Frank Giaccio Bocah Pemotong Rumput Gedung Putih

Frank Giaccio, bocah berusia 11 tahun terperanjat saat didatangi dan diajak bicara Presiden Donald Trump, ketika ia asyik memotong rumput halaman Gedung Putih.

ABC News melaporkan Jumat (15/9/2017), Trump menepuk punggung dan memberi salam ‘High Five’ kepada Frank. ‘’Inilah masa depan negara. Kita benar-benar beruntung,’’ kata Trump kepada wartawan. Frank Giaccio, bocah asal Falls Church, Virginia itu mengaku ingin menjadi anggota satuan khusus US Navy Seal. ‘’Dia akan terkenal, dan suatu hari kelak bisa menjadi anggota US Navy Seal. Dia akan menjadi orang besar,’’ kata Trump kepada wartawan.

Frank Giaccio berhasil menjadi petugas pemotong rumput Gedung Putih, setelah ia mengirim surat kepada Presiden Trump. Dalam suratnya yang dikirim awal tahun 2017 itu, Frank menyatakan ingin memotong rumput Gedung Putih beberapa akhir pekan. ‘’Meski saya baru berusia 10 tahun, saya ingin menunjukkan pada negara AS, bahwa bocah muda seperti saya siap membantu AS,’’ tulis Frank yang juga kerap memotong rumput tetangganya. ‘’Saya bawa ekstra bensin dan aki untuk keperluan itu. Saya berikan jasa saya secara cuma-cuma,’’ tulis Frank yang memuja Donald Trump yang berlatar belakang bisnis itu. ‘’Saya juga mulai berbisnis,’’ tulisnya.

Surat itu, ternyata ditanggapi oleh Sarah Sanders, sekretaris pers Gedung Putih dan menyatakan Presiden Trump juga setuju Frank bekerja jadi tukang potong rumput. Setelah tugasnya selesai, Presiden Trump mengundang kedua orang tua Frank ke dalam ruang kerja kepresidenan Oval Office. Dalam kesempatan itu, Frank juga bertemu dengan Wakil Presiden Mike Pence dan bertemu dengan para wartawan Gedung Putih. Untuk pekerjaannya itu, Frank minta bayaran normal saja. Cuma $ 8.00 atau sekitar Rp 100 ribu. Entah kenapa Frank akhirnya memasang tarif, padahal dalam suratnya ia bersedia memberi gratis.

.

Recent Posts

Perempuan dan Masa Depan Diplomasi

Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…

7 days ago

Wajar Bukan Berarti Benar

Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…

1 week ago

Anak Jaksel Berkarier di The New York Times

Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…

3 weeks ago

40 Hari Mengenang James F. Sundah, Beasiswa Riset Hak Cipta Diluncurkan

Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…

4 weeks ago

Cerita Chef Diaspora Bikin Kuliner Nusantara Mendunia

Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…

1 month ago

Diaspora Global Summit 2: Dari Brain Drain Menuju Brain Gain

Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…

1 month ago