Apa yang dirisaukan para peselancar? Jawabnya pasti, ”Tak ada ombak besar!” Semakin ganas ombak, adrenalin kian menderu. Bagi peselancar dunia, ombak di sepanjang garis pantai bagian selatan Samudra Hindia, yang membentang dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, hingga Pulau Weh, Aceh, merupakan surga para peselancar. Ombaknya tak tertandingi. “Luar biasa dahsyat!” Konon, surfing di Indonesia, sudah ada sejak 1930-an. Ada yang meyakini booming surfing terjadi pada 1960-an di Bali, saat euforia “flower generation”. Entah versi mana yang benar?

Di bawah terik matahari yang panasnya menusuk tulang sumsum, Bagus Made Irawan (67) yang akrab disapa Piping, berbincang dengan sesama peselancar Indonesia dan mancanegara di Kuta. “Bali ibarat New York-nya surfing, ”sergah Piping. Lelaki yang berkulit legam, gurat wajahnya tegas dan kerut yang tak terhindarkan. Maklumlah, sengatan matahari dan air laut bertubi-tubi menghantamnya. Rambutnya putih beruban dan gaya bicaranya santai. Bukti usianya tak lagi muda. Saat muda, Piping telah melanglang buana hingga Eropa Tengah, tepatnya bermukim di Swiss pada era 1990-an. Sayangnya, Swiss yang indah tidak memiliki laut dengan ombak ganas sepanjang musim. Swiss hanya dikelilingi daratan, di sebelah utara Jerman, di sebelah selatan Italia, di sebelah barat Prancis, di sebelah timur Austria dan Liechtenstein.
Akhirnya sebagai diaspora Indonesia di Swiss, Piping memilih pulang ke tanah air, demi ombak yang bergulung-gulung. Piping setia memelihara ciri khas pribadi; berkaos oblong, bercelana pendek sebatas lutut, mengenakan sandal gunung, dan tas ransel belel yang selalu menempel di bahunya. Kesetiaan lain, dia berikan pada hobi yang tak pernah lekang: surfing. “Saya tak bermimpi menjadi peselancar,” kata Piping. Awalnya, sekadar coba-coba dengan papan selancar (surfboard) pinjaman. Sejak itu ia mengakrabi laut.

Bergiat di surfing sejak umur 25 tahun, tentu bukan pilihan mudah. Ibunya protes, tak setuju. Maklumlah, anak pantai di zaman itu identik dengan ‘gigolo’ (istilah: pelacur lelaki). “Stigma negatif,” keluh Piping. Ibunya memangkas habis uangnya. “Ibu marah, saya disiapkan jadi atlet golf, bukan atlet surfing, ”katanya. Di keluarga, golf sudah menjadi tradisi dan mengakar kuat. Ayahnya bekas atlet golf profesional, begitu juga ibunya.
Uniknya, Piping dididik oleh dua prinsip yang berbeda. Sang ibu amat konservatif, tipikal perempuan Jawa yang taat pada adat, tradisi dan norma. Sedangkan Ayahnya, lelaki Bali yang egaliter dan demokratis. “Cara mendidik ayah sangat liberal, mungkin profesinya dosen. Sedangkan ibu berbeda, konservatif!” kenang Piping
Ketika surfing menjadi pilihan hidup, Ayah-lah yang memahami sikap Piping, bahkan tatkala kuliahnya kandas di jurusan Teknik Sipil, Universitas Udayana. Bagi Piping, surfing tak sekedar hobi, tapi nafas hidup. “My life is surfing!” Saat melawan ombak setinggi 8 meter, yang dirasakan Piping justru kenikmatan berselancar. ”Fantastis!” Tak ingat lagi, beban hidup yang menghimpit atau hutang sekalipun. “Ombaklah istri pertama saya, setelah itu baru Isabel, istri kedua saya, ”ujarnya terbahak. Isabel, perawat asal Swiss yang dinikahinya bertahun silam, datang di tengah riuhnya turis Eropa Barat ke Kuta. Dari perkawinan itu lahirlah anak-anak berwajah campuran Indonesia-Swiss: Michael, Natasya dan Fabian. “Sejak umur 4 bulan, saya ceburkan anak-anak ke laut. Mereka malah benci sama laut, kata Piping.
Laut tak hanya menawarkan kenikmatan berselancar, tetapi juga nestapa. Piping mengeluh, potensi alam laut yang tak tergarap. Kini banyak yang rusak. Padahal ekosistem dan biotanya begitu kaya, alamnya apik dan eksotik. “Bayangkan saja, dilihat dari atas udara Manado, Halmahera hingga Papua, alam lautnya terlihat luar biasa indah. Bali sendiri menjadi tren surfing dunia. Bule saja cari inspirasi di negara kita. Pemerintah kok gak peduli. Anehnya, perusahaan besar di Indonesia justru mensponsori surfing di Jepang, konyol!” teriak Piping.

