Press "Enter" to skip to content

Empat Bule Jerman ini ternyata ‘Arek Jawa Timur’

Di antara warga asing di Indonesia yang fasih berbahasa daerah adalah Keluarga Scheunemann dari Jerman. Mereka bahkan menyebut diri sebagai bule terlama yang tinggal di Indonesia, dan sangat fasih berbahasa Jawa Timur. Seperti diketahui, logat Jawa Timuran merupakan logat Jawa yang dikenal urakan tanpa basa-basi, bahkan seringkali berisi guyonan.

 

”Papa masuk ke Indonesia pada tahun 1957,” tutur Rainer Scheunemann, salah satu dari empat bersaudara dalam wawancara di acara Merah Putih di televisi Trans-7. ”Kecuali saya yang dibuat di Indonesia, tapi lahir di Jerman,” timpal yang lain disertai gelak tawa. Maklum keempat bersaudara itu semua lahir di Indonesia. Tomi dan Silke, kakak perempuannya lahir di Kediri, sementara Rainer lahir di Turen, Malang, Jawa Timur.

Tak mengherankan bila mereka semua fasih bahasa Jawa Timuran. Malah mereka mengaku lebih fasih bahasa jawa dibandingkan bahasa Jerman. ”Kalau ketemu bule Jerman, pasti ditanya asal dari mana, karena logat saya kedengaran Jawa asli,” tutur Tomi.

Mereka semua adalah warga negara Jerman, kecuali Suez, kakak tertua mereka menyandang warganegara Indonesia. ”Paspor hanya selembar kertas, hati kita masih Indonesia,” tutur Tomi Scheunemann pelatih Persiba.

Menurut penuturan mereka ke Deddy Corbuzier, pemandu acara Merah Putih, orang tua mereka selalu meminta agar berbaur dengan penduduk setempat. Bahkan, karena begitu lekat rasa persaudaraan dengan penduduk setempat sampai-sampai mereka tidak betah berada di lingkungan warga Jerman di Indonesia. ”Saya pernah disekolahkan di sekolah Jerman di Jakarta,” tutur Rainer. ”Namun setelah tiga bulan, saya tidak betah dan pulang ke Malang, untuk bersekolah di sekolah warga setempat,” sambungnya.

Sebagai orang asing di Indonesia, mereka diizinkan menempuh pendidikan di sekolah Indonesia mulai dari SD sampai SLTA. ”Setiap hari Senin saya mengikuti upacara bendera dan mencium bendera merah putih,” tutur mereka. Namun untuk perguruan tinggi, mereka harus mendapatkan izin dari seorang menteri ”Waktu itu, saya bisa bersekolah di Bandung atas izin dari Menteri Keuangan Radius Prawiro,” tutur Rainer.

Seringkali mereka diomongin warga Indonesia yang tidak tahu bahwa mereka bisa bahasa Jawa. ”Suatu saat ke warung, pemiliknya bergumam, naikin harganya,” kata Tomi dalam bahasa Jawa Timuran. ”Tapi saya tidak ambil peduli, dan saya tetap memberikan uang sesuai yang diminta. Kalau saya bongkar, mereka pasti malu, jadi saya biarkan saja,” kata Tomi pelatih Persiba.

Lain halnya dengan Rainer. Saat di dalam angkot, ia diomongin dua orang ibu yang bergunjing. Namun setelah sampai tujuan, ia turun sambil mengucapkan, ”Matur nuwun (terima kasih). Monggo,” kata Rainer. Wajah kedua ibu itu pucat pasi dan berubah merah karena malu. Mari kita nikmati rekaman video yang viral dan ditonton oleh jutaan penonton.(DP).