Press "Enter" to skip to content

Dilla Djalil Daniel Pemenang The Alfred Fried Photography Award 2019 di Wina, Austria

Dilla Djalil Daniel, fotografer asal Indonesia menjadi salah satu dari lima pemenang karya foto terbaik di Wina Austria pekan lalu, untuk karya fotonya berjudul “The Forest Orphanage”. Tak kurang dari 17.387 karya foto dari 113 negara yang dipilih dalam lomba foto kali ini.

 

Dilla merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia dalam kompetisi ini. Dari ribuan karya foto yang diterima panitia, karya terbanyak berasal dari Cina, yakni 271 karya foto, 187 karya dari India, 116 dari Rusia, 111 dari Amerika Serikat, dan 103 dari Jerman.

Dilla menampilkan enam belas karya foto yang memuat puluhan satwa bayi orangutan di pusat rehabilitasi di Kalimantan Barat. Dalam format hitam-putih, foto-foto itu secara kuat memperlihatkan sejumlah interaksi di antara sekawanan orangutan, juga kontak orangutan dengan manusia. Beberapa interaksi itu berlatar hutan Indonesia yang asri dan aktivitas perawatan oleh petugas rehabilitasi orangutan.

Dilla Djalil Daniel yang dilahirkan di Jakarta pada 1966 telah mengenal kamera sejak usia sembilan tahun. Kecintaannya dengan fotografi berdampingan dengan perhatiannya pada anjing-anjing kesayangannya. Selain memelihara dua ekor anjing, Dilla merawat dua ekor kucing dan satu ekor kuda. Hal itu mempengaruhi dia untuk selalu memperhatikan isu satwa, setelah lebih dahulu melepaskan keinginannya menjadi dokter hewan.

Akhirnya melalui seni fotografi, bertahun-tahun Dilla menangkap momen-momen menyentuh dalam perlakuan manusia terhadap binatang. Sambil berkecimpung dalam aktivitas lembaga swadaya masyarakat yang kerap mendatangi berbagai daerah, Dilla mencari lokasi-lokasi perlindungan bagi hewan. Misalnya di sebuah rumah sakit gajah di Thailand, dan pusat penyelamatan untuk keledai yang diperlakukan buruk di Nepal.

Dilla menjalani bermacam lokakarya bersama fotografer terkenal, seperti Alex Webb dan Peter Turnley, di Istanbul, Buenos Aires, dan Chiang Mai. Hal itu mengasahnya untuk menjadi pemotret dengan kepekaan khusus dan mendalam terkait upaya pelestarian kehidupan satwa.

Dalam karya foto “The Forest Orphanage”, Dilla menampilkan nuansa hangat dan menyentuh yang berlangsung dalam sebuah pusat rehabilitasi bagi orangutan yang telah kehilangan induknya di Kalimantan Barat. Selain memotret kondisi orangutan itu, Dilla memperdalam makna karya fotografinya melalui pendekatan bercerita seperti esai foto.

Keenambelas foto karyanya dengan ringkas mengesankan kepedihan bayi-bayi orangutan yang harus menjalani rehabilitasi sebagai bekal mereka hidup mandiri di alam bebas. Induk orangutan sudah banyak yang terbunuh atau dijual lantaran praktik pemburuan yang dilakukan manusia. Tak hanya menarik dan ceria, foto-foto Dilla menggambarkan sebuah emosi perjuangan bayi orangutan bertahan hidup tanpa asuhan induknya.

 

Dalam catatan Peter-Matthias Gaede, panitia The Alfred Fried Photography Award 2019, Dilla disebut menyampaikan ajakan untuk memahami emosi yang dirasakan setiap satwa.

Lebih dari itu, Dilla punya harapan agar manusia tidak dengan sewenang-wenang mengorbankan satwa liar, termasuk orangutan, demi pemenuhan kebutuhan konsumsi, gengsi, dan gaya hidup semata yang bersifat sementara. Sebaliknya, lewat tangkapan lensa kameranya, Dilla mengkritik dan mengingatkan manusia agar lebih berempati dan simpati kepada satwa.

Penghargaan Fotografi Alfred Fried didirikan pada 2013 untuk menghadirkan karya fotografi seluruh dunia yang mengantarkan pesan perdamaian, simpatik, dan nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti empati dan penghormatan bagi pelestarian bumi.

Selama ini, penghargaan fotografi lebih banyak berfokus pada konflik dan krisis yang terjadi di dunia, seperti perang dan bencana. Maka ajang Penghargaan Fotografi Alfred Fried dimaksudkan membangkitkan semangat dan respons publik untuk bertindak aktif terhadap masalah dunia.

Selain karya fotografi Dilla, empat karya pemenang lain menampilkan aspek kemanusiaan dalam jagat lingkungan hidup, yaitu “FridaysForFuture Climate Protests” karya Stefan Boness dari Jerman, “Le temps retrouvé” karya Alain Laboile (Perancis), “BORN FREE – Mandela’s Generation of Hope” karya Ilvy Njiokiktjien (Belanda), dan “The Rugbywomen: Tackling Stereotypes” Camilo Leon-Quijano (Perancis).

Secara khusus Stefan Boness diganjar sebagai pemenang foto terbaik dunia bertema perdamaian. Stefan menampilkan foto-foto unjuk rasa yang menyuarakan alarm perusakan bumi yang kian genting. Karya-karya foto yang terarsip dalam laman https://www.friedaward.com itu mempertegas bahwa ajang Penghargaan Fotografi Alfred Fried bertujuan menemukan gambar terbaik dari perspektif kemanusiaan yang lebih baik demi mendorong semangat positif bagi perubahan dunia. (Dikutip dari Alinea.id/Foto-foto: Dilla Djalil Daniel)