Kedutaan Besar RI di Washington DC melakukan terobosan baru. Di tengah krisis virus Corona di AS yang kini mencapai 240 ribu kasus, pihak KBRI melakukan pemantauan lewat internet bagi para manula yang rentan dengan serangan virus n-COVID 19 itu.
Demikian disampaikan, tetap sehat, gembira, bersemangat dan saling mendukung semangat kekeluargaan di antara komunitas Indonesia di DMV,” bunyi pengumuman di laman Embassy of Indonesia.
Termometer digital itu kemudian dikirim lewat surat ke alamat para manula. ”Data manula itu didapat dari warga Indonesia yang pernah ikut dalam program pengobatan gratis yang setiap bulan digelar KBRI,” tutur Dokter Sherryn yang ikut terlibat dalam program ini.
Para manula itu kemudian dipantau kesehatan dan suhu badannya lewat sebuah aplikasi yang dikirim bersama termometer digital tadi.
”Jika suhunya mencapai 38 derajat Celcius, warga Indonesia itu diminta untuk menghubungi dokter atau rumah sakit terdekat untuk dites apakah terpapar virus n-COVID 19,” kata Dokter Sherryn, lulusan Beijing tersebut. Bisa juga pasien itu diantar ke pos-pos pemeriksaan Corona yang banyak tersebar di setiap kota di AS.
”Pengecekan suhu tubuh dilakukan secara mandiri 2 kali sehari (jam 9 am dan 7 pm), dan dilaporkan secara online. ”Data online tersebut akan dijaga kerahasiaannya dan langsung dipegang oleh dokter dan tenaga medis di Pos Kesehatan,” bunyi pengumuman yang di situs embassy of Indonesia.
Program pemantauan lewat internet ini akan ditingkatkan jumlahnya apabila jumlah peralatan termometer itu segera tiba. ”Kami sulit memesannya, karena harus menunggu beberapa pekan,” tutur sumber KBRI yang tak mau disebut namanya itu.
Terobosan baru untuk membantu warga, dan Diaspora Indonesia itu cukup besar manfaatnya. Mengingat selama bulan ini, seluruh rumah sakit dan dokter di AS kewalahan menerima pasien. Terutama pasien lanjut usia yang harus mendapat perhatian khusus.
Untuk melancarkan program bantuan kesehatan kali ini, pihak KBRI melibatkan 12 dokter dan satu ahli psikologi Indonesia. Mereka rata-rata adalah para dokter lulusan Indonesia yang tengah melanjutkan program S2 di Amerika Serikat. Seperti yang dilakukan dr. Sherryn.
‘
Sebelum krisis Corona kali ini, para dokter muda itu membantu pihak KBRI menggelar program pemeriksaan gratis bagi warga Indonesia. Program ini digelar hampir setiap bulan di halaman Wisma Indonesia yang berlokasi di 2700 Tilden Street, NW Washington DC. Puluhan warga Indonesia ramai-ramai memeriksakan diri sambil menikmati hidangan ringan yang disediakan KBRI.
Menghadapi krisis pandemi yang tak ketahuan ujung ini, KBRI akan bekerjasama dengan seluruh Konsular Jenderal RI yang ada di AS. Sejumlah telepon darurat disediakan bagi mereka yang mengalami gejala virus Corona. Juga nomor telepon ke-13 tenaga ahli kedokteran Indonesia di halaman ini. (DP)
Semangat kemerdekaan tak selalu dirayakan dengan upacara atau perlombaan tradisional. Di Philadelphia, komunitas tenis Indonesia…
Kebijakan yang sempat menghentikan penerbitan immigrant visa bagi warga 75 negara akhirnya dibatalkan hakim federal…
Apa yang dirisaukan para peselancar? Jawabnya pasti, ”Tak ada ombak besar!” Semakin ganas ombak, adrenalin…
Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…
Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…