Press "Enter" to skip to content

Menghadiri Peluncuran Buku Ahok: ‘Panggil Saya BTP’

Oleh: Endah Sulwesi

Awalnya sebuah undangan mendadak dari Mbak Leila S. Chudori. Undangan terbatas. Saya langsung iyes. Ini momen yang saya tunggu: bertemu langsung dengan Ahok pada acara peluncuran bukunya: ”Panggil Saya BTP”

Ketika harinya tiba, badan saya nggreges-nggreges, tenggorokan perih. Tapi saya jalan terus. Belum tentu ada kesempatan seperti ini lagi. Saya berangkat bersama sekutu saya Kurnia Effendi dan Iksaka Banu.

Acara berlangsung jam 2, tapi jam 1 kami sudah sampai di lokasi, lantai 8 Gedung Tempo. Kami registrasi dan mendapat goodie bag buku panggil Saya BTP setebal 642 halaman hard cover. Tentu saja kami jingkrak-jingkrak kegirangan. Di dalam ruangan baru ada beberapa orang. Kami bertiga langsung menempati kursi terdepan. Mbak Leila datang tak lama kemudian.

Lalu, dengan cepat ruangan menjadi penuh sesak. Banyak yang berdiri bahkan. Dan, tiba-tiba sosok yang dinantikan itu memasuki tempat acara, mengenakan batik warna biru. Tanpa kacamata. Dia datang dari sisi kanan dan menyalami kami. Yaolo, saat itu betapa saya ingin memeluknya!

Kemudian, dia duduk di sofa persis di depan kami. Saya blingsatan ingin mengambil kesempatan itu untuk berfoto dengannya, tetapi acara keburu dibuka oleh Tompi.

Dan tibalah saatnya dia berbicara. Dia masih Ahok yang dulu: lugas dan lucu. Dia berkisah tentang masa-masa di penjara Mako Brimob. Dia bilang, ketika menerima vonis hakim, sebenarnya dia sangat marah, marah kepada semua orang, termasuk Jokowi. Namun, dia tak punya pilihan lain, harus menerimanya.

Empat belas hari pertama di Mako, dia mengalami stres yang berat. Dadanya sempat sakit dan sesak. Dia panik, mengira itu semacam serangan jantung. Dia mengadu kepada penjaga, tetapi si penjaga dengan santai menjawab, “Tenang, Bang, itu biasa dialami orang yang baru masuk. Lari-lari aja, nanti juga hilang. Wah, sialan benar nih orang,” kata Ahok.

Namun, ucapan si penjaga itu benar karena hari-hari selanjutnya, Ahok tak lagi merasakan sesak dada itu. Bukan karena lari-lari, tetapi menulis. Setiap hari dia menulis di sehelai kertas. Tulis tangan. Kalau pegal, dia push up 30x. Sebentar saja, tubuhnya membesar. Baju-bajunya menjadi sempit. Selain menulis, dia mengisi waktunya dengan membaca buku-buku dari para pembesuknya. Berbagai buku dia baca, termasuk Alkitab.

Lalu, datanglah masalah itu: Perceraian dengan Vero. Dia mengungkapkan bahwa dia menceraikan Vero karena sudah tidak ada jalan lain lagi. Dalam tradisi Tionghoa dan agama Kristen yang dianutnya, perceraian tidak diperkenankan. Dia sudah mencoba mempertahankannya, berusaha merebut kembali miliknya yang diambil orang. Tetapi, Vero lebih memilih orang itu. Maka, cerai adalah satu-satunya jalan yg terbaik buat mereka.

Endah Sulwesi

Saya terharu. Namun, ada lagi yang lebih mengharukan, waktu dia cerita ada pihak yang menawarkan suaka politik ke Swiss dan Inggris. Dia menolak. Dia bilang, kalau saya menerima, saya tidak bisa pulang lagi ke Indonesia, tanah air saya.

Juga saat dia menjawab pertanyaan seorang hadirin, warga rusun eks Waduk Pluit yg memintanya datang ke sana menengok mereka. Ahok cerita waktu memindahkan warga Waduk Pluit dia harus berhadapan dengan aktivis-aktivis ham yang menentangnya. Dia jalan terus karena kalau tidak dipindahkan, saat waduk itu banjir mereka akan tenggelam. Dia sudah siapkan semuanya di rusun itu, sampai daster, bh, dan celana dalam. Warga tinggal masuk.

Begitulah. Pada akhirnya dia tetap Ahok. Ahok yang dulu yang jujur dan berintegritas. Tak ada yang bisa mengubahnya. Mako Brimob malah membuatnya semakin kuat dan bersinar, seperti Tjahaja Purnama. (Endah Sulwesi)