Press "Enter" to skip to content

Tatang Bersama 8 Joker di Museum Nasional Jakarta dan Budapest, Hungaria

Tatang Ramadhan Bouqie akan menggelar delapan lukisan karyanya di Museum Nasional Jakarta 23 Maret hingga 1 April 2020 nanti. Yang unik perupa seni lulusan Institut Teknologi Bandung itu akan menggelar lukisan yang menampilkan Joker dalam berbagai pose.

 

”Bagi saya, Joker mewakili manusia dengan segala ide, harapan, mimpi, ambisi dan sekaligus sebagai makhluk paling mulia dan berkuasa di muka bumi,” ujarnya. Tatang, yang awalnya menampilkan badut dalam setiap lukisannya itu, terpesona dengan sosok Joker setelah menonton film dengan judul sama dan dibintangi Joaquin Phoenix.

Menurutnya, ”Joker mewakili pandangan saya tentang manusia di sekitar kita,” katanya. ”Manusia mampu tampil dengan penuh kepalsuan atau kebenaran, dan melahirkan rasa takjub, mengagumkan,” ujar Tatang yang pernah menjadi ilustrator/perancang grafis Majalah TEMPO, Matra dan beberapa majalah lain.

SAYA SEBAGAI JOKER.
Mengapung Bersama Puisi Tentang Sepatu di Langit Sungai Danube.

Karena itu, di setiap lukisannya, ia menampilkan Joker, dalam berbagai gaya dan latar belakang. Mulai lukisan berjudul: ‘Saya sebagai Joker dalam Perayaan Absurditas Manusia’ atau ‘Dalam Tarian Langit Pedesaan’, juga ‘Cengkerama di Alam Pedesaan’.

Atau ‘Mengapung bersama Puisi Tentang Sepatu di Langit Sungai Danube’, atau ‘Menari Bersama Ikan-ikan’, dan Menari di Bawah Langit Penuh Topeng’ dan ‘Dalam Tarian Kehidupan. Semua karya lukisnya itu dibuat tahun 2020, menggunakan cat akrilik di atas kanvas.

Tatang, yang pernah menjadi Creative Director di Media Group, Jakarta selama 10 tahun itu, selalu disiplin membagi waktu untuk melukis. ‘Saya melukis setiap hari seperti orang kantoran. Selama 8 jam atau bahkan bisa 12 jam sehari,” tuturnya dalam sebuah wawancara di laman seni.co.id.

Dalam Perayaan Absurditas Manusia.

”Saya tidak mau menunggu inspirasi, tetapi memburunya. Saya juga tidak tergantung pada mood tapi menciptakannya dan membangunnya,” kata Tatang yang pernah meraih Indonesia Art Award Competition 2010 dari Yayasan Seni Rupa Indonesia.

Karena itu, setelah berpameran di Museum Nasional Jakarta, Tatang akan menggelar pameran lukisannya di Budapest, Hungaria bersama para pelukis Hungaria dalam rangka kerjasama pelukis kedua negara. Itu pun tergantung kondisi dunia yang kini dilanda pandemik virus Corona. Ada kemungkinan pameran itu bakal dibatalkan. Begitu pula pameran di Museum Nasional Jakarta yang bisa jadi akan ditunda untuk waktu tak tertentu.

Tatang, kanan bersama para pelukis Indonesia di Budapest, Hungaria (pribadi)

”Saya diundang Dubes RI untuk Hungaria Dimas Wahab, berpameran di sana bersama sejumlah pelukis Indonesia lainnya,” tuturnya. Tatang diundang lewat ibu Toeti Heraty, pemilik galeri Cemara 9 yang sekaligus menjadi kurator bersama Ari Kupsus, pemilik galeri di Budapest.

Menari di Bawah Langit Penuh Topeng.

Tahun lalu, mereka dikirim ke Budapest dan kota-kota lain untuk mencari insprasi lukisannya masing-masing. ”Ini sekalian promosi pariwisata kita,” tutur Dubes Indonesia Dimas Wahab.

Jadi jangan heran bila salah satu lukisan Tatang melukiskan Joker mengapung bersama Puisi dan Sepatu di Langit Sungai Danube.

Penemuan arkeologis menemukan permukiman besar suku Celtic di Budapest selama ribuan tahun. Mereka menetap di kedua tepi Sungai Danube sejak abad ke-3 SM. Bangsa Romawi, Turki, Jerman, Latin dan pedagang muslim dari Bulgaria juga pernah bermukim di tepian Sungai Danube yang bersejarah itu. (DP & Foto Cover: Fernando Randy.)