Press "Enter" to skip to content

Energi ‘Indonesia Kita’ yang Luar Biasa

Oleh: Iwan Qodar Himawan

Setiap kali grup Indonesia Kita menggelar pertunjukan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, selalu saja penonton membludak. Saya termasuk salah satu penonton yang rajin menyaksikan pentas, yang ditulang-punggungi seniman Butet Kertaradjasa, Djaduk Ferianto, dan Agus Noor itu.

Jumat-Sabtu (22-23 Maret 2019) ini, Indonesia Kita mementaskan produksinya ke-31. Pencapaian yang luar biasa. Jarang sebuah kelompok seni bisa konsisten, terus-menerus tampil, apalagi hingga puluhan kali, di era serba gawai seperti saat ini.

 

Minat penonton menyaksikan pentas ini rasanya jauh lebih besar ketimbang pentas sebelumnya. Di hari pementasan, untuk masuk ke Graha Bakti Budaya, penonton harus antre cukup panjang, hingga 20-an meter di dua jalur. Mendapatkan tiketnya juga tidak mudah. Sejak dua minggu sebelum pentas, hampir seluruh tiket terjual habis. Tiket dijual dengan harga bervariasi, Rp 150.000, Rp 300.000, Rp 500.000, dan Rp 750.000.

Betapa lakunya pementasan ini bisa dilihat dari banyaknya calo tiket yang berkeliaran di halaman TIM. Tiket kelas balkon, yang aslinya Rp 150.000, bisa laku hingga dua kalinya. Di dalam gedung, seluruh 800 kursi Graha Bakti Budaya, nyaris terisi penuh. Hampir tak ada kursi tersisa.

Lakon kali ini berjudul ‘’Kanjeng Sepuh’’. Tim kreatifnya tetap trio Butet, Djaduk, dan Agus Noor. Pemainnya adalah tokoh-tokoh langganan di pentas sebelumnya, seperti Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Wisben, Joned, Yu Ningsih, Soimah. Bekas wartawan Kompas yang kini lebih dikenal sebagai budayawan, Sujiwo Tejo, menjadi sutradara, sekaligus tampil sebagai Kanjeng Sepuh.

Lakon Kanjeng Sepuh bercerita tentang orang-orang yang merasa ditinggalkan oleh zaman, hanya karena mereka tua. Di penghujung usianya, seorang pemain wayang orang terkenal, merasa orang-orang di sekelilingnya mulai mengabaikannya. Zaman berubah.

Suatu hari sang tokoh tersebut menyatakan bahwa ia didatangi Semar. Bahkan menyatakan, kini dia adalah titisan Semar. Namun, oleh orang-orang sekelilingnya, bahkan juga oleh sahabat-sahabat seusianya, dia hanya dianggap cari perhatian.

Apalagi tingkah Semar itu menjadi kekanak-kanakan. Sifat itu disimbolkan dengan Semar yang selalu membawa mainan mobil-mobilan zaman kita kecil dahulu: mainan beroda dengan gagang bambu, yang kalau kita dorong dengan berjalan kaki akan berbunyi ‘’tok..tok..tok..’’

Semar ini terus memelihara karakter bocahnya, dan kejahilannya, yang bagi sebagian orang sudah tidak pada tempatnya. Namun Semar pun bisa marah, ketika sosok titisan Arjuna berusaha menghentikan sikapnya dengan memotong kuncungnya. Saat itulah Semar merasa, dunia sudah berubah. Manusia tak lagi jujur pada dirinya, dan lebih banyak menjalankan hidupnya dengan tipu muslihat.

Garis besar cerita yang ringkas itu, di panggung diterjemahkan dengan dialog yang longgar, penuh improvisasi para pemain. Penonton memaklumi kalau pemain sampai lupa terhadap naskah.
Misalnya, ketika Soimah, menemui Kanjeng Sepuh di teras losmen. Mereka ngobrol berpanjang-panjang.

