Press "Enter" to skip to content

Imigran Ilegal Boleh Punya SIM di Negara Bagian New York

New York benar-benar jadi surga bagi para imigran asing. Betapa tidak. Gubernur Negara Bagian New York, Andrew Cuomo baru saja menanda tangani UU baru yang mengizinkan imigran ilegal memiliki surat izin mengemudi, SIM, Senin kemarin.

Tak cuma itu. Surat Izin Mengemudi atau SIM itu bisa juga digunakan sebagai Kartu Identitas atau KTP. Dengan demikian, pemiliknya bisa menggunakannya untuk naik pesawat atau mengurus dokumen lain. Seperti diketahui, sampai akhir pekan lalu, calon penumpang pesawat lokal wajib menunjukkan kartu identitas plus dokumen lain, atau paspor, sebelum terbang.

Bagi para imigran ilegal, pemberian SIM atau KTP itu sangat menguntungkan. Maklum, mereka – kebanyakan dari Amerika Latin – yang sama sekali tidak memiliki selembar dokumen pun, karena mereka hanya loncat pagar dari perbatasan Mexico-AS, dapat bernafas lega.

Bahkan dengan SIM atau KTP itu, mereka bisa membeli rumah, tanah atau meminjam dana di bank. Malahan, mereka bisa ikut terlibat dalam pemilihan umum, sekaligus menentukan warna politik Amerika Serikat. Satu-satunya yang mencegah hal itu adalah surat keterangan bahwa pemegang SIM bukan warga AS, dengan denda $ 5000 dan hukuman penjara 4 tahun.

”Artinya, New York akan segera menjadi negara bagian paling radikal, dan sangat terbuka di seluruh AS,” tutur John Flanagan, pemimpin Republik Senat New York. Hal yang sama disuarakan Luis Sepulveda, anggota Senat Demokrat saat dengar pendapat di Kota Albany, New York.

 

Langkah New York itu sekaligus merupakan tamparan keras terhadap Presiden Donald Trump yang hendak melancarkan operasi penangkapan bagi imigran gelap. Dalam cuitan Twitternya, Trump menyebutkan ”Pekan depan, petugas imigrasi ICE akan memulai proses pemulangan jutaan pendatang ilegal yang masih bercokol di AS,” tulisnya.

Baca juga: Kekurangan Fasilitas Tahanan, Ribuan Imigran Dilepas.

Perintah yang disampaikan lewat Twitter itu, hanya ditujukan bagi para pemohon suaka politik atau asilum yang kasusnya telah ditolak pengadilan, tapi masih berada di AS. Belum jelas, apakah hal itu diberlakukan bagi para imigran ilegal lainnya.

Meski jajaran petugas imigrasi ICE mengaku siap menjalankan perintah itu, proses penangkapan itu, akan berlangsung lama. Maklum, jumlah petugas ICE sangat terbatas, apalagi mereka sedang dikonsentrasikan ke perbatasan Selatan AS-Mexico untuk mencegah membanjirnya imigran dari Amerika Latin. ”Lima ribu lowongan petugas baru ICE belum juga terpenuhi karena sulit mencari personil,” tutur Harry Schrugs, petugas imigrasi di New York.

Sementara itu, rumah-rumah tahanan imigran penuh sesak. Sekitar 2.200 imigran gelap dilepaskan dari rumah tahanan imigrasi Rio Grande Valley awal Mei lalu. Harian The New York Times mengabarkan, 150 imigran segera dilepaskan dari fasilitas imigrasi di El Paso.

Sedangkan jaringan penampungan yayasan sosial Annuciation House, tak mampu lagi menyediakan tempat penampungan, sehingga Pemda setempat menempatkan ratusan imigran lain di taman-taman umum, menunggu fasilitas bagi imigran yang kosong. (DP)