Press "Enter" to skip to content

Remy Sylado Sang Maestro

Oleh: Dimas Supriyanto

Entah bagaimana generasi 2000 dan sesudahnya menjuluki Remy Sylado. Bagi kami wartawan angkatan 1980-90an, yang meliput seni dan budaya di TIM, juga wartawan film yang mangkal di Dewan Film dan Pusat Perfilman Kuningan, dia adalah guru, munsyi, kyai, romo, inspirator, motivator. Dan di atas semuanya dia adalah Sang Maestro.

Tidak ada di antara kami yang tidak mengenal karyanya dan tidak terpengaruh oleh tulisan dan ekspresi seninya. Sebagian dari kami menjadi jurnalis, penyair dan menulis buku puisi dan menerbitkannya paham apa itu “puisi mbeling” dan Remy Sylado lah pelopornya. Dan kami semua tetap tak bisa menyamai kehebatannya.

Maestro biasanya diidentikkan dengan satu bidang seni, sebagaimana kita kenangkan pada almarhun Idris Sardi sebagai violinis dan Affandi sebagai pelukis serta WS Rendra sebagai penulis sajak. Sedangkan Remy Sylado melintasi banyak bidang.

Sejak 1956, dia juara melukis tingkat SD. Juara nyanyi mirip Elvis Presley di Semarang (1961), Nominator Aktor Terbaik di FFI (1986, 87, 88). Penghargaan Khatulistiwa Literary Award di tahun 2002 untuk novel sastranya “Kerudung Merah Kirmizi”; Peraih Penghargaan Menteri Kehutanan untuk gagasan “one man one tree” – sekadar menyebut bahwa di ladang senirupa, nyanyi, akting, dan sastra dia bukan pengikut serta.

Remy Sylado bersama Ilham Bintang, Gus Mus, Romo Mudji Sutrisno, Wina Armada, Anastasia Astuti (Dimas Supriyanto)

Bahkan dia satu pelopornya. Puisi mbeling identik dengan Remy Sylado. Juga kritik musik, film dan sastra – yang dimuat di media dan disampaikan langsung dalam seminar dan workshop yang kami ikuti. Belakangan kritik kebudayaan juga.

Maka kami wartawan era 1980-an hadir dengan takzim untuk berkhidmad, menyaksikan pameran karya mutakhirnya di Balai Budaya, Jl. Gereja Theresia 47, Menteng, Jakarta Pusat, semalam. Undangan dan tamu penuh sesak. Saya dan teman sudah menandai akan hadir jauh jauh hari. Karena penting.

Remy Sylado seniman serba bisa dan multi talenta yang berkarya sejak 1956 hingga kini, setelah mengalami pendarahan di otak dua kali. Rasanya tak ada seniman kita lain yang menyamai vitalitasnya.

Saya tidak heran jika pamerannya dihadiri tokoh tokoh hebat dan kharismatis di bidangnya, seperti Gus Mus (Kyai Haji Mustofa Bisri) dari Rembang, Romo Muji Sutrisno, H. Ilham Bintang, penyair kritikus film yang juga pengacara Wina Armada SA, penyanyi Anastasia Astuti dan banyak nama lagi. Buku pamerannya menampilkan tulisan sastrawan Seno Gumira Ajidarma dan pianis humorolog, Jaya Suprana.

Nampak hadir juga sastrawan Martin Aleida, selain Syahnagra Ismail dan Aisul Yanto sebagai tuan rumah di Balai Budaya.

Remy Sylado alias Yapi Tambayong merupakan sosok kontroversial di era 1970an. Saya mengenangkannya sebagai penulis novel “Orexas” – organisasi Sex Bebas – yang mendobrak kemapanan, yang membuat jiwa remaja kami tergetar getar masa itu. Namanya juga identik dengan majalah Aktuil yang menjadi trendsetter anak muda pada zamannya, lalu memimpin majalah TOP yang menghadirkan wanita-wanita molek. Dan nyatanya dia tetap eksis hingga kini.

Energi yang dihadirkannya dalam banyak karya “nyetrum” pada kami semua, generasi 1980-1990an. Entah bagaimana generasi 2.000-an menjulukinya. Bagi saya, dia “Sumur Tanpa Dasar”, mengutip lakon Arifin . Noor, dengan air bening yang terus mengalir. Dia maestro yang sesungguhnya.

Selamat berpameran Bung Remy. Sang Guru, Munsyi, Sang Kyai dan Romo bagi kami semua, wartawan muda yang kini ikut menua. Pameran lukis dan sebagian buku, novel serta kaset-kaset musik karyanya akan berlangsung hingga 19 Juli mendatang. (Teks/foto: Dimas Supriyanto)