Dentsu, perusahaan iklan raksasa Jepang memangkas jam lembur karyawannya setelah seorang karyawatinya bunuh diri karena bekerja terlalu lama.
Bloomberg.com mengabarkan Selasa (18/10/2016), mulai November nanti, para karyawan hanya boleh lembur selama 65 jam per bulan. Jauh di bawah jam minimum yang 70 jam per bulan. ‘’Jika kita mengubah aturan lembur, kita dapat meningkatkan perimbangan jam kerja dan santai. Dan ini membuat karyawan bisa bekerja lebih nyaman,’’ kata PM Shinzo Abe usai bertemu dengan sebuah panel diskusi menanggulangi jam kerja lembur.
Keputusan Dentsu itu dikeluarkan setelah Matsuri Takahashi bunuh diri karena menderita beban mental. Matsuri yang baru berusia 24 tahun itu, stres karena bekerja lembur lebih dari 105 jam per bulan, bunyi laporan harian Asahi.
Hampir 25% perusahaan Jepang mewajibkan karyawannya lembur sampai 80 jam per bulan, menurut survei yang dilakukan Departemen Tenaga Kerja Jepang pada 1.700 perusahaan. 21% karyawan bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Lebih besar ketimbang karyawan AS yang hanya 12,5% bekerja sekitar 50 jam per minggu. Juga di Inggris dan Korsel yang rata-rata hanya belasan orang saja.
Dentsu adalah perusahaan terakhir yang menerapkan pemangkasan jam lembur. 50 perusahaan Jepang, termasuk Daiwa Securities Group Inc dan Seven & I Holdings Co. menanda tangani perjanjian untuk tidak mengizinkan karyawannya kerja lembur secara berlebihan. Gubernur Tokyo, Yuriko Koike baru-baru ini mengharuskan karyawannya pulang kerja pada pukul 20.00. DP.
Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…
Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…
Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…
Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…
Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…
Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…