Kelompok Militan Bersenjata Hitam dan Putih Lakukan Konsolidasi Jelang Pilpres 2020

Bagaimanapun suhu politik di Amerika Serikat makin memanas, menjelang pemilihan presiden AS, Selasa 3 November 2020 mendatang. Kubu Partai Republik dan Demokrat saling menggalang kekuatan untuk memenangkan calon masing-masing. Lalu bagaimana bila salah satu kandidat kalah dalam perebutan kursi Gedung Putih?

 

Dua kelompok bersenjata kulit hitam maupun kulit putih mulai meningkatkan kegiatan. Kelompok milisi bersenjata kulit hitam bernama Not F*cking Around Coalition, NFAC misalnya, dikabarkan meningkatkan latihan bela diri menggunakan senjata dua bulan belakangan. NFAC yang pernah menuntut penurunan patung-patung tokoh Konfederasi itu, dibentuk tahun 2017 di Atlanta, Georgia.

”Kami tidak lagi bisa menerima pelecehan di antara komunitas hitam, karena tidak ada lagi rasa hormat,” kata Fitzgerald Johnson, pimpinan NFAC kepada CNN. ”Menjadi kaum hitam di negeri ini sudah tidak ada harganya,” tulisnya di akun Twitternya. ”Kalian tidak dapat memperbaiki penghinaan 400 tahun hanya dalam 150 tahun,” lanjut Johnson.

Fitzgerald Johnson, pimpinan NFAC.

Tidak seperti milisi Partai Black Panther yang melindungi kaum hitam, kelompok NFAC bertindak damai dan menghindari kekerasan. ”Tidak seorang pun yang ribut tatkala mereka angkat senjata, dan mempersenjatai diri, bahkan tidak mau mengenakan masker wajah,” kata Johnson. Tapi, jika ada komunitas hitam yang mempersenjatai diri, banyak yang ribut,” lanjutnya.

Meski tanpa menyebut nama, namun yang dimaksud Fitzgerald Johnson adalah kelompok supremasi kulit putih AS. Satu di antaranya, The Patriot Front yang kini tengah menyusun kekuatan bersenjata apabila Donald Trump kalah dalam pemilihan presiden 2020 mendatang.

Menurut laman BuzzFeed, ratusan pesan Patriot Front telah beredar di media sosial. Isinya berupa ajakan ratusan anggotanya untuk bersiap diri bila terjadi perang saudara jika Presiden Donald Trump kalah. ”Selama setahun ini, sebanyak 280 anggota grup itu membicarakan pembentukan sebuah negara etnis putih yang terpisah dari AS,” tulis Jane Lytvyneko dari BuzzFeednews.com

 

Bahkan, yang lebih ekstrim, kelompok ini menginginkan terbentuknya negara etnis putih, tanpa peduli siapa yang menang. Seperti ditulis Jane Lytvyneko dalam Twitternya, ”Tidak peduli siapa yang menang pilpres, mereka akan membentuk negara sendiri,” tulis Thomas Rousseau pemimpin The Patriot Front.

Kelompok ini akan mengusir kaum imigran, warga kulit berwarna dan membentuk Amerika kembali. ”Pesan ini menyiratkan lahirnya jaringan ekstrimis cukup rumit yang melatih para personilnya untuk merebakkan aksi kekerasan di AS,” tulis Jane Lytvyneko. (DP)

.

View Comments

Recent Posts

Perempuan dan Masa Depan Diplomasi

Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…

1 day ago

Wajar Bukan Berarti Benar

Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…

3 days ago

Anak Jaksel Berkarier di The New York Times

Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…

2 weeks ago

40 Hari Mengenang James F. Sundah, Beasiswa Riset Hak Cipta Diluncurkan

Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…

3 weeks ago

Cerita Chef Diaspora Bikin Kuliner Nusantara Mendunia

Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…

4 weeks ago

Diaspora Global Summit 2: Dari Brain Drain Menuju Brain Gain

Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…

1 month ago