Makin Banyak Warga Asia Amerika Menjadi Pejabat Eksekutif

Kini, walikota di AS yang berdarah Asia, bertambah empat lagi. Mereka adalah Ty Penserga, mantan guru yang menjadi Walikota Boyton Beach City, Florida; lalu Michelle Wu, wanita Asia yang menjadi Walikota Boston, Massachusetts; kemudian Aftab Pureval, berdarah India-Tibet yang menjadi Walikota Cincinnati, Ohio; dan Bruce Harrell Walikota Seattle, negara bagian Washington.

Terpilihnya keempat warga Asia Amerika itu, cukup membanggakan banyak pihak, mengingat selama ini belum ada warga Asia menduduki jabatan eksekutif. ‘’Biasanya yang terpilih nama-nama Irlandia dan sudah kondang,’’ kata Aftab Pureval kepada NBC Asian America.

Pengamat politik AS menilai, hal itu mencerminkan bangkitnya generasi muda Asia Amerika, yang berperan aktif di bidang politik. ‘’Sekaligus membuktikan anggapan bahwa warga Asia Amerika tidak memiliki kemampuan sebagai pemimpin, seperti para pendahulunya,’’ tulis NBC News.

Jika diperhatikan, mereka adalah generasi kedua, yang menjadi tulang punggung para kandidat walikota. ‘’Mereka adalah para kandidat yang telah lama menjadi pejabat lokal, dan berhasil membangun fondasi kuat untuk menjadi politikus AS lebih tinggi,’’ ujar Karthick Ramakrishnan, pendiri dan direktur riset AAPI Data.

Secara historis, komunitas Asia Amerika juga tidak pernah berhasil dalam pemilihan tingkat walikota. Hanya 6 walikota yang belakangan memimpin 100 kota-kota besar di AS. Semuanya berpusat di California dan Texas. 

Sementara itu Pawan Dhingra, profesor American Study di Amherst College mengungkapkan, para calon eksekutif berasal dari generasi muda. ‘’Mereka tidak lagi menanggung beban seperti orang tuanya yang masih merasa mereka bukan atau belum menjadi bagian dari warga AS,’’ kata Pawan Dhingra.

Ada yang beranggapan selama beberapa dekade, warga Asia Amerika dinilai sebagai warga kelas rendah yang hanya menunduk dan tidak mampu memimpin. Namun hal itu dibantah Pawan Dhingra. ‘’Justru sentimen rasialis Anti-Asia memacu banyak warga Asia Amerika agar suara mereka lebih didengar. Mereka itulah yang biasanya bersuara lantang di media massa menuturkan kisah mereka. Sebelummya orang tuanya tidak berani,’’ tutur Pawan Dhingra menambahkan.

‘’Kali ini merupakan momen monumental bagi kaum Asia-Amerika,’’ tutur Madalene Mielke, presiden dan CEO the Asian Pacific American Institute for Congressional Studies.

Hal yang sama juga diutarakan Diana Hwang. Pendiri dan Eksekutif Asian American Political Initiative, AAWP ini mengungkapkan Michelle Wu, walikota berdarah Taiwan, mampu menghancurkan tradisi 200 tahun di Boston, yang dijabat kaum pria kulit putih. ‘’Wu menunjukkan bahwa kalian bisa berbuat lain. Ada anggapan para pemimpin politik selalu pria dan kulit putih serta bersuara lantang. Dia berani mengatakan: Saya bukan mereka!!!,’’ kata Diana Hwang bangga. (DP)

.

View Comments

Recent Posts

Perawat Asal Indonesia Ditangkap ICE Saat Hendak Berlibur ke Disneyland

Monica Ryadi telah tinggal di Amerika Serikat sejak berusia 9 tahun dan mendapat perlindungan Withholding…

2 days ago

Home Is Where the Heart Is

Ketika Diaspora Memilih Indonesia untuk Menjalani Masa Pensiun Keinginan untuk pulang biasanya datang perlahan. Mula-mula…

6 days ago

Aturan Baru “Public Charge” Digugat Sejumlah Negara Bagian

Aturan baru dapat membuat penggunaan sejumlah bantuan pemerintah ikut dipertimbangkan dalam permohonan green card. Namun,…

2 weeks ago

Isu Visa Revoked

Beberapa waktu terakhir, beberapa teman menerima email dengan subjek “U.S. Visa Revocation Notice…” yang dikirim…

3 weeks ago

Philadelphia Rilis Laporan Tingkat Kematian Ibu Hamil, Overdosis Jadi Salah Satu Penyebab Utama

Departemen Kesehatan Masyarakat Philadelphia (Philadelphia Department of Public Health/PDPH) merilis laporan terbaru mengenai tingkat kematian…

4 weeks ago

Benarkah Imigran Membebani Amerika? Di Balik Dalih Visa Trump dan Dampaknya bagi Indonesia

Pemerintahan Donald Trump menggunakan ancaman “public charge” untuk menghentikan visa imigran dari 75 negara. Namun,…

4 weeks ago