Press "Enter" to skip to content

Ia Takut Mengkhianati Affandi

Cerita sopir Affandi tentang kerja melukis Affandi dari1961 hingga akhir 1980-an. Dari Affandi kesengsem dengan modelnya sampai soal lukisan palsu.

Sopir itu mengira hubungannya dengan seorang pelukis besar selesai sudah begitu sang pelukis berpulang, Mei 1990. Suhardjono, sopir itu, bersiap merencanakan membuka usaha dengan modal tabungan hasil menjadi sopir Affandi, pelukis besar itu, sepanjang hampir 30 tahun. Ternyata tidak. Djon, begitu ia dipanggil, memang putus hubungan dengan sang pelukis sudah, namun tidak dengan lukisan-lukisannya.

Suhardjono, asisten dan sopir Affandi (detik.com)

Di zaman ketika harga lukisan Affandi meroket karena terbatasnya jumlah lukisan dan tingginya permintaan, muncullah lukisan-lukisan “Affandi” yang entah dibuat oleh siapa. Syahdan, pintu rumah Djon sering diketuk ketika pembeli lukisan Affandi ingin kepastian apakah yang dibelinya karya autentik Affandi atau buatan orang lain alias lukisan Affandi palsu. (halaman 212).

Masuk di akal orang datang kepada Djon untuk masalah autentik tidaknya sebuah lukisan Affandi. Ia, sejak 1961 hingga Affandi tiada, bukan sopir biasa. Bisa dibilang sejak tahun itu tak ada lukisan Affandi lahir tanpa Djon menyaksikannya. Bukan hanya menyaksikan; dialah yang menyiapkan kanvas, serta cat dan minyak cat.

Dia juga yang sigap mengambilkan tube cat warna tertentu sesuai keinginan sang pelukis. Lama kelamaan, lulusan SMP Taman Siswa, Yogya, 1953 ini merasa tahu ciri lukisan Affandi dengan cerita latar belakang karya itu. Dalam perjalanan Affandi kerja melukis di seantero Indonesia dan di negara-negara lain, Djon tak terpisahkan: ia ikut senang bila Affandi senang, ia pun kelaparan bila Affandi kehabisan uang.

Djon juga yang menghubungi model untuk lukisan, dan tak jarang Djon ikut pula mencicipi bila sang pelukis berkehendak dengan modelnya. Tulis Djon beberapa tahun lalu: “Saya bagaikan nyawa kedua […] Affandi. Bahkan ada yang menyebut saya Djon Affandi.” (lihat Hendro Wiyanto dan Hari Budiono, dia datang, dia lapar, dia pergi, penerbit Agung Tobing, 2014).

Witnessing Affandi. Thirty years assisting Indonesia’s master painter By Suhardjono. As told to Jeremy Allan. Penerbit: Lans Brahmantyo, Afterhours Book, 2018, 273 halaman.

Buku Witnessing Affandi diterbitkan dengan niat mencatat pengalaman “nyawa kedua” itu bersama “nyawa pertama”. Di belakang gagasan ini, dan yang kemudian menghimpun dana penerbitannya, adalah kolektor yang namanya tak tercantum dalam buku: Erik Tan, nama yang membawa Pocari Sweat ke Indonesia. Kata Erik kepada Tempo: “Satu kawan baik saya menganjurkan, Pak Djon selagi masih hidup dibukukan saja. Dia ini hebat, tahu secara terperinci lukisan Affandi, ini [lukisan] Kiara Condong, kalau ini [lukisan] Desa Nggremeng.”

Akhirnya buku terbit, tahun lalu, dalam bahasa Inggris. Cerita Pak Djon tentang Affandi ditulis kembali oleh Jeremy Allen, penulis Kanada yang telah menerbitkan buku, antara lain Jakarta Jive Bali Blues (2013). Ia mengaku mengagumi Affandi sejak lama.

Berkaitan dengan Suhardjono, buku ini bukan yang pertama tentang kerja melukis Affandi sebagaimana disaksikan oleh sopir tersebut yang menemani (dan mencarikan kebutuhan Affandi, apa pun) ke mana pelukis itu pergi. Empat tahun sebelumnya, sudah disinggung di paragraf sebelumnya, terbit buku dia datang, dia lapar, dia pergi, ditulis oleh Hendro Wiyanto dan Hari Budiono.

Affandi (kanan) di sebuah pameran di Paris, 1953 (affandi.org)

Bedanya, buku Hendro dan Hari dalam bahasa Indonesia, dan Suhardjono ditampilkan sebagai orang pertama. Secara garis besar, dalam dua buku ini tuturan Pak Djon mirip. Bahkan kedua buku diawali dengan cerita sama: Affandi bersama seorang pemuda datang di rumah Pak Djon naik becak, untuk meminta Pak Djon menyopiri mobil Affandi.   

