Press "Enter" to skip to content

Langkah-langkah Demokratis BJ Habibie Usai Dilantik Jadi Presiden RI

Massa masih membakar mobil di jalanan Jakarta, tapi tampaknya hal itu tak sampai ke ruang kepresidenan Burhanuddin Jusuf Habibie. Bau kembang Melati merebak ke seluruh ruangan kepresidenan Habibie, mantan wakil presiden Indonesia yang kini menjadi orang nomor satu di Indonesia.

”Saudara-saudara harus mengerti latar belakang saya,” kata Habibie kepada tim wartawan New York Times yang tengah mewawancarainya. ”Saya bukan politikus. Saya bahkan tidak tertarik di bidang politik. Lalu tiba-tiba saya harus mengambil alih kekuasaan,” kata Habibie.

 

Peristiwa itu terjadi Mei 1998, ketika Soeharto tiba-tiba lengser dari jabatannya, lalu tanpa sepenggal kata pun kepada Habibie, mewariskan Indonesia ke tangan wakilnya. BJ Habibie, seorang insinyur penerbangan, satu-satunya orang yang tidak siap memimpin sebuah negara.

Dalam waktu 17 bulan ke depan, Habibie melakukan serangkaian langkah dan perubahan terhadap Indonesia yang diperintah seorang diktator selama 32 tahun. Habibie menerapkan kebebasan pers. Ia juga mengizinkan terbentuknya Serikat Buruh dan Pekerja, dan membebaskan lahirnya sejumlah partai politik.

Melalui proses yang lambat, Habibie menarik peranan militer di panggung politik. Dan Habibie pun bangga ”Karena dialah presiden Indonesia pertama yang digantikan secara damai oleh seorang kiai bernama Abdurrahman Wahid,” tulis

Lalu di usia 64 tahun itu, Habibie tidak lagi memiliki kekuasaan berarti. Bahkan dibandingkan pada waktu menjadi menteri Riset dan Teknologi di jaman Soeharto 20 tahun sebelumnya. ”Kini tiba saatnya melihat wajahnya di depan cermin, dan memutuskan untuk mengenakan kumis. Ayo saya coba deh!! ”Suka nggak? Suka kan?” tanyanya berkali-kali.

Pekan itu, Habibie melahirkan the Habibie Center, sebuah institusi pengkajian politik yang dibiayainya sendiri. Walau banyak analis politik menyebut Habibie tidak punya banyak pilihan, tapi ia sendiri mengaku bahwa dirinya adalah seorang liberal yang belajar demokratisasi selama kuliah beberapa puluh tahun di Jerman. ”Saya bukanlah reaktif, tapi saya lebih proaktif. Saya selalu bekerja berdasar keyakinan!” katanya kepada tim wartawan NY Times.

Di pekan awal menjadi presiden, Habibie mengunjungi Parlemen sebagai rasa hormat kepada jajaran legislatif. ”Tiba -tiba suasana berubah, di mana saya menjadi presiden,” tuturnya. Habibie berhasil menggelar pemilu paling demokratis di Indonesia, walaupun dengan hasil mencengangkan: Habibie harus mundur. ”Saya jadi korban demokrasi pertama di Indonesia” ujarnya bangga.

 

Yang patut disayangkan Habibie, adalah kedekatannya dengan Soeharto tiba-tiba sirna. Padahal Soeharto telah dianggap sebagai ayah angkatnya. Soeharto pula yang mengangkat menjadi Wakil Presiden RI. Lalu ketika Soeharto terpaksa mundur setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak, Habibie sebagai wakil presiden harus menggantikannya. Pengganti yang sebenarnya tidak pernah dipersiapkan sebelumnya.

Bahkan, setelah lengser, Soeharto tidak bersedia berbicara dengan Habibie yang kala itu masih terkejut, saat dilantik menjadi presiden 21 Mei 1998. Satu-satunya pembicaraan langsung yang berhasil dilakukan Habibie, ketika Soeharto merayakan hari ulang tahunnya tahun 1998 itu.

Habibie diizinkan untuk menelepon Soeharto. ”Saya meneleponnya dan mengucapkan selamat hari ulang tahun. Saya ingin bertemu bapak,” tutur Habibie. Tapi permintaan itu ditolak Soeharto. ”Jangan. Tidak. Kamu jangan menemui saya. Tidak baik untuk negeri ini. Bagi kamu, dan juga bagi saya. Kamu harus hentikan semua niatmu itu. Kamu tidak bisa menemui saya,” kata Soeharto seperti dituturkan Habibie.

”Tapi bapak seperti ayah saya sendiri dan sahabat saya,” jawab Habibie. ”Lalu kenapa saya tidak boleh bertemu bapak? Saya punya hak untuk bertemu dan bicara dengan bapak,” lanjut Habibie.

”Tidak! Lebih baik coba mengontak saya secara spiritual saja, atau telepati,” kata Soeharto menutup pembicaraan. Setelah itu, kondisi Soeharto menurun dan sulit berkomunikasi serta sulit mengerti pembicaraan orang.

Hingga wafatnya 11 September 2019 lalu, Burhanudin Jusuf Habibie tetap tidak mengerti kenapa Soeharto mengalihkan kekuasaan sebuah negara tanpa bicara satu kata pun. (NYTimes 2000 dan berbagai sumber lain. Foto: Helmi Fithriansyah/Liputan 6)