Press "Enter" to skip to content

Konjen RI: “Kekerasan Terhadap WNI di Philadelphia adalah Kriminalitas Murni. ”

Disela-sela kesibukan  padatnya, Arifi Saiman, Konsul Jenderal RI New York memilih  menghabiskan hari libur tahun barunya di Philadelphia (1/1/2020) untuk bertemu dengan 7 orang WNI yang menjadi korban kekerasan baru-baru ini.

“Kami hadir hari ini karena  prihatin yang mendalam setelah mendapat laporan dan membaca tulisan mengenai kekerasan terhadap warga Indonesia di  “Indonesian Lantern” tanggal 30 Desember 2019,” ujar Arifi.

Liputan Indonesian Lantern tentang kekerasan terhadap WNI di Philadelphia, Pennsylvania dalam sebulan terakhir  mendapat tanggapan ramai dari berbagai pihak, termasuk KJRI New York (Philadelphia, PA  termasuk wilayah yuridiksi KJRI New York).

Hadir dalam pertemuan itu 7 korban yang bersedia berbagi cerita dengan KJRI yaitu JN (korban perampasan tas pada 23 November dan kehilangan  $4000 serta dokumen berharga), NT (dijambret tanggal 17 Desember dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit), HD dan DS ( dirampok tanggal 21 Desember di 16th dan Chadwick Street, DS harus menjalani operasi karena dengkul dan paha kiri patah), juga HR, DN dan RD. Semua WNI ini menjadi korban di wilayah yang sama, sekitar 15-17 and Mifflin Streets (kurang lebih 200 meter), yang hanya sekitar 3 blok saja dari Restaurant Indonesia di 1725 Snyder Avenue, tempat pertemuan diadakan.

Dalam bincang-bincang sekitar dua jam itu, para korban bercerita tentang kejahatan yang menimpa mereka. JN, misalnya, tak kuasa menahan tetes air matanya saat mengungkapkan penjambretan yang menimpanya. “Saya waktu itu belum sempat menaruh uang pesangon saya,  di bank,” tuturnya lirih. Ia bercerita bagaimana ia sempat berlari mengejar penjahatnya sepanjang beberapa blok, tetapi lelaki berkulit hitam yang memakai hoodie itu menghilang di tikungan jalan.

 

Korban lain, NT yang bercerita tentang luka jahitan di dahinya, juga tak kuasa menahan kesedihannya saat bercerita bahwa ia tidak membawa uang banyak dan hanya berjalan tak jauh dari rumahnya untuk membeli keperluan rumah tangga. “Saya sering ke warung Asia sendiri dan biasanya tidak ada apa-apa,” kata wanita berusia baya ini.

DS, yang masih terpincang-pincang dan berjalan dibantu tongkat, menyatakan tak pernah menyangka akan jadi korban kejahatan di Philly. “Saya sudah bolak-balik ke Amerika dan biasanya aman-aman saja,” kata DS yang baru tiba di Philadelphia 2 minggu sebelum insiden itu, lirih. 

Cerita senada disampaikan HD yang merupakan “solo traveler” dan sudah jalan-jalan ke banyak negara di Eropa dan Australia tanpa pernah mengalami masalah kriminal. “saya baru 4 minggu di sini, masih kaget, tak menyangka akan jadi korban penjambretan,” ujar wanita asli Bandung itu dengan nada sedih.

Korban lain RD bercerita bahwa si penjahat berpura-pura menabrakkan badannya ke mobilnya saat dia memarkir kendaraan dekat toko Indonesia di 17th and Mifflin. “Laki-laki berkulit hitam itu pakai hoodie jadi mukanya tidak jelas, ia menutupi kepalanya dan pura-pura luka lalu minta uang,” katanya. RD membuka dompetnya dan bermaksud memberi $100 kepada pria itu, tetapi tanpa dinyana teman penjahat itu menjambret dompetnya dari pintu mobil yang terbuka. RD mengaku mengalami sedikit luka lebam karena terkena pintu mobil dan kehilangan $300 dan surat-surat berharga.

 

Setelah mendengar langsung cerita dari para korban, Arifi menyatakan bahwa semua kejahatan yang menimpa WNI di Philadelphia Selatan ini adalah kriminalitas murni, tidak ada unsur lain seperti SARA.  “Kejahatan yg menimpa WNI ini adalah perampokan, penjambretan dan penodongan. Ini mungkin pengaruh kemiskinan masyarakat di kota ini karena Philadelphia masuk dalam daftar 10 kota besar termiskin di Amerika,” tambah Arifi.

Arifi yang beristrikan seorang polisi dan sekarang menjabat sebagai kapolsek Pancoran itu menghimbau agar komunitas Indonesia di Philadelphia mendiskusikan modus-modus kejahatan yang telah terjadi, mengidentifikasi lokasi-lokasi yang rawan kejahatan dan membuat semacam “Standar Operating Procedure” untuk aktifitas sehari-hari bagi warga Indonesia di Philadelphia Selatan. 

Arifi juga menambahkan KJRI New York dan KBRI akan mengirim utusan untuk ikut dalam rapat tanggal 4 Januari nanti dengan pihak kepolisian Philadelphia, terutama untuk meminta perhatian dan dukungan pengamanan bagi daerah Philadelphia selatan tempat mayoritas warga Indonesia tinggal yang sejauh ini dikenal rawan kejahatan.

 Di akhir acara, sambil menyerahkan sejumlah bantuan kepada 7 korban, Arifi  menghimbau masyarakat Indonesia di Philadelphia Selatan untuk berhati-hati dan menghindari perhatian penjahat dengan tidak membawa uang tunai berlebihan. “ Kita harus belajar mengamankan diri sendiri agar tidak menjadi korban kejahatan,” katanya (Indah Nuritasari & Emil Damsyik)