Press "Enter" to skip to content

Cerita Warga Indonesia di AS Saat Krisis Corona

Para karyawan Yoshimoto, cemas tatkala Presiden AS Donald Trump mengumumkan krisis Virus Corona di AS pekan lalu. Benar juga. ”Seluruh karyawan kami diminta tinggal di rumah,” tutur Mudy. ”Kecuali bagian delivery, tetap masuk bekerja,” lanjutnya. ”Awalnya kami tidak kerja penuh, cuma mengurangi dua dari 4 chefnya,” tutur Mudy Soeratman, chef senior di restoran tersebut.

Karyawan Yoshimoto, New Jersey, (koleksi Mudy)

Menurut Cak Mudy, restoran yang terletak di Kota Turnersville, New Jersey itu awalnya mengundi siapa saja karyawan yang akan dirumahkan, apabila benar-benar krisis. ”Jadi, semuanya fair, dan tidak ada yang merasa dirugikan. Semua diselesaikan secara musyawarah,” lanjutnya.

Yoshimoto yang sebagian sahamnya dimiliki oleh seorang warga Indonesia itu, dikenal sebagai restoran yang nyaman bagi karyawannya. Gajinya pun cukup memadai. Mudy yang sejak 6 tahun bekerja di Yoshimoto bergaji $ 120.00 per hari itu, merasa bosnya juga ringan tangan dan sering membantu.

Dalam kondisi normal Yoshimoto kedatangan tamu hingga 70 orang per hari. Bila akhir pekan jumlahnya sampai 80 orang. Bisa dihitung berapa besar pendapatan restoran Jepang yang menampilkan berbagai makanan dari negara lain itu.

 

”Ada Thai Cuisine, China dan Jepang. Selain Hibachi juga ada Sushi,” tutur Mudy. Bahkan, banyak mahasiswa Indonesia yang bekerja paruh waktu bila diperlukan. Sampai-sampai para tamu bersedia menunggu di bar untuk menikmati makanan yang harganya berkisar antara $ 12.00 hingga $ 25.00 per porsi. ”Mudah-mudahan krisis ini tidak terlalu lama,” kata Mudy yang memperkirakan akan bekerja lagi dalam waktu 30 hari ke depan.

Sama halnya yang dialami sejumlah warga Indonesia lain yang tinggal di Virginia. Irwan, salah seorang koki hibachi harus tinggal di rumah untuk beberapa waktu, karena restorannya ditutup akibat krisis virus corona. Seorang pembuat Pizza di Maryland harus pindah ke kedai pizza lain, karena merugi, bahkan sebelum krisis virus Corona menimpa AS.

Sadewo, subkontraktor pembangun di Alexandria, Virginia, AS.

Namun lain halnya bagi Sadewo, krisis ini tidak banyak berdampak bagi bisnsnya. ”Alhamdulilah, ada saja pekerjaan yang saya garap,” ujar Sadewo subkontraktor sebuah perusahaan pembangun di Alexandria, Virginia. Sadewo yang sudah 16 tahun menjadi kontraktor Matress and Carpet Center itu, sedang menggarap renovasi kamar mandi sebuah rumah mewah. ”Sudah tiga minggu belum juga selesai,” katanya.

Sadewo yang bernama lengkap Lantip Sri Sadewo itu, mengharapkan agar krisis virus COVID-19 itu tak sampai menjadikan Negara Bagian Virginia, mengalami lockdown. ”Ada kemungkinan hal itu terjadi, tapi saya berharap mudah-mudahan tidak terjadi,” katanya. Maklum pekan lalu, Dewo menyaksikan aksi serbu di sejumlah supermarket dan pasar swalayan besar lainnya.

Sementara itu, perusahaan Chelten Cleaners terpaksa menutup salah satu dari tiga cabangnya yang berlokasi di Conshohocken, Pennsylvania karena sangat sepi. Namun, Pak Lee Byu, pemiliknya keturunan Korea Selatan, tetap mempertahankan dua toko lainnya masing-masing di kawasan Philadelphia dan Collegeville, PA.

”Masing-masing toko menangguk pendapatan kotor sampai $ 4000 per minggu,” tutur Anestesia Gouw, salah seorang karyawannya. Begitu juga pusat usahanya di Chelten Cleaners tetap dipertahankan mengingat seluruh pakaian digarap di sana.

Sementara itu, salah satu perusahaan asuransi kesehatan Cigna di kawasan Blue Bell, mulai tampak kosong. Perusahaan nasional itu, meminta karyawannya untuk bekerja di rumah masing-masing.

Setiap karyawan dibekali program komputer dan jaringan, sehingga pengerjaan klaim asuransinya tidak terhambat. Maklum perusahaan raksasa beromset ratusan juta US dolar itu, baru saja menerima order 100 ribu peserta asuransi. ”Saya khawatir tidak mampu menyelesaikan klaim yang mengalir deras ini,” tutur Sonny Prasetyo yang bekerja sebagai prosesor klaim. (DP)