Press "Enter" to skip to content

Kisah Apes 2 turis Indonesia di Meksiko

Setelah lebih dari 48 jam berada dalam tahanan kejaksaan, dua turis asal Indonesia Abraham Theodoric (28) dan Alexander Tiu (40), akhirnya dibebaskan. Kedua wisatawan ini sempat dituduh merusak cagar budaya di Meksiko, namun kemudian dibebaskan oleh pengadilan federal negara bagian Tabasco. “Mereka tidak terbukti melakukan perusakan benda cagar budaya di Insitut Nasional dan Arkeologi Sejarah Meksiko atau INAH,” ujar juru bicara KBRI.

KBRI lebih lanjut menyatakan bahwa kedua turis itu ditahan polisi Negara bagian Tabasca tanggal 3 Oktober 2018, karena petugas keamanan museum La Venta, Villahermosa mengganggap mereka telah mengotori 15 artefak para-hispanik. Bercak minyak ditemukan di ke-15 artefak  yang dipasang di tempat terbuka tersebut. Petugas juga menemukan sebotol minyak pembersih pada saudara AT dan AJ, dan bukti itu dijadikan alasan untuk menahan kedua orang itu. Dengan kcdua bukti itu pihak INAH yang mengelola museum La Venta memanggil polisi untuk menahan keduanya dan melaporkan keduanya ke KBRI  Mexico City. “Sesuai hukum di Meksiko, keduanya ditahan untuk penyelidikan selama maksimum 48 jam,’ tutur juru bicara KBRI.

Untuk memastikan keduanya mendapatkan perlakuan yang baik selama di tahanan, KBRI telah meminta Jeanne Rimber Indy, seorang WNI yang tinggal di Villahermosa yang berada sekitar 872 km dari Mexico City, untuk mendampingi Abraham dan Alexander. Staff KBRI juga membantu kedua turis tersebut dan bertindak sebagai penerjemah karena mereka tidak bisa berbahasa Spanyol.
Setelah dikeluarkan dari tahanan pada tanggal 6 Oktober, keduanya akan melanjutkan perjalanan di Meksiko sebelum pulang ke tanah air.

Selama proses pra peradilan, ternyata tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat untuk menahan kedua wisatawan itu. Saksi-saksi dan bukti-bukti yang disampaikan INAH tidak ada yang dapat menunjukkan bahwa Abraham dan Alexander benar-benar telah mengotori artefak tersebut.

Mengomentari kisah apes 2 turis ini Evi Siregar, seorang WNI yang tinggal di Mexico City mengomentari bahwa sebaiknya turis Indonesia tidak membawa apa-apa jika akan mengunjungi museum atau ke gedung pemerintah. Dosen di El Colegio de Mexico, satu universitas negeri yngg berfokus pada studi sosial dan humaniora ini menambahkan bahwa air minumpun sebaiknya tidak dibawa masuk. “ Kita harus menghormati peraturan di tempat itu, seperti pelarangan mengambil foto. Kebiasaan orang indonesia, kalau jalan2 di luar negeri, semua dibawa di dlm tas, termasuk paspor dan uang. Kalau kehilangan kan repot sendiri,” tuturnya.

Evi yang sudah tinggal di Mexico selama 21 th ini juga juga menyesalkan terjadinya kejadian itu dan mengingatkan agar turis Indonesia  bertingkah laku seperti orang dewasa. “kalau harus jaga jarak ya jaga jarak, dan jangan berbuat sesuatu yg mencurigakan,” tambahnya.

“Berada di mana pun, apalagi di luar negeri yang bawa nama negara, kita harus menunjukkan kita ini berbudaya tinggi dan berpendidikan,” tambah lulusan Sastra Indonesia Universitas Indonesia itu yang sedang menyelesaikan program doktoral di Universitas La Salle itu.

Indah Nuritasari