Penonton baru tersadarkan bahwa dialog antara Soimah dengan Kanjeng Sepuh ada yang kurang, ketika Soimah berkata, ‘’Loh, kok sejak tadi aku tidak ditanya mengapa dating ke sini.’’
Kontan Kanjeng Sepuh langsung duduk, ‘’Oh iya… Hampir lupa saya.’’ Gerrr… penonton tertawa. ‘’La saya ini jadi sutradara merangkap pemain je,’’ lanjutnya. Penonton makin gerr.. Setelah Kanjeng Sepuh bertanya, ‘’Ada angin apa yang membuatmu datang ke sini,’’ cerita kembali ke alurnya.

Dengan model dialog yang cukup longgar seperti ini, mohon dimaklumi kalau pentasnya berlangsung cukup lama, hingga sekitar 3,5 jam. Tontonan yang dimulai jam 20.15 ini baru berakhir sekitar jam 23.45. Ini pentas Indonesia Kita yang paling lama yang pernah saya tonton. Biasanya, pentas Indonesia Kita rampung sebelum jam 23.00.

Seperti pentas-pentas Indonesia Kita sebelumnya, Cak Lontong dan Akbar tetap menjadi andalan untuk mengocok perut penonton. Cak Lontong, dengan lelucon khasnya yang membolak-balik logika, kali ini ngomongnya cukup berhati-hati. Ia jarang masuk ke wilayah politik, terutama yang menyangkut pemilihan presiden.

 

Di awal pentas, Butet memang mengatakan, dirinya diwanti-wanti oleh sutradara, Sujiwo Tejo, untuk tidak ikut masuk urusan politik. ‘’Ini yang paling berat bagi saya,’’ kata Butet, yang disambut dengan tertawa oleh penonton. Penonton maklum, Butet merupakan pendukung Joko Widodo dalam pemilihan presiden kali ini.

Namun, Cak Lontong dan Akbar adalah komedian yang berpengalaman. Mereka dengan cepat menemukan improvisasi di wilayah non-politik, dan tetap lucu.
Di luar kesederhanaan ceritanya, tampil di pentas Indonesia Kita membutuhkan kecerdasan berimprovisasi. Para pemain harus lancar bertik-tak.

Kepintaran para pemain improvisasi, membuat penonton tak sadar bahwa ketika pentas berlangsung, terjadi kehebohan di belakang panggung: Butet Kertaradjasa kena serangan jantung. Sebagaimana dapat dilihat di Instagram Agus Noor, serangan yang dialami Butet itu tidak main-main.

Butet Kartaradjasa (koleksi pribadi)

“Semalam, saat pentas memasuki menit ke 60an, Butet yang memerankan Semar, tumbang, tubuhnya lemas dan dingin. Tergolek pucat. Itu usai adegan Semar muncul di kuburan: hidup itu cuma main-main, yang serius kematian. (Dokter yang merawatnya kemudian menjelaskan: jantungnya kumat, enzim di jantungnya naik 100x lipat),” tulis Agus Noor di Instagram.

Setelah mendapat penanganan oleh tim dokter, kondisinya membaik. Alhamdulillah, Butet bisa tampil lagi, hingga pentas usai. Masyarakat baru disadarkan akan adanya serangan jantung itu setelah membaca unggahan Instagram Agus Noor.

Pada hari Sabtu, Butet mengirimkan kabar yang mengonfirmasi adanya serangan jantung itu. Ia menyampaikan bahwa dirinya dirawat di Rumah Sakit St Carolus. Jantungnya akan diobservasi.

Semoga Butet bisa mengatasi serangan jantungnya ini dengan baik. Ia masih punya ‘’utang’’. Tahun ini, Indonesia Kita akan pentas tiga kali lagi. Pentas ke-32 berlangsung pada 5-6 Juli, dengan lakon ‘’Celeng Oleng’’. Pentas ke-33 pada 20-21 September. Setelah itu, pentas ke-34 pada 1-2 November.

Semoga energi Indonesia Kita yang luar biasa terus bertahan, hingga waktu yang cukup lama nanti. Karena Indonesia tak hanya butuh puji-pujian, tapi juga kritik. Apalagi kritikan yang disampaikan dengan cara humor, seperti disampaikan Butet dan kawan-kawan di Indonesia Kita. (Foto: Liputan 6. Video: Iwan QH, Abdi Sutanto, Posma Siahaan, Metro TV & Liputan 6)