Press "Enter" to skip to content

Yang Banal dan Yang Nakal: Tentang Sajak Sikat Gigi Yudhistira Adinugraha

Oleh: Goenawan Mohamad

Apa arti sebuah sikat gigi? Di zaman ini, ia bagian dari alat yang tak istimewa, tak menarik perhatian, bagian dari rutin dan kebiasaan — sesuatu yang mudah membosankan. Dengan kata lain: sesuatu yang banal.

Ketika Yudhistira meletakkannya dalam sebuah puisi, kita melihat bahwa ia berada bersama karya fotografi Erik Prasetya, (dan di luar negeri, karya fotografer Inggris Martin Parr), yang mengemukakan apa yang disebut “estetika dari apa yang banal”.

 

Yudhis, saya kira, di masa ketika ia menulis sajak-sajak ini, tak punya ambisi untuk membuktikan sebuah theori estetika atau mengemukakan sebuah pesan sosial. Tapi diterbitkan kembali tahun ini — di dasawarsa kedua abad ke-21 — sajak-sajak ini, dengan “sikat gigi” sebagai “point de capiton,” sebagai kancing perekat dari semua, berbicara tentang yang banal dalam sebuah latar masyarakat yang akrab dengan deretan botol dan kudapan manis di kantong plastik di Alfamart dan iklan yang tiap kali muncul di TV dan menyelip di YouTube, di antara lirik lagu cinta dan nasihat moral yang itu-itu juga.

Yang banal adalah yang tak mengandung, atau menampakkan, kegagah-perkasaan atau keluar-biasaan, bagian hal sehari-hari. Yang banal adalah deretan yang membosankan dari benda-benda yang kini dibikin berjibun oleh kapitalisme: mencorong tapi tanpa “anima”, tanpa tenaga, berwarna-warni tapi tanpa surprise, benda-benda yang ada di mana-mana tapi tak terasa hadir. Dengan kata lain, benda yang kita sadari adanya justru ketika ia tak ada. Komodifikasi membuat hal yang paling istimewapun jadi datar, agar mudah dipertukarkan.

Sikat gigi adalah jenis benda seperti itu. Ia berbeda dari sepasang sepatu tua dalam lukisan Van Gogh, yang dengan warna dan bentuknya yang nestapa, masih mengandung sesuatu yang dramatis: sepatu itu bukan sesuatu yang banal. Sikat gigi Yudhis lain. Seperti ditulis Yudhis, bahkan ketika ia bangun pagi dari mimpi, dan melihat benda itu hilang sepotong, “tersesat di dalam mimpinya dan tak bisa kembali”, kejadian itu dianggap “terlalu berlebihan”.

Yang banal tak punya ambisi untuk masuk sejarah. Sajak-sajak Yudhis di sini — dengan ungkapan seperti percakapan remaja yang 10 tahun kemudiaan akan ditinggalkannya — tak bercita-cita jadi bagian khasanah museum.

Mengedepankan yang banal seperti dalam sajak ini adalah mengungkapkan rasa bosan kepada apa yang familiar. Atau mengedepankan hal yang seharusnya luar biasa tapi diulang-ulang berhamburan. Jika ada “estetika dalam yang banal”, ia berkait dengan sikap cuek.

Tak mengherankan bila sikap itu, seakan-akan pasif, sebenarnya pembangkangan. Kata “Biarin” bukanlah ekspresi eskapisme, melainkan penolakan kepada yang serba mau bernilai, mau bermakna, mau beradab.

Dikatakan bahwa sajak-sajak Yudhis ini termasuk jenis apa yang pernah disebut puisi “mbeling” — nakal, tak peduli tata krama, tapi dengan itu kreatif. Agaknya memang begitu.

“Kamu bilang hidup ini berengsek. Aku bilang biarin
“Kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
“Kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin
“Kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin
habisnya, terus terang saja, aku nggak percaya sama kamu.”

 

Menarik untuk melihat “Sajak Sikat Gigi” sebagai tanda zaman keremajaan yang berbeda dari sekarang. Kini, usia muda bukan ditandai dengan pembrontakan (yang di tahun 1945 bahkan membuat Revolusi Indonesia bisa disebut sebagai “Revolusi Pemuda”).

Di masa Yudhis mulai menulis, usia muda ditandai dengan sikap non-konformis. Tapi sekarang, di awal abad ke-21, Ali Topan, anak jalanan, sudah digusur. Yang kita saksikan adalah mereka yang alim, sopan santun, bersih, necis, yang dengan cepat merunduk, tak doyan bertanya, tak menggugat. Pendek kata: pemuda sinetron.

Lalu siapakah kini yang mbeling dan kreatif? Adakah yang berani bilang “biarin” dari anak-anak muda kini — generasi yang mengkonsumsi yang benda-benda dan kata-kata banal tapi tak menjadikannya sebuah pertanyaan hidup? Bisakah sajak sesegar puisi Yudhis dilahirkan generasi alim yang bisa berteriak “tidak” dengan keras tapi tak berani bertanya “kenapa”.?

Saya ragu. Mungkin sebab itu dalam keadaan seperti sekarang, sajak-sajak ini menjadikan kita nostalgik kepada sebuah generasi mbeling, anak-anak muda yang tak mudah jinak.

Goenawan Mohamad