Kepolisian Inggris menangkap seorang penipu ulung bernama Hargobind Punjabi Tahilramani. Lelaki Indonesia keturunan India itu, dicokok pagi buta sekitar pukul 4.00 dari apartemennya di Church Street, Inggris, akhir November lalu dan akan diekstradisi ke AS.
Hargobind kelahiran Jakarta itu, dituduh memeras sejumlah korban yang berminat menjadi bintang film dan selebriti Hollywood. Mulai dari make-up artis, fotografer, pelatih kebugaran, pemeran pengganti, aktor dan lainnya. Dari hasil penipuan itu, Hargobind meraup uang sekitar $ 1,5 juta sampai $ 2 juta, selama dia menjalankan operasinya sejak tahun 2013.
Modus penipuannya: Hargobind yang lahir di Jakarta itu memiliki kemampuan menirukan suara seseorang, kebanyakan kaum wanita elite dan selebritas Hollywood. Seperti Kathleen Kennedy, presiden Lucasfilm AS, atau Amy Pascal, eksekutif produser Sony Pictures Television, dan banyak lagi. Termasuk Wendi Deng, mantan istri raja media Australia, Rupert Murdoch.
Dengan kebolehannya itu, Hargobind menelpon para korbannya untuk diorbitkan menjadi artis atau insan perfilman lainnya. Ia menjerat mereka agar berkunjung ke Indonesia untuk melakukan latihan akting atau apa saja. Mereka harus tinggal di hotel dan berkunjung ke Bali dan lainnya, untuk menjalani screening. Untuk itu, mereka harus membayar biaya ribuan dolar. Jika ada yang protes, karena tidak juga jadi bintang film, mereka akan diancam untuk dihabisi, oleh kaki tangan Hargobind yang mengatur seluruh rekayasa latihan tadi.
Majalah Vanity Fair, yang membongkar kasus ini pertama kali, mengungkapkan Hargobind pernah bekerjasama dengan Rudy Sutopo. Pria yang dikenal Gobind saat sama-sama berada di Lapas Cipinang, karena kasus penipuan tahun 2000-an itu, mendirikan perusahaan film yang akan memproduksi sebuah film berjudul ‘The Black Widow’. Mereka berhasil mengeruk untung miliaran rupiah.
Uniknya, Hargobind, pernah menggegerkan Kedutaan Besar AS di Jakarta. Menggunakan aksen Iran atau Afghanistan atau Rusia, ia menelepon Kedubes AS dan mengeluarkan ancaman bakal ada pengeboman. Tentu saja hal itu tidak pernah terjadi. ”Yang paling menggelikan, membuat keluarga saya frustrasi,” kata Hargobind, lulusan Gandhi Memorial Intercontinental School, Jakarta pada sebuah koran lokal.
Hargobind yang berdarah Pakistan dan Hong Kong itu , pernah menggelar Miss Teen Indonesia pageant, dan mengundang penyanyi Enrique Iglesias, untuk tampil di acara itu. Penyanyi kondang itu sempat tiba di Jakarta, tapi urung turun dari pesawat pribadinya setelah tahu bahwa ia dikibuli Hargobind.
Dengan menggunakan nama tengahnya Punjabi, Hargobind juga mengaku sebagai salah satu keluarga pengusaha film Indonesia kondang yang memproduksi banyak film dan sinetron itu. Belakangan, sebelum dijebloskan ke penjara, Hargobind juga mengaku sebagai pengusaha restoran, menciptakan sejumlah menu makanan, dan mengunggahnya di Instagram.
Hargobind Punjabi Tahilramani, juga mengaku tidak nyaman hidup di Indonesia sebagai seorang gay, karena selalu diolok-olok. ”Mungkin karena saya tidak suka sepakbola, mereka menertawakan saya dan memanggil saya Banci,” katanya dalam sebuah video September lalu.
Semua tingkah laku kebohongannya itu pun diungkap dan diadukan oleh para korbannya ke kepolisian AS. Biro Investigasi Federal, FBI, pun memantau seluruh kelakuan buruknya itu. Bekerjasama dengan K2 Integrity Agency, badan investigasi swasta yang sejak lama dipercaya sejumlah eksekutif Hollywood memantau sepak terjang penipu ulung itu, mereka pun menangkap Hargobind PunjabiTahilramani. ”Bekerjasama dengan pihak keamanan Indonesia, kami mampu membawa Con Queen of Hollywood to justice,” tutur Jules Kroll, co-founder K2 kepada The Independent. (DP)
Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…
Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…
Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…
Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…
Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…
Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…
View Comments
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.
I don't think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article. https://www.binance.com/el/register?ref=DB40ITMB
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good. https://www.binance.info/register?ref=JW3W4Y3A
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.
I'm skeptical about the timeline you proposed, but I'm willing to test it. If this holds up, it changes how we structure our entire outreach program.
The shift towards "entity-based" indexing is real. Your strategy seems to leverage that by building entity associations rather than just keyword matches. Smart.
Have you considered the impact of mobile-first indexing on these placements? We've noticed that some "desktop-safe" strategies are flagging on mobile crawls.
This is exactly why we moved away from automated PBNs. The risk/reward ratio just doesn't make sense anymore compared to what you're describing.