Press "Enter" to skip to content

4 Ribu Penduduk New York Dikarantina & Beberapa Universitas Ditutup Akibat Virus Corona

Sebanyak 4 ribu warga Negara Bagian New York diminta untuk mengurung diri di rumah masing-masing karena ditengarai tertular virus korona. ”Bersama instansi terkait, kami melakukan pendekatan dan memberi informasi saat mereka turun dari pesawat udara,” tutur Dr. Oxiris Barbot, Komisioner Kesehatan New York, dalam konperensi persnya Kamis 5 Maret 2020.

 

Dr. Oxiris menambahkan, pihaknya mengunjungi mereka yang dicurigai itu setiap hari. ”Untuk memastikan mereka tidak mengalami gejala terkena virus corona,” katanya. Harian The New York Times mengabarkan, sebanyak 44 orang yang diharuskan untuk dikarantina, termasuk 33 di antaranya dari Westchester County dan 9 dari Kota New York, satu di Long Island dan satu lagi dari Erie County.

Sementara itu, jumlah kasus virus corona di AS mencapai 250 kasus, dan sejumlah laboratorium umum di AS masih menunggu perlengkapan uji diagnostik untuk menentukan tingginya krisis penyakit menular ini. Pengiriman 75 ribu alat uji yang direncanakan pekan ini, tersendat di perjalanan.

Presiden Donald Trump menanda tangani RUU dana sebesar $ 8,3 miliar untuk menanggulangi kasus ini, dan memutuskan berkunjung ke Pusat Pengendalian dan Perlindungan Penyakit Menular di Atlanta. Beberapa jam sebelumnya Trump sempat menunda kunjungannya itu, sehingga banyak warga AS mengecam tindakan pemimpin AS itu.

Kecaman yang sama juga terjadi di Jepang, karena PM Jepang Shinzo Abe dinilai kurang tanggap bencana dan terlalu lamban, sehingga infeksi semakin merebak. Begitu juga di China. Warga Wuhan yang dikarantina di rumah mereka sejak beberapa pekan, berteriak-teriak ”Bohong! Semuanya bohong!” dari balik jendela, kepada Wakil PM China Liu He yang sedang mengunjungi kompleks perumahan mereka.

Sejauh ini jumlah Virus Corona menelan lebih dari 3.300 jiwa di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia, WHO melaporkan hampir 100 ribu kasus ditemukan di seluruh dunia. Angka itu dibantah John Hopkins University yang menyebutkan pada kenyataannya jumlahnya melebihi angka WHO.

University of Washington mengumumkan seluruh kegiatan kuliah dibatalkan mulai Senin pekan depan, dan meminta para mahasiswa mengikuti kuliah atau ujian lewat internet. Dengan demikian 50 ribu mahasiswanya yang biasanya mengikuti kuliah di tiga kawasan Negara Bagian Seattle, harus berada di rumah, hingga akhir semester 20 Maret nanti. ”Mudah-mudahan setelah itu, kegiatan kuliah akan berjalan normal kembali,” ujar Anna Mari Cauce.

Sementara, di Philadelphia, Pendeta Lukas Kusuma, pemimpin Gereja Bethany Miracle Center mengimbau umatnya untuk menghindari bersalaman tangan secara langsung. ”Sebaiknya salam kita lakukan dengan cara menyatukan telapak kedua tangan kita,” tulisnya. Di lobi lantai 1 dan 2 pihaknya juga menyediakan Hand Sanitizer sejak lama.

Pdt. Lukas Kusuma (kedua dari kanan) bersama para pemimpin agama Philadelphia.

”Tolong untuk sementara waktu kami juga meminta agar jemaat gereja lain juga menghindari bersalaman tangan,” sambung Lukas Kusuma. ”Bagi saya pribadi, jika ada jemaat yang mau memberi salam dengan tangan, saya akan tetap menyalamiya,” tulis Pendeta Lukas Kusuma, pemimpin gereja warga Indonesia terbesar di Philadelphia. (DP).