Press "Enter" to skip to content

AS Diguncang Skandal Ujian Masuk Perguruan Tinggi Elite

Sedikitnya 50 orang terlibat dalam skandal ujian masuk perguruan tinggi terkemuka di AS. Skandal terburuk sepanjang sejarah pendidikan ini diungkap Andrew Lelling, Jaksa Agung Distrik of Massachusetts, dalam konperensi pers yang digelar Selasa 12 Maret 2019. ”Kasus ini menggambarkan betapa maraknya korupsi oleh penyelenggara ujian perguruan tinggi elit,” tutur Andrew Lelling. ”Kasus ini juga melibatkan kaum kaya,” sambungnya.

 

MSNBC dan media lain mengabarkan, dari 50 orang yang didakwa terlibat, 2 di antaranya adalah bintang layar kaca AS. Yakni, Felicity Huffman, salah satu aktris drama komedi dan opera sabun ‘Desperate Housewives’, serta Lori Loughlin aktris ‘Full House’, yang pernah tayang tahun 1995.

Dalam tuduhan jaksa, Felicity Huffman berperan ikut merekayasa nilai ujian di sebuah pusat ujian SAT atau Scholastic Assesment Test di Hollywood. SAT adalah ujian matematika, Bahasa Inggris, membaca dan Science Reasons (nalar) yang wajib dilalui oleh para calon mahasiswa AS.

Sedangkan Lori Loghlin, bersama suaminya Mossimo Giannulli, perancang mode kondang AS, mengajak sejumlah orang kaya untuk ikut dalam komplotan pembobol nilai ujian perguruan tinggi ternama. Di antara perguruan tinggi itu adalah Yale University, Stanford, Georgetown University, University of California, Los Angeles, University of Sandiego, USC, University of Texas dan Wake Forest University di Winston-Salem, North Carolina.

Mereka bekerja sama dengan Wiliam ‘Rick’ Singer, pemilik sekaligus pendiri Pusat Test West Hollywood. Rick Singer otak komplotan yang merekayasa nilai ujian masuk perguruan tinggi top AS tersebut

Modus singkatnya begini: Para calon mahasiswa yang tidak lolos dalam ujian masuk perguruan tinggi top, akan menjalani semacam ujian ulang lagi. Kali ini, mereka dibekali surat keterangan yang menyatakan bahwa mereka adalah siswa dengan keterbatasan belajar, sehingga mereka dapat ikut ujian ulangan. Tentu saja itu rekaan belaka.

 

Pola rekayasa itulah yang diterapkan oleh Felicity Huffman untuk meloloskan putrinya, yang cuma meraih nilai PSAT 1.000. Hanya ikut kursus selama dua hari di Pusat Test West Hollywood, putrinya berhasil lolos kuliah di Georgetown University dengan nilai 1420 pada tanggal 2 dan 3 Desember 2017. Demikian juga tiga remaja lainnya.

Sebagai imbalan, Felicity Huffman memberi sumbangan dana $ 15.000 ke yayasan sosial The Edge College and Career Network, Februari 2018. ”Lembaga nirlaba yang disebut juga The Key itu tidak resmi kok,” tutur Singer kepada Felicity.

Lalu pada November 2018, Felicity kembali menemui Singer untuk menggolkan putri keduanya sehingga nilainya mencapai 1400 sampai 1500 agar bisa masuk ke perguruan tinggi top. Entah kenapa yang melanjutkan kuliah hanya putri keduanya, sementara putri pertamanya tidak mau melanjutkan kuliah. Karena itu, Felicity tidak harus membayar biaya rekayasa lagi.

Untuk memuluskan operasinya, Singer bekerjasama dengan Donna Heinel, salah seorang direktur atletik di University of Southern California. Kegiatan olahraga itu juga dimanfaatkan Singer untuk mendongkrak nilai calon mahasiswa agar bisa masuk ke perguruan tinggi ternama AS. Bahkan, menurut CNN, komplotan Singer ini merekayasa foto calon mahasiswa bersama para atlet mahasiswa lain untuk disodorkan ke panitia penerimaan mahasiswa universitas favorit.

Singer diperkirakan mengantongi keuntungan sampai $ 25 juta dari upaya tipu-tipuannya itu. Pihak kejaksaan juga menangkap Igor Dvorsiky di Los Angeles dan Lisa Niki Williams di Houston, Texas. Tenaga administrasi di perguruan tinggi itu rata-rata menerima $ 10 ribu untuk memandu ujian para calon mahasiswa yang berotak udang. Sedangkan Singer menerima dana sumbangan sebesar $ 15 ribu untuk satu calon mahasiswa.

 

Dari 50 orang yang dituduh terlibat, 33 orang di antaranya adalah sejumlah orang tua murid dan pengawas serta pelatih di perguruan tinggi. Termasuk di antaranya, Gamal Abdelaziz, mantan presiden dan CEO Wyan Resorts Development. Juga Gordon Caplan, wakil direktur Firma Hukum Wilkie Farr & Gallagher LLP. Dan, Gregory Abbot, CEO International Dispensing Company.

Belum diketahui, apakah mahasiswa yang kini kuliah di sejumlah perguruan tinggi itu akan diusut pula. Sebab, menurut pengakuan Felicity Huffman, kedua putri mereka tidak mengetahui bahwa nilai ujian mereka hasil dongkrakan dan rekayasa.  Belum jelas juga apakah ada calon mahasiswa asing, termasuk dari Indonesia, yang menjadi korban komplotan ini. (DP).