Categories: Uncategorized

Gedung Putih Terima Hadiah dan Cinderamata $ 1 juta lebih selama 2015

Para pemimpin Timur Tengah memberi hadiah bernilai total $ 1,25 juta kepada Gedung Putih selama setahun lalu.

Forbes mengungkapkan Senin (24/10/2016), hadiah bernilai $ 785 ribu diberikan langsung kepada Presiden Barrack Obama. Termasuk hadiah termahal paling mahal bernilai hampir $ 523 ribu dari Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud pada September 2015. Hadiah itu termasuk patung dua kuda terbuat dari perak berlapis emas, juga berlian, perhiasan Tsavorits, batu safir kuning, batu rubi dan batu permata lainnya. Juga satu set pemukul golf dan tasnya.

Arab Saudi dikenal paling sering memberi hadiah di antara negara-negara Timur Tengah, memberi hadiah selama 9 bulan dari 12 bulan dalam tahun 2015. Termasuk hadiah jam meja merk Thomas Mercer seharga $ 160 ribu dari Raja Salman bin Abdulaziz kepada Wakil Presiden AS Joe Biden. Sebuah pedang berhiaskan emas, perak dan rubi dan permata lain seharga $ 87 ribu juga diberikan oleh Pangeran Mohammad bin Naif kepada Presiden Barrack Obama.

Sementara itu, Qatar adalah negara Timur Tengah kedua yang memberikan banyak hadiah dengan nilai total $ 254 ribu. Hadiah yang paling berharga adalah dua patung burung berlapis emas yang diberikan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani kepada Presiden Obama dan ibu negara Michelle Obama. Setiap patung burung diperkirakan berharga $ 110 ribu.

Secara keseluruhan, Michelle Obama menerima hadiah $ 142 ribu. Wapres Joe Biden menerima $ 212 ribu dan Jill Biden istrinya menerima $ 21 ribu. Staf Gedung Putih lainnya juga menerima hadiah bernilai $ 85 ribu. Termasuk Menlu AS John Kerry yang menerima hadiah dari koleganya dari Timur Tengah bernilai $ 73 ribu.

Seluruh detil pemberian hadiah itu diungkapkah oleh Departemen Luar Negeri AS, awal bulan ini. Seluruh hadiah itu akan disumbangkan kepada Badan Arsip dan Rekam Nasional AS, dan ada beberapa hadiah yang akan dipajang di galeri agar dapat dilihat umum.

IL

Recent Posts

Perempuan dan Masa Depan Diplomasi

Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…

7 days ago

Wajar Bukan Berarti Benar

Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…

1 week ago

Anak Jaksel Berkarier di The New York Times

Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…

3 weeks ago

40 Hari Mengenang James F. Sundah, Beasiswa Riset Hak Cipta Diluncurkan

Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…

4 weeks ago

Cerita Chef Diaspora Bikin Kuliner Nusantara Mendunia

Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…

1 month ago

Diaspora Global Summit 2: Dari Brain Drain Menuju Brain Gain

Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…

1 month ago