Press "Enter" to skip to content

Konjen RI New York Video Konperensi Bersama Para Senior Diaspora Indonesia

Konjen RI, Arifi Saiman (kanan) saat video conference (koleksi KJRI NY)

Menghadapi krisis virus Corona yang makin memprihatinkan di AS, Konsul Jenderal RI New York, Arifi Saiman menggelar video conference dengan para sesepuh Diaspora Indonesia. Maklum, warga lanjut usia selama ini dianggap sebagai warga paling rentan menghadapi virus n-COVID 19 itu. Lebih-lebih jumlah kasus Corona di AS mencapai 100 ribu kasus dan seribu lebih korban meninggal dunia.

Video conference yang dimulai pukul 15.00 Kamis 26 Maret 2020, mendapat perhatian cukup besar dari para undangan. Acara tanya jawab yang dibuka oleh Konjen Dr. Arifi Saiman dan Perwakilan tetap RI di PBB Dr. Dian Triansyah Djani, disambut antusias oleh para peserta dari berbagai kota lewat aplikasi Zoom. Mulai dari gejala terpapar virus corona hingga cara penanggulangan dan lain-lain.

dr. Alvinsyah Pramono (pribadi)

”Kita bisa membuat larutan desinfektan sendiri,” tutur dr. Alvinsyah Pramono. ”Kita bisa menggunakan bleach yang dicampur dengan air dengan komposisi 10% dan 90% air,” lanjut dokter lulusan Universitas Padjadjaran itu. ”Tapi kita harus menggunakan kaos tangan karet karena cairan itu terasa panas. Silakan membersihkan meja, alat2 atau perabotan rumah tangga dan lainnya,” kata Alvinsyah Pramono yang kini tengah menempuh S3 Clinical and Translational Science di Rutgers Biomedical and Health Science, Rutgers, The State University of New Jersey.

dr. Denita Utami (pribadi)

Nasehat yang sama juga diutarakan dr. Denita Utami. ”Perlu diperhatikan agar tidak menyentuh knob pintu, pegangan tangga atau lainnya, dan tidak memegang wajah anda,” kata dokter lulusan Universitas Indonesia itu. ”Sebab virus akan masuk melalui lubang hidung atau mata, bahkan mulut,” lanjut Denita Utami yang tengah melanjutkan studinya di Columbia University Mailman School of Public Health, New York.

Di antara peserta video conference ada pula yang memberikan informasi tentang komunitas Indonesia di sekitarnya. Seperti yang diutarakan Pendeta Rene Shahir dari Woodside, Queens, New York. Menurutnya, ada seorang warga Indonesia yang menderita sakit dan masih dalam pemantauan apakah terpapar virus Corona. Sementara Pendeta Harold Lapian dari New Hampshire yang melaporkan di lingkungannya telah terpapar 8 orang korban, namun tidak satu pun berasal Indonesia.

Seorang peserta dari Philadelphia menanyakan tentang bantuan pihak Konsulat Jenderal RI apabila ada warga yang terbukti postif virus n-COVID 19? ”Kami akan membantu sekuat tenaga untuk memonitor warga kita yang sakit,” tutur Konjen RI untuk New York, Arifi Saiman.

 

”Kami mendapat pesan khusus dari Departemen Luar Negeri di Jakarta, agar membantu dan mengutamakan warga Indonesia,” katanya. ”Meski kondisi keuangan terbatas dan kami mungkin tidak dapat sering menengok warga Indonesia karena jarak yang jauh, tapi kami tetap usahakan,” lanjut Arifi.

Lalu bagaimana bila ada warga Indonesia yang tertular virus Corona dan harus dimakamkan atau dikirim ke Indonesia? ”Semua itu tergantung dari ketentuan pemerintah setempat. Jika jenasah harus dimakamkan di sini, kita harus menurut sesuai peraturan setempat,” kata Arifi melanjutkan.

Dian Triansyah Djani, Wakil Tetap RI di PBB New York (pribadi)

Bahkan, ”Prosedur pengangkutan jenasah warga Indonesia di negara asing cukup pelik. Selain harus ditempatkan di peti tertutup rapat juga dilapis plastik,” kata Oki Yanuar, Sekretaris I/Konsul KJRI New York.

Hal senada juga diungkapkan Dian Triansyah Djani. Perwakilan Tetap Indonesia untuk PBB di New York ini menguraikan pengalamannya saat memulangkan jenasah seorang prajurit Indonesia dari Afrika yang meninggal dunia. ”Cukup rumit. Padahal prajurit itu bukan korban penyakit seperti Corona,” katanya.

Bagaimanapun, upaya diskusi jarak jauh seperti ini layak dipujikan. Diskusi serupa pernah digelar sebelumnya pekan lalu, membahas tentang kesiapan dan tata cara menghadapi krisis seperti sekarang ini. Untuk itu, Pihak KJRI telah menerbitkan buku Saku COVID-19, yang disusun Tim Pos Keehatan Diaspora bekerjasama dengan KJRI New York.

Silakan klik di foto buku saku tersebut, untuk mengunduh isi buku seluruhnya. Banyak peserta diskusi yang meminta agar video conference seperti ini sering digelar, untuk makin merekatkan hubungan KJRI dengan warga Indonesia di AS. (DP)