Kasus Covid-19 Naik 3 Juta dan Korban Tewas Bakal 200 Ribu Jiwa di AS

Jumlah kasus terpapar virus novel corona di AS, kini mencapai 3 juta orang lebih. Yang lebih mengerikan lagi, jumlah kematian bisa diperkirakan bakal mencapai 208 ribu korban pada 1 November 2020.

Lihat saja. Kasus Covid-19 dilaporkan pertama kali pada 21 Januari 2020 lalu. Kemudian, dalam waktu 99 hari atau sekitar 3 bulan, 1 juta warga AS terinfeksi kasus mematikan itu. Lalu, sekitar 43 hari kemudian (atau sebulan lebih) kasus terpapar novel corona mencapai 2 juta orang. Dan kurang dari satu bulan kemudian, Rabu kemarin, kasus corona mencapai 3 juta orang.

 

Kantor berita CNN melaporkan, penambahan kasus yang begitu cepat, begitu mengejutkan para dokter. Menurut data Johns Hopkins University, lebih dari 132 ribu orang meninggal dunia karena virus corona.

Unit Gawat Darurat, UGD di 42 rumah sakit di Florida tidak mampu lagi menampung pasien baru. Kini pasien yang harus diberi bantuan ventilator (alat bantu pernafasan) bukan cuma berusia senja tetapi pasien usia remaja.

Di Arizona, negara bagian yang mencatat kematian akibat Covid-19, juga mulai kekurangan tempat tidur di ruang UGD. ”Kami butuh tenaga medis profesional. Kami butuh alat test COVID-19 dan kami butuh secepatnya,” ujar Kate Gallego, walikota Phoenix. ”Jika sampai dua minggu ke depan kebutuhan tempat tidur dan alat tes tidak dapat dipenuhi, maka kami akan mengalami krisis berkepanjangan,” kata Kate Gellego.

Sementara itu, meningkatnya kasus virus Covid-19 juga terjadi di 35 negara bagian yang telah membuka diri. Mereka mengancam hendak menutup kembali kawasannya bila kasus baru tidak juga turun jumlahnya. Termasuk perintah untuk tinggal di rumah atau stay-at-home-orders. 35 negara bagian itu dan Washington DC, serta Puerto Rico kembali menerapkan wajib masker.

1 November 2020 sebagai awal musim gugur di AS, bakal menjadi saat-saat cukup gawat. Jika tidak hati-hati, maka 200 ribu korban akan tewas termakan virus Covid-19. ”Minimal kenakan masker wajah, bila anda tidak mau disiplin menerapkan jaga jarak atau sering mencuci tangan,” tutur Dr. Anthony Fauci, ahli penyakit menular AS yang tampaknya tidak digunakan lagi oleh Presiden Trump, karena berseberangan dengan kebijaksanaan Gedung Putih. (DP)

.

Recent Posts

Philadelphia Rilis Laporan Tingkat Kematian Ibu Hamil, Overdosis Jadi Salah Satu Penyebab Utama

Departemen Kesehatan Masyarakat Philadelphia (Philadelphia Department of Public Health/PDPH) merilis laporan terbaru mengenai tingkat kematian…

1 day ago

Benarkah Imigran Membebani Amerika? Di Balik Dalih Visa Trump dan Dampaknya bagi Indonesia

Pemerintahan Donald Trump menggunakan ancaman “public charge” untuk menghentikan visa imigran dari 75 negara. Namun,…

3 days ago

Merdeka Tennis 2026, Adu Smash dan Keakraban Komunitas Indonesia di Philadelphia

Semangat kemerdekaan tak selalu dirayakan dengan upacara atau perlombaan tradisional. Di Philadelphia, komunitas tenis Indonesia…

1 week ago

Perjalanan Budaya Keramik Klampok yang Melegenda

Deretan showroom keramik di sepanjang jalan nasional Kecamatan Purwareja Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah, mengalihkan pandangan…

1 week ago

Indonesia Tak Masuk Daftar 75 Negara yang Kena Pembatasan Visa Imigran Trump

Kebijakan yang sempat menghentikan penerbitan immigrant visa bagi warga 75 negara akhirnya dibatalkan hakim federal…

3 weeks ago

Kisah Piping Si Pemburu Ombak

Apa yang dirisaukan para peselancar? Jawabnya pasti, ”Tak ada ombak besar!” Semakin ganas ombak, adrenalin…

4 weeks ago