Pemerintah Inggris kehilangan dana sebesar 50 miliar Poundsterling atau hampir Rp 1.000 trilyun. Hal itu terungkap dalam laporan parlemen Inggris, Jumat 4 Desember lalu, yang menyebutkan: ”Dana persediaan sebesar 50 miliar dalam bentuk uang tunai tak ketahuan ke mana.” bunyi laporan yang ditulis The Straits Times.
Dugaan sementara memperkirakan bahwa dana itu disembunyikan di dalam rumah warga Inggris. Bisa juga tidak dilaporkan ke pemerintah. ”Atau bahkan digunakan untuk tujuan tak jelas,” bunyi laporan Komisi Akuntan Publik Parlemen Inggris. Karena itu, komisi ini meminta Bank of England melakukan penyelidikan lebih jauh.
”Dana 50 milyar dalam bentuk uang kertas yang hilang itu sekitar tiga perempat dari pasokan dana pemerintah,” kata Meg Hillier salah satu anggota parlemen Inggris. ”Dan Bank of England tidak tahu menahu di mana, dipegang oleh siapa, dan untuk apa. Masak nggak curiga sih?” lanjut Meg Hillier.
Namun hal itu dibantah oleh Bank of England. Dalam pernyataan resminya, bank pemerintah itu menyatakan bahwa pihaknya telah bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan mata uang kertas warga Inggris. ”Kami selalu memenuhi kebutuhan itu dan tetap memenuhi kebutuhan tersebut,” tulis jurubicara Bank Sentral Inggris itu dalam pernyataannya.
Anggota masyarakat Inggris, lanjutnya, tidak harus melaporkan simpanan uang kertasnya kepada pemerintah atau bank. ”Artinya, uang itu tidak hilang ke mana-mana, tetapi masih tersimpan di lemari warga Inggris,” bunyi pernyataan resmi Bank Sentral.
Pandemi Covid-19 menyebabkan pembayaran secara tunai semakin merosot, karena warga dunia membayar menggunakan kartu kredit atau bentuk non-tunai lainnya. Sehingga permintaan uang tunai makin meningkat belakangan ini. Nilai uang kertas dan polymer yang beredar di Inggris mencapai tingkat tertinggi pada bulan Juli lalu, di angka 76,5 milyar poundsterling.
Meski begitu, komisi DPR Inggris berharap agar Bank of England melakukan investigasi hingga ditemukan titik terang. Kalau tidak ketemu disimpan di mana, setidaknya bisa diungkap faktor apa yang menyebabkan kebutuhan uang tunai poundsterling meningkat. Menurut Bank of England, kebutuhan uang tunai poundsterling untuk bertransaksi sekitar 20 sampai 25 persen dari jumlah total sirkulasi mata uang Inggris yang besarnya 76,4 miliar poundsterling atau sekitar Rp 1.500 triliun. (DP)
oleh: Nuria Soeharto Setelah tayang perdananya di Forum Papua Barat, di Auckland, Selandia Baru, pada…
Bagi ratusan ribu imigran muda yang dikenal sebagai Dreamers, Amerika selama bertahun-tahun terasa seperti rumah,…
Washington D.C. - On Monday, May 4th at the National Press Club, journalists, reporters, and…
On Friday, May 8th, at Xfinity Live! Casino & Hotel, business leaders, community members, and…
On Wednesday, May 6th, at Ballers Philadelphia, a social sports club in Fishtown, tech entrepreneurs…
Ketika banyak kota tuan rumah FIFA World Cup 2026 mulai menaikkan tarif transportasi umum demi…