Tak perlu pergi jauh untuk surfing ke Hawaii, negara bagian Amerika Serikat ke-50 yang terletak di tengah Samudra Pasifik bagian utara dan masuk dalam kawasan Oseania. ”Lautan Indonesia, ombaknya bagus sepanjang tahun. Tak ada di negara lain, ”imbuhnya. Kegundahan piping tentu beralasan. Secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang kekayaan lautnya terbesar di dunia, mencakup 17.508 pulau, bahkan memiliki sejarah panjang sebagai pelaut ulung. Laut Indonesia yang terentang 95.180,8 km adalah yang kelima terpanjang di dunia setelah Kanada, Amerika Serikat, Rusia dan China. Kini Indonesia memiliki 17.000 pulau dan 92 pulau terluar.
Bandingkan dengan sekarang, kerusakan alam laut tak terelakkan. Ironisnya, hak istimewa justru diperoleh warga negara asing (WNA). “Di laut Sumba, peselancar kita ditembaki dengan senjata api oleh polisi. Pulau itu disewa oleh pengusaha properti Amerika untuk vila pribadi. Inikan gila! Bukankah laut itu zona bebas dan milik kita?” sergah Piping.
Piping ibarat “penjaga” garis pantai di sepanjang Pulau Jawa, Bali, bahkan sebagian Sumatera. Segala literatur laut, dia pahami hingga ke akarnya. Kegilaannya, mutlak pada laut dan ombak. Dia pun menjelajahi pulau-pulau tak bernama hanya untuk berburu ombak, dari Pulau Krui, Rote, Sumba, Lombok, G-land, Mentawai hingga Nias yang terpencil.
G-land yang disebutnya, agak asing kedengarannya. Tapi Piping amat mengenalnya. Terletak di garis pantai Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Disebut G-land, karena pantainya melengkung mirip huruf G. Konon, di G-land, gelombang besar terhimpun dan gelombang panjang bergulung bertalu-talu. Inilah satu dari empat tempat serupa di dunia yang masuk kategori “impian” bagi peselancar dunia.
Bagi peselancar lokal maupun mancanegara dari Amerika Serikat, Kanada, Eropa, dan Asia-Pasifik, Piping ibarat kamus berjalan. Tak ada yang terlewatkan asal masih berbicara soal laut. Pergaulannya yang liat dengan peselancar dunia dan gayanya yang santai membuat Piping muda sempat terjerat ganja hingga kokain kelas satu. “Sebatas pakai, gak sampai fly atau overdosis, ”kilahnya.
Piping juga pegiat fotografi surfing. Awalnya iseng, akhirnya jadi profesi yang ditekuninya kini. Kamera pertamanya, Canon A2 semi-pro buatan Amerika Serikat, hadiah dari koleganya bernama Axel, fotografer asal Jerman. Angle fotonya tak jauh dari: surfing dan laut. Tak ayal, dia dijuluki fotografer spesialis surfing. Dia lihai membidik objek dengan posisi menukik di atas papan surfboard, berenang di tengah laut, bahkan diterjang gulungan ombak setinggi enam meter. “Kebanyakan fotografer selalu memotret surfing dari darat. Saya berbeda!” kata penggagas majalah Surftime ini.
Di sela waktunya, Piping mengajar siapa saja yang mau belajar surfing, tanpa berharap imbalan. “Sekaligus saya jaga potensi laut yang kaya ini, ”katanya terbahak. Kini, bersama koleganya sesama peselancar lokal, Piping mengelola dan menerbitkan majalah Surf Wave dan website surfing. Piping juga bergiat di perhelatan surfing tingkat nasional dan internasional setiap tahun. “Pusing juga, memutar otak agar surfing tetap hidup, ”serunya.
Dia meniru filosofi Jawa ibunya, hidup tak perlu “ngoyo”, santai tapi serius. Seorang peselancar harus berpikir positif, karena yang dihadapi adalah ganasnya ombak dan lautan bebas. Piping percaya, niat baik akan menghasilkan buah yang legit. “Surfing itu seperti beryoga, menyeimbangkan pikiran dan emosi,” ungkapnya. Harapan Piping sederhana: “Surfing bisa sepopuler olahraga sepak bola, meski surfing masih tergolong sebagai sport tourism.”
-Farida Indriastuti-

