Patung rasialis diturunkan di New Orleans

Patung Jenderal PGT Beauregard, monumen yang melambangkan negara konfederasi AS diturunkan dari Kota New Orleans, Lousiana, Rabu pagi buta (17/5/2017). Kantor berita Associated Press mengabarkan, penurunan itu dilakukan para petugas kota, disaksikan sejumlah pendukung negara konfederasi yang menancapkan bendera palang merah biru. Penurunan Jenderal Beauregard dimungkinkan, setelah mendapat persetujuan dari Dewan Kota New Orleans.

 

‘’Hari ini kita mengambil langkah baru untuk menyongsong era baru ke depan,’’ tulis Walikota Mitch Landrieu dalam pernyataan resminya. ‘’Meski kami menghormati sejarah, kami tidak diizinkan menerapkan pemerintahan Konfederasi lagi di New Orleans,’’ sambungnya.

Dewan Kota New Orleans menyetujui pembongkaran tiga monumen Konfederasi pada tahun 2015. Walikota Landrieu menyebut pembongkaran monumen itu untuk menghapus kisah pembantaian 9 warga kulit hitam penganut sebuah gereja di South Carolina. Pembunuhnya, Dylann Roof, yang dikenal rasialis membawa bendera merah palang biru. Foto bendera yang melambangkan Konfederasi itu, meletupkan sikap rasialisme Amerika.

 

 

Para pekerja yang menurunkan patung Jenderal PGT Beauregard, juga menutup wajah mereka dengan cadar dan menutupi kepalanya dengan helm, agar tidak mencolok bagi sebagian warga New Orleans yang rasialis. Penurunan itu juga dilakukan pukul 3.00 dinihari. Jenderal PGT Beauregard adalah komandan penyerangan di Fort Sumter, South Carolina yang menandai pecahnya perang saudara di AS. Patung Jenderal Beauregard, dipasang sejak tahun 1915, dan terletak di tengah kota dekat jalur masuk Taman Kota New Orleans dan Museum Seni New Orleans. Dua patung lainnya telah diturunkan tahun lalu.

.

Recent Posts

Indonesia Tak Masuk Daftar 75 Negara yang Kena Pembatasan Visa Imigran Trump

Kebijakan yang sempat menghentikan penerbitan immigrant visa bagi warga 75 negara akhirnya dibatalkan hakim federal…

15 hours ago

Kisah Piping Si Pemburu Ombak

Apa yang dirisaukan para peselancar? Jawabnya pasti, ”Tak ada ombak besar!” Semakin ganas ombak, adrenalin…

1 week ago

Perempuan dan Masa Depan Diplomasi

Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…

2 months ago

Wajar Bukan Berarti Benar

Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…

2 months ago

Anak Jaksel Berkarier di The New York Times

Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…

2 months ago

40 Hari Mengenang James F. Sundah, Beasiswa Riset Hak Cipta Diluncurkan

Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…

2 months ago