Press "Enter" to skip to content

Aksi Kekerasan Terhadap Warga Indonesia di Philadelphia Makin Marak

Aksi kekerasan terhadap warga Indonesia di Philadelphia, makin marak belakangan ini.
Dalam kurun waktu satu bulan lebih, kawasan Selatan Philadelphia yang banyak dihuni warga Indonesia jadi incaran penjahat. Tercatat tujuh orang menjadi korban aksi kejahatan itu. Tiga di antaranya adalah wanita dan empat orang lelaki.

Kerugian ditaksir berjumlah sebesar $ 4 ribu dalam bentuk uang tunai hingga luka memar di bagian dahi dan luka serius di bagian kepala dan wajah. Kasus pertama dialami oleh seorang ibu, sebut saja namanya Milenia. Ibu berusia 40-an itu dirampok dua orang tak dikenal saat berjalan di McClellan Street, antara S 18th dan S 17th Street. Uang pesangon $ 4 ribu sebagai uang pensiunnya selama 10 tahun bekerja, amblas digondol kedua perampok tersebut.

Hal yang sama juga dialami seorang ibu bernama samaran Diana. Wanita berusia sekitar 60 tahun itu, dipukuli dua orang hitam tak dikenal saat hendak menuju warung belanja ”Du Market”. Dahinya memar dan luka serius dibagian kepala, sehinga harus dirawat di rumah sakit setempat.

Bahkan seorang wanita dirampok menjelang pukul 06.00 pagi, pada bulan Oktober 2019 waktu setempat. Wanita bernama samaran Milan, pimpinan kelompok pekerja Indonesia di perusahaan Direct Mail Advertising, itu dirampok usai pulang kerja. Saat turun dari mobil jemputan Milan dirampok dua orang tak dikenal. Satu amplop gaji Milan dan 2 amplop gaji titipan dua pekerja Indonesia lain dirampas. Kerugian total sekitar $ 2 ribuan.

Yang lebih tragis dialami korban bernama samaran Hana (53 th) dan temannya Danu (52 th), yang dirampok di 16 th dan Chadwick Street, pada 21 Desember sekitar pukul 7 malam, hanya beberapa blok dari lokasi korban perampokan sebelumnya.

Hana yang membawa tas selempang merah, mengaku ditarik lehernya oleh pelaku dan dibanting ke sebuah mobil yang parkir di tepi jalan. “Kami sedang berjalan ke arah 17 th dan Mifflin Street, penjahatnya datang dari arah berlawanan dan langsung menyerang saya,” kata wanita asal Bandung yang baru tinggal 4 minggu di Philadelphia itu.

Salah satu korban perampokan (koleksi pribadi)

Melihat Hana diserang, Danu berniat menolong tetapi dia langsung dipukuli oleh 4 penjahat itu. “Saya dipukul, dibanting ke trotoar dan diinjak-injak oleh mereka,” ujar Danu kepada Lantern. Suara Hana yang menjerit-jerit minta tolong didengar penduduk sekitar yang langsung ke luar rumah untuk memberi pertolongan. “Mereka mengangkat saya dan Danu dari trotoar, lalu memanggil polisi,” ujar Hana.

Lelaki separuh baya yang hanya luka lebam itu, akhirnya diizinkan pulang oleh dokter di RS Methodist. Tetapi Danu yang mengalami patah tulang di bagian dengkul dan paha kiri terpaksa dibawa ke RS Jefferson di daerah Center City untuk menjalani operasi.  Hana mengaku kehilangan sejumlah uang, telepon genggam dan jam tangan sedangkan Danu kehilangan 2 paspor dan uang.

Ketika dikunjungi Lantern tanggal 27 Desember 2019, Danu mengatakan paspornya sudah ditemukan oleh 2 orang berbeda yang kemudian mengontaknya lewat Facebook messenger. “Saya bahagia sekali, masih ada orang baik di dunia ini,” katanya sambil tertawa. Menurut Danu, dia datang ke Philadelphia 2 minggu sebelum musibah itu untuk menikmati liburan musim dingin di Amerika. “Dengan luka saya ini, dokter bilang saya butuh setidaknya 3 bulan untuk pulih,” katanya lirih.

Bulan September lalu, seorang agen tenaga kerja Indonesia di Philadelphia dirampok saat mengambil uang tunai di sebuah kantor penyelenggara keuangan. Uang tunai sekitar $ 100 ribu mulanya hendak digunakan untuk membayar gaji mingguan warga Indonesia yang bekerja di sejumlah pabrik sekitar Philadelphia.

Sabtu lalu, seorang pria Indonesia juga dirampok saat hendak masuk ke pusat makanan Indonesia Toko Borobudur. Lelaki beranak dua ini diserang dan disergap. Uang tunai hasil gajiannya selama seminggu senilai $ 700 dirampas oleh pelaku yang berkulit hitam.