Kedua buku pun selain teks memuat juga sejumlah foto dokumentasi dan reproduksi lukisan Affandi. Dalam dia datang, dia lapar, dia pergi, desain buku lebih sebagai buku teks, dengan foto dan reproduksi lukisan yang tampaknya dipilih yang erat terkait dengan isi buku, termasuk dua reproduksi lukisan Suhardjono. Salah satu lukisan itu, lebih sebagai sketsa dengan supidol atau cat satu warna, seperti menggambarkan Affandi sedang melukis.

Buku Witnessing Affandi didesain lebih sebagai buku dengan banyak reproduksi lukisan dan foto-foto Suhardjono dulu dan kini — sebuah coffe table book yang direncanakan dengan rapi dan enak dilihat. Namun, dalam hal terkait reproduksi itulah Witnessing Affandi mengundang diskusi.

Menurut Erik Tan, semua reproduksi lukisan Affandi dalam buku dipilih oleh Djon. Lukisan yang direproduksi datang dari beberapa kolektor, dan nama-nama kolektor itu Suhardjono juga yang menyebutkan. Pemilihan berdasarkan foto, dan hanya bila Djon ragu lukisan diperlihatkan.

Lukisan yang dipilih lalu dikomentari oleh Djon, dalam bahasa Indonesia dan ditulis tangan dengan bagus namun pemakaian titik dan koma, juga huruf besar, banyak yang menyalahi aturan penulisan bahasa yang baku. Misalnya komentar lukisan potret diri di halaman 86: “lukisan ini dilukis di Pasar Ubud Bali. Pada waktu itu Affandi ada di Ubud Bali untuk melukis untuk persiapan pameran ulang tahunnya di Taman Ismail Marjuki jakarta.”

Terkesan kemudian, tulisan tangan Suhardjono seperti mengabsahkan bahwa lukisan yang direproduksi itu autentik Affandi. Semua lukisan milik pribadi kolektor diberikan komentar. Yang milik museum, misalnya Museum Neka dan Museum Rudana, tanpa komentar. Bukankah hal itu menimbulkan syak wasangka bahwa komentar itu bentuk lain dari yang lazim disebut sertifikat, yang menyatakan bahwa lukisan tersebut dalam autentik? Lalu koleksi kedua museum tersebut? Saya menduga Neka dan Rudana tak perlu komentar dari Djon karena mereka membeli langsung dari Affandi.

Boleh jadi soal komentar itu hanya suatu kebetulan, tapi kebetulan yang merugikan. Saya kira ini terjadi karena Erik Tan setidaknya, mengaku mempercayakan soal autentik tidaknya lukisan sepenuhnya kepada Djon. “Bagi saya, dia figur yang luar biasa. Ada melesetnya, kadang juga lupa. Tapi, ilmu 30 tahun bersama itu tak ada satu kurator pun yang bisa menandinginya.,” kata Erik dalam wawancara dengan Tempo.

Suhardjono, 23 Maret bulan depan genap 85 tahun. Setahu saya, ia tak membuat catatan harian selama membantu Affandi. Jadi, ingatannya tentang Affandi dan lukisannya bisa jadi memang luar biasa. Namun, membaca transkrip wawancara Tempo dengan salah seorang santri di Pondok Pesantren Sepuh, Payaman, Magelang ini Suhardjono memang dibebani rasa sungkan.

Misalnya, tentang lukisan Affandi bertema Prambanan, ia katakan “Saya sudah mewanti-wanti Pak Erik agar tidak memasukkan [ke dalam buku] lukisan tiruan, palsu bertema Prambanan yang jomplang dengan lukisan asli Affandi […] Saya ini sudah tua dan takut mengkhianati Affandi.” Tapi ia juga menyatakan bahwa “Semua lukisan yang [reproduksinya] ada di buku itu baik. Saya deteksi itu orisinil. Pak Erik pinjam lukisan dari kolektor.”

Kusuma Affandi muda (wikipedia)

 

Menurut Allan dalam tulisannya, Affandi dan Djon memang pernah blusukan di Prambanan karena kecewa: sedianya Affandi hendak melukis pasar hewan Prambanan tapi pasar hari itu tutup, tidak buka. Mereka lalu nongkrong di sebuah warung, dan Djon bercerita tentang Candi Prambanan, tentang sebuah arca yang menggambarkan Batari Durga yang seksi, yang karena mentertawai Batara Siwa yang gagal mengejar Dewi Widowati, Durga dikutuk Sang Hyang Wenang menjadi raksesi. Lalu Affandi meminta Djon menyiapkan alat-alat melukis dan masuk Prambanan. Tak ada cerita kelanjutannya, apakah Affandi benar melukis Prambanan, dan apa yang dilukisnya.

