Banyak penumpang bis kota di New York tidak bersedia membayar ongkos bis kota. Hal itu diungkap oleh Andy Byford, pimpinan sistem angkutan bis dan kereta bawah tanah NY. ”Benar-benar tidak bisa diterima,” kata Andy. ”Bahkan jumlahnya dua kali lipat dibandingkan kota-kota lain di dunia,” lanjutnya dengan nada kesal.
Hal itu dibenarkan oleh Otoritas Transportasi Metropolitan, MTA, pengelola jaringan bis kota dan kereta bawah tanah New York. Gara-gara ulah penumpang itu, pihak MTA tak mampu menutup biaya operasional sebesar $ 225 juta tahun lalu, dan selalu merugi.
Harian New York Times mengungkapkan, penumpang punya berbagai alasan agar tidak membayar. Mulai tidak punya uang kecil, hingga tidak punya uang. Lagipula harga transportasi umum selalu naik tiap tahunnya. Harganya bervariasi, mulai dari termurah $ 2.75 (Rp 38.500) hingga termahal sekitar $ 6.00 (Rp 84 ribu), tergantung jarak yang dituju.
Menghadapi penumpang yang rewel atau ngemplang, biasanya pengemudi akan menekan tombol F5 di dashboard pengemudi. Pengemudi atau pihak pengelola MTA bisa memantau berapa banyak penumpang yang nakal atau pura-pura miskin.
Tidak seperti di Indonesia, pengemudi bis kota di AS, berfungsi ganda: Yakni, sebagai kondektur dan pengemudi. Mereka tidak memegang uang tunai untuk keperluan operasional sehingga tidak diperkenankan memberi uang kembalian. Karena itu setiap penumpang yang hendak naik transportasi umum, diminta mempersiapkan diri dengan menyediakan uang receh, kalau tidak mau rugi.
Penumpang akan masuk lewat pintu depan, dan memasukkan ongkos perjalanan. Bila sampai ke tempat tujuan, mereka menuju ke pintu belakang untuk turun.
Dari tombol F5 itulah, ketahuan bahwa satu dari lima penumpang bis kota di New York suka ngemplang. ”Biasanya, pengemudi tak mau ambil resiko atau bertengkar, sehingga meloloskan penumpang yang model begitu. Atau jatuh kasihan pada penumpang yang mengalami kesulitan,” kata Harry Schruggs, salah seorang mantan pengemudi MTA.
Gubernur New York, Andrew M. Cuomo menekan pihak pengelola transit umum untuk menanggulangi krisis yang menimpa kota metropolitan berpenduduk 9 juta jiwa. Mayoritas dari penduduknya menggunakan transportasi umum karena kemacetan lalu lintas dan tingginya ongkos parkir – sekitar $ 15.00 atau Rp 200 ribu per jam. Belum jelas bagaimana pihak MTA menanggulangi kasus ini.
Hal itu juga dialami transportasi kereta bawah tanah walau sudah memagari penumpang dengan pagar pembayaran ongkos kereta yang kokoh terbuat dari besi. Loncat pagar, lazim dilakukan oleh para penumpang nakal, walau di siang bolong, lebih-lebih bila petugas sedang lengah. (DP).
Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…
Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…
Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…
Sekitar 237 orang yang menjadi korban penipuan investasi bodong di AS, bisa bernafas sedikit lega.…
Datang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bukan hanya soal mengejar mimpi. Bagi banyak pendatang…
Komunitas Indonesia di Philadelphia kembali berduka. Nathali, seorang perempuan diaspora Indonesia berusia 72 tahun, meninggal…