Press "Enter" to skip to content

Wartawan Amarzan Loebis Tutup Usia Senin 1 September 2019

Wartawan Indonesia, Amarzan Loebis meninggal dunia Senin 1 September 2019 di kediamannya di Kompleks Meadow Green, Green Lippo Cikarang, Jawa Barat. Amarzan Loebis yang bernama panjang Amarzan Ismail Hamid wafat di usia 78 tahun setelah menderita stroke sejak 2 tahun belakangan.

”Menjelang subuh tadi Amarzan Ismail Hamid menghembuskan nafas penghabisan,” tulis Martin Aleida di akun Facebooknya.  ”Dia redaktur untuk Apa Siapa. Buku ini punya kelemahan informasi sedikit karena Amarzan memikul tugasnya setelah baru dibebaskan dari pulau pengasingan orde baru Buru. Dia penyair dan penulis yang cemerlang,” lanjut Martin.

”Sebelum G30S salah satu laporannya mengenai perjuangan buruh minyak dikutip Njoto dalam Catatan Seorang Publisis di Harian Rakjat di mana penulis pidato Bung Karno itu menggunakan nama Iramani, nama adiknya yang masih hidup sekarang,” tulis Martin Aleida menambahkan.

CNN Indonesia menguraikan, sejumlah buku yang pernah ia tulis antara lain Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan (1995) dan Bahasa! kumpulan tulisan dan puisi Majalah Tempo (2005).

Dalam sejumlah catatan lepas mengenai profilnya, Amarzan melanglang buana dari satu ke kampus lain di usia muda. Sejak lulus SMA, Amarzan masuk Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Udayana, hingga Perguruan Tinggi Ilmu Djurnalistik.

Kariernya sebagai profesional ketika menjadi Redaktur Harian Rakyat pada 1965. Tak lama di sana, Amarzan mesti angkat kaki karena tempat bekerjanya dituding berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Goenawan Mohammad memberikan sambutan dalam pemakaman Amarzan Loebis (Foto: Ahmad Husein)

Amarzan yang juga pegiat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), wadah seni yang digagas Partai Komunis Indonesia (PKI) juga harus diasingkan usai Sekretariat Lekra, rumah budayawan Oey Hay Djoen (Tjidurian 19, Menteng) dirampas penguasa saat itu. Para seniman dicap PKI dan diburu. Ia dipenjara selama 11 tahun. (Lihat rekaman di Youtube terlampir). “Ada yang ditangkap, ada yang lari,” tutur Amarzan dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com, September 2015.

Di Majalah Tempo dan Majalah Gatra, Amarzan menjadi satu dari beberapa editor di meja redaksi. Namanya kerap disejajarkan dengan jurnalis kondang lainnya, seperti almarhum Rahman Tolleng. Amarzan Loebis dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Perwira, Kota Bekasi dihadiri sejumlah kerabat dan sahabatnya. Penyair Goenawan Mohamad memberikan sambutan di acara pemakaman tersebut. (DP & CNN Indonesia).