninggal dunia. “Tulisan WA yang beredar di mana-mana dan mengatasnamakan KJRI New York itu tidak benar. Kami tidak pernah membuat tulisan itu dan menyayangkan si penulis yang memakai nama kami,” papar Arifi kepada Indonesian Lantern, Kamis 1 April 2020.

Arifi Saiman, Konjen RI di New York City

Dalam pesan WA berantai yang diterima banyak pihak termasuk masyarakat di Indonesia, dikabarkan Veronica dan bayinya meninggal dunia Selasa, 31 Maret. Menurut Arifi, pihak KJRI tidak mendapatkan konfirmasi itu dari Rumah Sakit Westchester, New York tempat Veronica dirawat.

“Saat ini KJRI New York sedang membuat sanggahan resmi tentang itu. Mohon sabar karena proses verifikasi itu makan waktu,” ujar Arifi lagi. Seperti diketahui, Bren Rustam, suami Veronica, 38 th dikabarkan meninggal dunia pada Selasa 31 Maret terkena Covid-19. Dua hari sebelumnya, Hartoyo Widjaja alias Ko Alam (71) seorang pria Indonesia yang bekerja sebagai pengemudi di New York City, juga dikabarkan meninggal dunia karena komplikasi Covid-19

Arifi menghimbau agar di masa krisis ini masyarakat lebih berhati-hati dalam menyikapi berita di medsos. “Kita harus SARING sebelum SHARING,” tambah Konjen yang membawahi 15 negara bagian di wilayah Pantai Timur itu.

Arifi menghimbau agar di masa krisis ini masyakat lebih berhati-hati dalam menyikapi berita di medsos. “Kita harus SARING sebelum SHARING,” tambahnya.

Menanggapi banyaknya berita yang tidak akurat soal Covid-19, dr. Alvinsyah A Pramono, selaku Ketua Satgas COVID-19 Permias Nasional mengingatkan masyarakat dan tokoh masyarakat untuk lebih hati-hati. “Kita harus bijak dan bisa membedakan antara menutupi atau mengkonfirmasi kebenaran. Kalau yang ditulis itu hoax apakah itu bentuk transparansi?” ujarnya.

Dr Alvinsyah A Pramono

Alvinsyah menyatakan saat ini Permias melihat adanya peningkatan tren kejadian depresi dan kecemasan yang dihadapi para mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat. “Itu tren yang kami lihat dari survei kesehatan kedua yang baru kami lakukan” jelasnya.

Di East Coast sendiri saat ini ada 80 mahasiswa Indonesia di East Coast yang masih tinggal di asrama kampus mereka. Dari survei, Permias melihat bahwa kebijakan pemerintah setempat untuk menutup kampus dan sekolah telah menimbulkan stress bagi mahasiswa.

Permias merespon gejala stress akibat lockdown ini dengan meluncurkan layanan konseling bagi teman sebaya sebagai tempat untuk meringankan beban sesama mahasiswa Indonesia di AS.

“Saat ini kami memiliki 27 relawan yang sudah kami beri pelatihan bekerjasama dengan PTRI New York, KBRI dan KJRI se Amerika Serikat” ujar mahasiswa Rutgers University di New Jersey ini.

Selain layanan konseling, untuk menyemangati mahasiswa Indonesia di AS, Permias Nasional juga giat melakukan kampanye melalui medsos seperti Instagram dan Facebook. (Indah Nuritasari)

IN

Recent Posts

Pesta Babi, Pembelajaran Demokrasi Kita

oleh: Nuria Soeharto Setelah tayang perdananya di Forum Papua Barat, di Auckland, Selandia Baru, pada…

4 days ago

Generasi DACA dan Siklus Ketidakpastian Setiap Dua Tahun

Bagi ratusan ribu imigran muda yang dikenal sebagai Dreamers, Amerika selama bertahun-tahun terasa seperti rumah,…

7 days ago

News Reimagined: The Creator Journalism Summit

Washington D.C. - On Monday, May 4th at the National Press Club, journalists, reporters, and…

2 weeks ago

AAPI Heritage Month Gala

On Friday, May 8th, at Xfinity Live! Casino & Hotel, business leaders, community members, and…

2 weeks ago

1PHL Startup Summit: Philly’s up and coming tech startups network

On Wednesday, May 6th, at Ballers Philadelphia, a social sports club in Fishtown, tech entrepreneurs…

2 weeks ago

Nonton World Cup di Philly? Pulangnya Gratis Naik SEPTA

Ketika banyak kota tuan rumah FIFA World Cup 2026 mulai menaikkan tarif transportasi umum demi…

2 weeks ago