Press "Enter" to skip to content

Hati-Hati Perayaan 4 Juli: Kisah Seram WNI terkena peluru Nyasar di Amerika

Menjelang hari kemerdekaan Amerika tanggal 4 Juli, masyarakat Amerika biasanya sudah bersiap-siap untuk berpesta sejak seminggu sebelumnya. Kembang api dan petasan,   pesta barbeque, burger, bir, apple pie, piknik, parade, adalah bagian dari kemeriahan itu. Namun ada sisi hitam dari segala keriangan itu: 4 Juli adalah salah satu hari paling berbahaya di Amerika.

 

Komisi Keamanan Produk Bagi Konsumen AS atau U.S. Consumer Products Safety Commission mencatat terjadinya delapan kematian dan  11,400 luka akibat petasan dan kembang api di th 2013, yang terjadi selama perayaan hari kemerdekaan Amerika. 

Badan lain yaitu The National Safety Council mencatat terjadinya  385 korban mati dan 41,200 korban luka – termasuk akibat kecelakaan mobil, tenggelam, dan luka akibat kembang api dan petasan, selama perayaan  Fourth of July tahun lalu. Antara tahun 2008 dan 2012, rata-rata 127 orang meninggal pada 4 Juli akibat kecelakaan mobil, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh  the  Insurance Institute for Highway Safety.

Selain karena kecelakaan mobil dan sebab-sebab di atas, luka akibat peluru nyasar juga tidak sedikit terjadi akibat adanya budaya menembakkan senjata ke atas, saat perayaan hari kemerdekaan berlangsung.

Organisasi seperti “One Bullet Kills The Party” sangat giat menyebarkan pesan agar masyarakat berhati-hati pada saat merayakan hari jadi Amerika. Tahun 2012, University of California, Davis menyelediki 284 kasus peluru nyasar di Amerika, di mana 317 orang menjadi korban luka atau mati.

Lima persen dari total korban itu adalah akibat peluru nyasar yang ditembakkan saat perayaan atau disebut juga celebratory gunfire. Banyak kota di Amerika punya kebiasaan celebratory gunfire ini seperti kota Birmingham di negara bagian Alabama. Di kota ini di th 2013 tercatat ada 2500 laporan tentang celebratory gunfires dan hanya ada 9 penangkapan yang dilakukan karena kasus itu.

Kisah mengerikan terkena peluru nyasar dialami oleh Lie Sien Nie atau Sienny, seorang warga Indonesia yang tinggal di Philadelphia. Pengalaman tragis yang terjadi 19 tahun lalu itu sampai kini masih membuat wanita ini trauma. Saat itu, 2 Juli th 2000, jam menunjukkan waktu tengah malam saat Sienny bersama beberapa temannya berjalan pulang menuju rumahnya setelah melihat pertunjukkan kembang api di Penn’s Landing, salah satu daerah ternama di kota  Philadelphia.

Jarak yang tidak terlalu jauh, sekitar 15 blok dari Penn’s Landing ke rumah kontrakannya di daerah 7th Street and Ritner, normalnya bisa dicapai sekitar 15 menit.  Sekitar 1 blok dari rumahnya, Sienny dan teman-temannya mendengar bunyi letusan, dor…dor…dor….Sienny  menduga itu bunyi kembang api biasa.

Tetapi bersamaan dengan itu, kakinya terasa panas dan tidak bisa digerakkan. Ia raba kakinya, terasa basah dan mulai terasa pedih. Setelah ia amati lebih dekat, ternyata darah dan cairan putih mengalir dari kaki kanannya.

Saat Sienny dan teman-temannya kebingungan karena tidak tahu berbuat akan apa, ada seorang pejalan kaki yang kebetulan lewat membawa handphone dan menawarkan untuk menelpon 911. Akhirnya polisi dan ambulans pun datang dan wanita yang saat itu masih berusia 20-an itu pun dilarikan ke rumah sakit.

Di ruang gawat darurat akhirnya ketahuan bahwa kaki Sienny terluka karena tertembus peluru nyasar. Perawat pun menjelaskan bahwa kejadian seperti ini bukan hal aneh mengingat pada 4 Juli ada kebiasaan sebagian orang untuk meletuskan senjata api mereka ke atas sebagai luapan rasa gembira. Namun peluru-peluru ini banyak yang nyasar dan mengenai orang tak bersalah sepert Sienny. 

Setelah mendapat penanganan. Keesokan harinya  wanita yang fasih berbahasa Jawa ini pun dipaksa  pulang karena ia tidak punya asuransi kesehatan. Setelah itu, ia harus  berobat jalan selama 7 bulan untuk proses penyembuhan luka tembaknya. 

“Selama 3 bulan pertama, saya tidak bisa apa-apa. Untung teman kos saya,  Yeye membantu saya, mulai dari memandikan, menyiapkan makanan sampai membantu membayar kos. Kalau tidak ada Yeye dan teman-teman lain, tidak tahu bagaimana nasib saya waktu itu,” tuturnya haru. 

Karena tidak punya asuransi kesehatan, Sienny harus membayar $250 setiap kali periksa ke dokter.”Lama kelamaan dokternya merasa kasihan dan saya dapat diskon jadi cuma bayar $125,” katanya sambil tertawa. 

Wanita periang berpostur tinggi besar ini harus belajar berjalan menggunakan penyangga kaki selama sekitar 6 bulan. “saya tidak bisa kerja di pabrik padahal waktu itu saya baru datang ke Amerika dan tidak punya banyak tabungan,” tutur Sienny yang akrab dipanggil “emak” ini.

Dia merasa beruntung karena teman-teman kos, teman kerja dan teman gerejanya banyak membantunya secara moril dan materil. “Tanpa mereka, saya tak mungkin bisa seperti sekarang,”ujarnya penuh rasa terima kasih.

Wanita yang kini bersuamikan pria Amerika dan berputra satu ini berharap kisah hidupnya bisa berguna bagi orang lain. “Kalau bisa, lebih baik nonton kembang api dari rumah saja supaya lebih aman,” katanya.

Sienny mengaku sampai sekarang  masih merasa trauma akan peristiwa tragis itu. “Saya jadi cepat lelah, tidak kuat berjalan atau berdiri lama.”tutur wanita yang kini hanya bekerja paruh waktu di Reading Terminal Market itu. Sambil menunjukkan  tulang kakinya yang mencekung, dia mengaku kakinya sering terasa linu terutama saat musim dingin.”Kadang di tempat bekas luka ini saya tutup dengan kain, tapi tetap saja ngilunya luar biasa,” ujarnya. Dia berharap warga Indonesia di Amerika bisa belajar dari pengalamannya, dan “semoga tidak ada yang menjadi korban peluru nyasar seperti saya,” katanya sambil menutup pembicaraan. (Indah Nuritasari)