Djon yang sama menceritakan hal yang sama tapi tak serupa dalam buku aku datang, aku lapar, aku pergi. Cerita Djon tentang Durga disampaikan sesudah mereka berada di dalam Prambanan, karena Affandi bertanya arca siapa sambil menunjuk arca Durga. Dan kemudian Affandi melukis arca tersebut pada kanvas 100X170 cm. Katanya Djon, “Setahu saya, lukisan arca yang seram tapi menggairahkan itu kemudian jatuh ke tangan kolektor terkenal Alex Papadimitriou…” Tak ada cerita Affandi melukis bangunan candi, melainkan arcanya saja.

Satu lukisan menimbulkan keraguan, saya mencoba lebih cermat mengamati reproduksi-reproduksi dalam buku Witnesssing ini. Acuan saya, buku Affandi tulisan Raka Sumicahn dan Umar Kayam, terbit pada 1987. Inilah saya kira buku tentang lukisan Affandi yang bisa dipercaya karena terbit ketika Affandi masih ada, Raka adalah kolektor yang langsung membeli dari Affandi, dan Umar Kayam adalah budayawan dan intelektual yang tak perlu diragukan integritasnya.

Benar, di masa hidupnya Affandi tahu bahwa banyak lukisan yang bercorak seperti lukisannya dan ditandatangani seperti tandatangannya, dan ia membiarkan. Menurut Djon, “Wong ya butuh urip, ya wis ben.” (Orang butuh hidup, ya sudah biar saja.) Tapi tak masuk di akal bila Affandi membiarkan reproduksi lukisan yang tidak pernah ia lukis masuk dalam buku itu.

Dengan acuan buku Affandi tersebut, menurut rasa saya banyak sekali reproduksi lukisan di Witnessing yang meragukan. Lukisan Affandi yang tidak autentik sebagian besar adalah potret diri dan barong. Dalam buku Affandi sejumlah potret diri menunjukkan sebuah kepala yang bervolume. Pada lukisan yang meragukan, volume itu hampir tak terasa, datar. Dalam hal tema barong, Allan menulis –menerjemahkan tuturan Djon, mestinya—dengan jelas.

Koleksi lukisan Affandi di Yogyakarta (dafawisatajogja.com)

Terjemahan bebasnya: “Salah satu ciri Affandi palsu adalah pelukisan detail pada bagian tertentu objek lukisan. Padahal Affandi menyelesaikan kanvas besar pun kurang dari dua jam; detail pun ia buat dalam tempo singkat. Itulah bakat Affandi, sekali memelotot tube, mungkin dengan sentuhan telapak tangan atau jari, cukup sudah untuk menciptakan efek yang ia inginkan. Bila tidak sesuai keinginannya, gampang saja, ia hapus pelototan itu, dan mulai dari awal.” Dengan kata lain, bila ada detail pada bagian tertentu objek lukisan, semisal di kepala barong atau di tubuh perahu kusamba, silakan dicermati sebelum membeli.

Alhasil Witnessing yang kemasan dan desain grafisnya layak dipuji ini memberikan setidaknya dua hal. Pertama, hanya mengandalkan melihat, walau dari seorang yang dianggap mengetahui seluk-beluk karya pelukis tertentu, tidak cukup untuk menentukan autentik tidaknya sebuah lukisan. Kasus Wolfgang Beltracchi di Jerman, yang membuat karya mirip lukisan Max Ernst dan ditandatangani Max Eernst adalah contoh autentik.

Kasus ini melibatkan mantan direktur museum seni rupa modern Pompidou, Paris, Werner Spies yang adalah ahli dalam hal lukisan Max Ernst. Spies pembuat katalog seluruh karya Max Ernst yang sudah teruji keautentikannya. Ia juga menulis beberapa buku tentang Max Ernst. Toh, ia kejeblos, karena piawainya si pemalsu melukis model Erenst, dan cerdiknya mengarang kisah asal-usul lukisan itu.

Pelajaran kedua, buku ini membuktikan bahwa bisnis lukisan palsu, dalam hal ini karya Affandi, terus berlangsung. Memang belum sepenuhnya terbukti bahwa lukisan yang dimasukkan ke dalam buku ini tidak autentik (bahkan sudah ada komentar Suhardjono). Namun dengan membandingkannya dengan reproduksi yang ada dalam buku Affandi(1987), dan menggunakan kriteria versi Suhardjono, sebagian besar reproduksi dalam Witnessing diragukan keautentikannya. Witnessing merupakan peringatan agar para penyuka seni lukis, ekstra hati-hati sebelum membeli. (Bambang Bujono – Pengulas Seni)