Romo Magniz Suseno menggerundel saat menghadiri Misa Natal di sebuah gereja di Jakarta. Pastor Katolik asal Polandia itu mengeluarkan unek-uneknya di Majalah Hidup, sebuah majalah komunitas Katolik Indonesia. Menurutnya, saat menghadiri misa Natal di sebuah gereja di Jakarta, Magniz merasa terkejut. ”Saat komuni suci dibagikan, seorang bapak dari paduan suara menyanyi solo dengan sangat ekspresif. Setelah selesai, dengan penuh semangat umat bertepuk tangan,” sambungnya. ”Dan itu terjadi pada saat komuni dibagi!” lanjut tulisan itu.
Bagi Franz Magniz Suseno yang menjadi pastor Serikat Jesuit sejak 1955, upacara komuni dinilai sangat sakral. Maklum, komuni atau roti tanpa ragi, diyakini sebagai tubuh dan darah Yesus Kristus. Perubahan roti menjadi tubuh Yesus terjadi pada saat konsekrasi.
”Andaikata saya memimpin upacara misa malam itu, saya akan langsung menghentikan seluruh pembagian komuni,” tulis romo asal Polandia yang menjadi warganegara Indonesia tahun 1977 itu. ”Saya akan minta umat untuk sama-sama mengucapkan Doa Tobat,” lanjut Romo Magniz yang dikenal sebagai budayawan itu.
Lebih lanjut, Magniz Suseno menuliskan bahwa tepuk tangan pada perayaan ekaristi adalah kesesatan penghayatan yang memalukan. Terutama bagi mereka yang tidak bisa membedakan antara ibadat yang diarahkan kepada Allah dan acara hiburan. ”Apakah mereka lupa bahwa seluruh pemeran ekaristi, mulai pastor, pengkotbah, peserta paduan suara dan umat, adalah memberikan pelayanan tanpa pamrih demi kemuliaan Tuhan,” tulis Romo Magniz, yang mendapat penghargaan Bintang Mahaputra tahun 2015 lalu.
”Apakah para penyanyi paduan suara lupa bahwa tugas mereka adalah membuka hati umat Tuhan dengan keindahan lagu-lagu mereka,” sambungnya. Selanjutnya, Romo Magniz mengusulkan agar tepuk tangan itu bisa dilakukan di akhir ibadah, pada saat pastor pemimpin misa mengucapkan terima kasih.
Pastor Magniz juga mengingatkan pula bahwa upacara pernikahan yang berlangsung dalam sebuah misa ekaristi harus berupa pujaan kepada Allah. ”Seluruh perayaan harus berupa pujaan kepada Allah. Bukan pemanis bagi kedua mempelai,” tulis Romo Franz Magniz Suseno, 82 tahun kelahiran Bożków, Lower Silesia, Polandia bernama lengkap Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis und Strassnitz.
Dalam suratnya itu, Romo Magniz menyebutkan bahwa pastor setempat pernah memperingatkan umatnya tentang tepuk tangan itu, namun tetap saja tanpa hasil. Bahkan, menurut pastor paroki setempat, seseorang yang hendak menerima komuni suci, tiba-tiba bertepuk tangan lebih dulu. Kesimpulannya, boleh bertepuk tangan di akhir misa kudus saja. Jangan di saat misa atau komuni berlangsung. (DP)
oleh: Nuria Soeharto Setelah tayang perdananya di Forum Papua Barat, di Auckland, Selandia Baru, pada…
Bagi ratusan ribu imigran muda yang dikenal sebagai Dreamers, Amerika selama bertahun-tahun terasa seperti rumah,…
Washington D.C. - On Monday, May 4th at the National Press Club, journalists, reporters, and…
On Friday, May 8th, at Xfinity Live! Casino & Hotel, business leaders, community members, and…
On Wednesday, May 6th, at Ballers Philadelphia, a social sports club in Fishtown, tech entrepreneurs…
Ketika banyak kota tuan rumah FIFA World Cup 2026 mulai menaikkan tarif transportasi umum demi…