Sejumlah perempuan Iran ramai-ramai mengendarai sepeda melakukan protes terhadap fatwa Ayatollah Ali Khamenei yang melarang kaum hawa bersepeda.
Deutsche Welle mengabarkan Jumat (23/9/2016), fatwa yang dikeluarkan Ali Khamenei itu menyebutkan, ‘’Mengendarai sepeda acapkali menarik perhatian kaum pria dan mencerminkan komunitas pada perilaku korupsi, dan bertentangan dengan kesucian kaum perempuan,’’ bunyi fatwa yang dikeluarkan 10 Septembe lalu. ‘’Karena itu kebiasaan bersepeda harus segera ditinggalkan,’’ lanjut fawa yang disiarkan di seluruh media Iran.
Menanggapi hal itu, sejumlah kaum hawa mengendarai sepeda di Kota Marivan, Utara Iran. Bahkan banyak di antaranya yang merekam mereka tengah bersepeda sambil menutupi wajahnya dengan selendang dan diunggah di Facebook. Salah satu di antaranya diunggah di halaman bertema ‘’Kebebasan yang Tersembunyi’’ milik Masih Alinejad, salah seorang wartawati Iran yang sangat kritis.
Sebuah video menampilkan seorang perempuan muda bersama ibunya naik sepeda keliling kota Kish, sebuah pulau kecil di Teluk Persia. Mereka mengaku langsung menyewa sepeda begitu mendengar fatwa Ali Khamenei. ‘’Bersepeda adalah bagian hidup kami. Bersepeda merupakan hak-hak kami dan kami tidak akan menyerah,’’ kata perempuan yang tak disebut namanya tersebut.
‘’Benar-benar memalukan kaum hawa mendengar fatwa anti-perempuan di abad ke-21 ini,’’ kata Alinejad kepada Deutsche Welle. Masih Alinejad yang kini tinggal di New York merasa yakin, perlawanan kaum perempuan Iran kali ini membawa hasil. ‘’Saya yakin akan membawa perubahan. Kaum hawa adalah sumber perubahan begitu mereka merasa dipojokkan dari Republik Islam Iran,’’ kata Masih Alinejad.
Meski belum jelas bagaimana fatwa itu akan diterapkan, sekelompok perempuan di Kota Marivan dikabarkan ditangkap saat bersepeda, akhir Juli lalu. Mereka ditahan dan diminta agar tidak mengulangi lagi perbuatannya. Padahal beberapa tahun lalu, sebuah kampanye penggunaan sepeda digalakkan untuk mengurangi polusi udara di beberapa kota Iran, sehingga banyak lelaki maupun perempuan makin sering menggunakan sepeda angin.
Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…
Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…
Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…
Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…
Sekitar 237 orang yang menjadi korban penipuan investasi bodong di AS, bisa bernafas sedikit lega.…
Datang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bukan hanya soal mengejar mimpi. Bagi banyak pendatang…