Press "Enter" to skip to content

Dr Ashih Jha: Pemerintah AS Kurang Cepat Tanggap Hadapi Corona

Sampai akhir pekan lalu, jumlah korban meninggal akibat virus corona mencapai lebih dari 300 jiwa di AS. Dan jumlah kasus virus n-COVID 19 mencapai 25 ribu, bahkan pekan ini dikhawatirkan bakal bertambah.

Dr. Ashih Jha, Direktur Harvard Global Health Institute, sampai geleng-geleng kepala melihat Pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilai tidak cepat tanggap. ”Sejak beberapa bulan lalu, mereka mengatakan kasus itu tidak jadi masalah karena virus itu bisa dikendalikan,” tutur Ashih Jha.

 

”Mereka menganggap enteng penyakit menular. Padahal kita tidak boleh menganggap remeh penyakit itu,” lanjutnya. ”Kita harus menangani kasus itu secara serius. Tidak bisa main-main,” tutur Ashih Jha.

Kekhawatiran itu kini terjadi dan penyakit merebak ke mana-mana. ”Bahkan sudah terlambat dua bulan menangai kasus ini,” tutur seorang ahli kesehatan kepada stasiun televisi CNN. Sejumlah negara bagian seperti New York, Pennsylvania, New Jersey dan California, serta Illionois berstatus lock-down.

Artinya, mereka diwajibkan berada di rumah, kecuali mereka yang mempunyai kebutuhan penting saja boleh ke luar rumah. Stasiun NBC News memberitakan 80 juta jiwa rakyat AS berada di bawah pengawasan virtual lockdown di seluruh AS.

Sejumlah tempat pengecekan kesehatan didirikan di beberapa lokasi. Termasuk di Philadelphia dan di kampus Temple University di Ambler, Pennsylvania. Karena alat pengecekan terbatas, bagi mereka yang merasakan gejala n-COVID 19, seperti batuk kering, sesak nafas, suhu badan tinggi dan berusia 65 tahun lebih, meskipun kini banyak anak muda yang terjangkit virus mematikan tersebut.

Salah satu indikasi terlambatnya pemerintah AS menangani kasus ini bisa didengar dari pengalaman seorang warga Indonesia yang baru pulang dari Jawa Timur. Warga bernama samaran Srikandi ini tiba dan transit di San Francisco sebelum meneruskan perjalanan menuju Philadelphia.

 

”Masuk bandara, ya santai, biasa aja, tanpa ada pemeriksaan ketat,” katanya. Srikandi yang melihat banyak penumpang lain berdiri berdekatan, dan berkumpul menunggu sanak keluarganya. ”Cuma dicek suhu badan saja,” lanjutnya. Sesampai di Bandara Newark, New Jersey, begitu juga kondisinya. Sampai-sampai ia berpikir jika kabur begitu saja, tak ada yang tahu.

Tapi Srikandi tak mau gegabah. Dengan biaya sendiri, ia menginap di penginapan selama 14 hari khawatir membahayakan penghuni rumah dan keluarga. Maklum, rumahnya harus berbagi dengan pemilik rumah. ”Saya bayar sendiri, karena biaya tidak disediakan pemerintah AS,” kata Srikandi yang juga harus meliburkan diri dari pekerjaan.

Lain halnya yang terjadi pada dua warga AS di New Jersey. Eliyohu Zaks, 49, ditangkap polisi karena menggelar pesta pernikahan di rumahnya di Spruce Street, Lakewood, New Jersey. Pesta itu dihadiri sebanyak 50 orang tamu, sehingga ia dianggap melanggar peraturan berkumpul lebih dari 10 orang.

Demikian juga yang terjadi di rumah Shaul Kuperwasser. Lelaki Yahudi berusia 43 tahun itu, juga ditangkap polisi karena menggelar pesta di rumahnya. Tetangganya menelepon polisi melihat banyak tamu yang datang, sehingga Shaul pun digelandang ke kantor polisi terdekat.

Suasana kota-kota besar kini cukup sepi. Suasana Lapangan Times Square di New York tampak lengang, hanya beberapa orang saja yang lewat. Hampir semua toko tutup kecuali toko atau supermarket yang menjual kebutuhan sehari-hari. Demikian juga di Phiadelphia. Seluruh rumah makan Indonesia, juga tutup, hanya melayani order lewat telepon.

Demikian juga di California. Pusat keramaian di Hollywood sekarang pun sepi pengunjung. Disneyland juga menghentikan kegiatannya. Juga acara pencarian bakat menyanyi ‘American Idol’, akan mengakhiri kegiatannya setelah sesi seleksi kedua, hari Minggu ini. Rekaman lanjutan akan digelar setelah kegiatan normal kembali.

Yang agak ramai, selain pusat-pusat sayuran, adalah toko penjualan senjata api. Di hampir seluruh negara bagian diserbu pembeli yang khawatir akan terjadi keributan dan perampokan besar-besaran, bila keperluan rumah tangga menipis. Terutama di kawasan berpenghasilan rendah. (DP)