Berdasarkan pengakuan para korban, ciri-ciri kedua pelakunya berkulit warna hitam berusia sekitar 18 tahun hingga 28 tahun. Satu orang bertinggi badan 182 centimeter, dan seorang lainnya dengan tinggi badan 160 centimeter. Karena aksi kekerasan kebanyakan terjadi di kawasan South Philadelphia, maka kuat dugaan pelakunya juga tinggal di kawasan tersebut.

Korban terakhir juga mengalami nasib sama dengan peristiwa dua pekan sebelumnya, dan di tempat yang sama di sekitar warung makanan Borobudur, dan Toko Friendly, pusat belanja Indonesia lainnya, masih di kawasan Selatan Philadelphia.

Karena itu warga Indonesia diminta memperhatikan saran-saran berikut ini:

1. Kurangi kegiatan ke luar rumah mulai pukul 17.00 waktu setempat. Kecuali dalam keadaan terpaksa, seperti mengambil obat atau berangkat bekerja.
2. Masukkan uang tunai bernilai $ 20 ke atas ke dalam kaos kaki di bawah telapak kaki. Kaum hawa tak perlu malu bila harus menyembunyikan uang tunai di balik bra. Keluarkan hanya bila saat membayar saja.
3. Berhati-hati saat mengemudi mobil atau berkendara. Besar kemungkinan ada orang yang sengaja menjatuhkan diri ke depan kendaraan. Saat anda turun keluar dari kendaraan, maka saat itulah perampok akan menodongkan pisau atau senjata api.
4. Usahakan tidak berjalan sendirian. Minta temani dua atau tiga orang lain.
5. Bila ada orang yang mendekati, saat anda berjalan, usahakan lari ke dalam rumah, atau toko, laundromat, rumah makan, toko obat/farmasi, pompa bensin atau bila sempat telepon 911.

Jangan takut menelepon 911 untuk membatalkan pengaduan karena ternyata tak terjadi aksi kekerasan. ”Don’t worry about it,” tutur operator 911. ”You may leave if you need to go. It’s alright,” sambungnya.

Sejumlah pengurus Diaspora Indonesia di Philadelphia, juga memberi saran agar warga Indonesia lebih waspada. Lampu penerangan jalan di kawasan Selatan Philadelphia diusulkan untuk ditambah agar lebih benderang di malam hari. ”Aksi kampanye kewaspadaan harus lebih digiatkan, tak hanya bagi warga Indonesia tetapi juga komunitas lain,” tulis Sinta Penyami dalam diskusi di media sosial warga Indonesia Philadelphia.

Imbauan yang sama juga disuarakan Cut Zahara Hamzah. Salah satu pengurus Diaspora Indonesia berdarah Aceh ini mengungkapkan bahwa kondisi teror seperti ini tak bisa dibiarkan lama. ”Karena akan berdampak bagi kegiatan bisnis warga Indonesia di Philadelphia,” tulisnya. ”Pelanggan tak akan datang karena ketakutan, dan para ibu yang menitipkan masakannya di toko-toko makanan Indonesia akan rugi,” tulis Cut Zahara Hamzah.

Theny Landena, pastor di gereja Indonesian Christian Church di Philadelphia Selatan yang juga anggota The Philadelphia Police Asian American Advisory Committee, sudah mememinta kepada kepolisian Philadelphia untuk melakukan patroli di wilayah rawan itu. Ia juga mengimbau warga Indonesia di Philadelphia untuk berhati-hati.

“Saat ini saya masih berusaha mengumpulkan informasi lebih detil agar polisi bisa bertindak lebih efektif. Saya mohon warga Indonesia untuk tidak takut melaporkan peristiwa kejahatan kepada polisi,” tuturnya. Theny mengatakan sebagian warga yang mungkin sungkan atau takut bicara dengan polisi bisa mengontaknya di email:thenylandena@hotmail.com

Untuk itulah, pada hari Sabtu 4 Januari 2020 akan digelar temu muka dengan dua pemimpin kepolisian Philadelphia. Mereka adalah Kapten Polisi Louise Campione dan Kapten Michael O’Donnel, Kapolres Distrik 17 Philadelphia.

Pertemuan itu akan diadakan pukul 12.00 siang waktu setempat di Gereja Nations Worship Center, berlokasi di 1506 West Ritner Street, Philadelphia. ”Kami mengundang semua tokoh masyarakat untuk hadir,” ujar Benny Krisbianto, pimpinan gereja Nations Worship Center South Philadelphia.

Patut diketahui, Philadelphia adalah salah satu kota dengan warga Indonesia terbanyak di AS. Saat ini diperkirakan lebih dari 7000 orang Indonesia tinggal di kota yang memiliki puluhan resto dan toko Indonesia serta 14 gereja dan 1 mesjid Indonesia itu.

Banyak di antara warga Indonesia belum memiliki status keimigrasian secara resmi, sehingga mereka selalu membawa uang tunai ke mana pun. Status keimigrasian yang belum jelas menyebabkan mereka tidak dapat membuka akun di bank untuk menyimpan uang hasil jerih payahnya. Dan ini menjadi sasaran empuk buat para penodong dan pelaku kriminal di Philadelphia. (Indah Nuritasari, Emil Damsyik & DP).