Press "Enter" to skip to content

Kelompok Islam Kaffah dan Prabowo Subianto

Oleh: Ahmad Munjid Ph.D.

Di AS, jauh sebelum pemilu 2016, publik Amerika sudah tahu bahwa Donald Trump itu tokoh bosok. Makin mendekati pemilu, latar belakang Trump yang bosok makin diobok-obok. Tukang ngemplang pajak, berbagai kasus penipuan, sederet kasus pelecehan seksual, tukang rogoh-rogoh perempuan, omong besar tanpa fakta, bahkan berkebalikan dengan fakta, rentetan konflik di pengadilan yg tak ada habisnya dengan banyak orang dan seterusnya.

 

Tapi akhirnya ia diusung juga oleh kaum Kristen konservatif. Bukan karena sejarah dan integritas pribadi Trump yang mewakili nilai prinsip mereka, tapi karena retorika dan janji Trump yang memenuhi harapan kelompok itu: Anti-aborsi; Anti-LGBT; Pro-Israel tanpa syarat; Anti-imigran; Anti-asing dan sederet agenda “kepentingan” Kristen konservatif lainnya. Lebih dari soal siapa yang maju menjadi kandidat, pemilu adalah soal kontestasi kepentingan kelompok.

Di arena olah raga, hasil akhir pertandingan pertama-tama ditentukan oleh kelihaian mereka bermain di gelanggang. Kekalahan, dan juga kemenangan, sebuah tim, tidak mempengaruhi bertambah atau berkurangnya pendukung. Mau timnya menang atau kalah, pendukung tetap yang setia, tetap sama besarnya.

Tapi dalam politik, kemenangan justru ditentukan di luar arena, yakni oleh seberapa banyak atau sedikitnya pendukung yang termobilisasi. Bahkan ketika secara teknis, pemain lebih lihai di arena permainan, seperti ketika Hillary melawan Trump yang debat-debatnya selalu unggul, akhirnya ia kalah karena di luar gelanggang.

Pendukung Trump ‘lebih banyak’ karena kemampuannya memperlihatkan diri sebagai orang yang akan membela kepentingan Kristen konservatif, terlepas dari latar belakang kehidupannya yang banyak bertentangan dengan ajaran Kristen. Pemilu adalah soal rebutan kekuasaan, soal siapa yang mendukung siapa untuk kepentingan mereka.

 

Dalam pemilu 2019 ini, Prabowo diposisikan sebagai tokoh ‘Islam kaffah’. Tanpa bermaksud mensejajarkan Trump dan Prabowo secara moral, sebagai pribadi Prabowo, jelas samasekali tidak mencerminkan nilai prinsip “Islam kaffah”. Dia dan pendukungnya pun tahu. Tapi retorika Prabowo mengakomodasi, atau paling tidak, lebih menjanjikan untuk digunakan bagi kepentingan “Islam kaffah” itu – dengan segala potensi konflik internalnya yang tinggi, bahkan jika ia menang.

Istilah “kaffah” yg bermakna “sempurna” atau “total” adalah jargon yang menjadi trade mark kelompok Islam politik. Bagi mereka, ayat berbunyi “udkhulu fissilmi kaffah” (masuklah ke dalam Islam secara total), dimengerti sebagai justifikasi bagi keharusan untuk menerapkan sistem formal Islam. Khususnya sistem politik Islam, yang berimplikasi mulai dari eksklusifisme, dominasi hingga supremasi Islam.

Tapi kita patut bersyukur, sejauh ini, berdasarkan hasil Pemilu 1999 sampai 2014 kekuatan kelompok Islam kaffah sebetulnya tidak besar. Partai dan tokoh Islam kaffah pun berjatuhan dari waktu ke waktu karena keliru membaca kenyataan. Pada periode-periode awal, seperti Pemilu 1999, kelompok ini memang tampak melaju pesat. Tapi ia segera berhenti di titik jenuh dan megap-megap untuk mendaki lagi lebih tinggi.

Kali ini pun tampaknya itu yang akan terjadi. Meski unlikely alliance antara Trump dan Kristen konservatif terbukti menang karena menemukan momentum, di Indonesia momentum itu tidak tersedia.

Prabowo tidak tepat memilih kelompok pendukung “Islam kaffah”. Sebaliknya kelompok “Islam kaffah” juga tidak tepat memilih sosok yang mewakili mereka. Kedua belah pihak akhirnya harus berhadapan dengan kekecewaan yang tidak mereka antisipasi. Itu sebabnya Islam kaffah makin hari makin tampak sebagai Islam marah. Kasihan juga. Tapi ya gimana lagi.

Ahmad Munjid Ph.D. Meraih gelar MA dan PhD bidang Religious Studies dari Temple University, AS. Sekarang mengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM dan menjadi peneliti senior di Center for Security and Peace Studies UGM.