Press "Enter" to skip to content

Ledakan Bom di Colombo, Srilanka Menelan Lebih dari 200 Jiwa

Sedikitnya 207 orang tewas dan lebih dari 450 lainnya luka-luka dalam delapan ledakan bom yang mengguncang hotel-hotel dan gereja di luka ibukota Sri Lanka, tepat pada perayaan Hari Paskah. Pejabat Sri Lanka mengatakan ini adalah serangkaian serangan terburuk yang pernah terjadi di negara itu sejak perang saudara tahun 2009 lalu.

 

VOAIndonesia.com mengabarkan, Menteri Pertahanan Ruwan Wijewardena, yang menggambarkan serangkaian serangan bom itu sebagai serangan teroris oleh ekstremis keagamaan, Minggu malam (21/4) mengatakan tujuh tersangka telah ditangkap, meskipun hingga laporan ini disampaikan belum ada satu pihak pun yang mengklaim bertanggungjawab.

Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengatakan ia khawatir serangan ini akan memicu instabilitas lebih jauh di negara itu dan menimbulkan dampak pada perekonomian.

Sejak berakhirnya perang saudara selama 26 tahun, Sri Lanka telah dilanda berbagai aksi kekerasan bernuansa etnis dan agama. Perang saudara yang berakhir pada tahun 2009 terjadi antara pemerintah yang berkuasa dengan kelompok minoritas etnis Tamil yang dikenal sebagai “Macan Tamil” yang berupaya meraih kemerdekaan dari kelompok etnis mayoritas Sinhala Budha di negara itu.

Tetapi skala pertumpahan darah yang terjadi hari Minggu ini mengingatkan kembali pada hari-hari terburuk ketika terjadinya perang sipil itu, di mana kelompok “Macan Tamil” dan pemberontak lainnya meledakkan Bank Sentral Sri Lanka di pusat kota Kolombo, sebuah pusat perbelanjaan yang sibuk, sebuah kuil Budha dan beberapa hotel yang dipadati wisatawan.

Wikremesinghe mengatakan pemerintahnya akan “Mengerahkan semua kekuatan yang diperlukan” untuk mengambil tindakan terhadap mereka yang bertanggungjawab terhadap serangan hari Minggu, “Apapun status mereka.”

Enam ledakan pertama yang terjadi hampir bersamaan Minggu pagi ini merobohkan langit-langit dan memecahkan seluruh kaca jendela di sebuah gereja Katholik terkenal di ibukota Kolombo, dan tiga hotel mewah di kota itu. Dua ledakan lainnya terjadi di gereja Katholik St. Sebastian di Negombo, sebuah kota mayoritas Katolik di utara Kolombo; dan di gereja Zion Protestan di bagian timur kota Batticaloa.

 

Tiga personil polisi tewas ketika melakukan penggerebekan di rumah salah seorang tersangka di Dematagoda, di pinggiran kota Kolombo. Setelah polisi bergerak di Dematagoda, sedikitnya dua ledakan lainnya terjadi, salah satu diantaranya adalah di sebuah rumah yang diduga menjadi tempat persembunyian pelaku.

Seluruh pusat perbelanjaan, pasar dan toko, termasuk fasilitas publik saat ini ditutup. Sementara pemerintah memberlakukan jam malam di seluruh negara itu mulai jam 6 malam hingga jam 6 pagi. (VOAIndonesia.com)