Press "Enter" to skip to content

Warga Indonesia di Philadelphia Alami Perundungan Bahkan Diludahi

Ternyata banyak warga Indonesia di Kota Philadelphia yang mengalami aksi kekerasan dan perundungan. Bahkan ada yang diludahi. Tak cuma itu. Seorang pelajar SLTA pun menjadi bahan olok-olok dalam bis kota, setiap hari. Dan, perlakuan tak menyenangkan itu terjadi sejak krisis pandemi virus COVID-19 merebak di AS. Di negara yang dikenal menjunjung tinggi hak asasi manusia.

 

Peristiwa menyedihkan itu terungkap dalam konferensi video yang digelar Indonesianlantern.com, Ahad 5 April 2020. Konferensi bertajuk ”Upaya Menghadapi Kekerasan Terhadap Etnis Asia” tersebut diikuti lebih dari 50 partisipan dari berbagai kota Pantai Timur AS.

Brigjen Polisi Ary Laksamana Widjaja

Apalagi, pembicara utama acara itu, Brigadir Jenderal Polisi Ary Laksamana Widjaja, yang menguasai berbagai cara pencegahan aksi kekerasan yang menimpa warga Indonesia di Philadelphia.

Berikut ini penjelasannya perwira tinggi polisi yang bertugas sebagai Atase Kepolisian Kedutaan Besar RI di Washington DC:

1. Mengapa orang Indonesia atau Asia sering jadi korban kejahatan karena stereotype kita yg suka bawa uang cash ke mana-mana. Mereka lebih baik menyimpan uang cash banyak di rumah, sehingga sering menjadi prioritas utama sasaran kejahatan.
2. Karena pengamanan diri menjadi prioritas, kita harus ekstra dibandingkan dgn warga AS lainnya. Seperti: upayakan tidak pergi sendiri, bawa barang yang bisa digunakan sebagai alat pertahanan diri, seperti payung, lampu senter, spray pepper, cutter. Lingkungan rumah tinggal supaya terang di luar dan bagian dalam lebih gelap atau gunakan gordyn. Kunci rumah (tidak terlalu umum di AS) supaya tidak menarik perhatian dari luar. Bilamana memungkinkan pasang CCTV di sekeliling rumah.
3. Upayakan saat bepergian tidak mengenakan perhiasan mencolok, baju yang simpel dan gunakan rute yang berganti-ganti, jangan sama terus. Juga jam-jamnya jangan sama, agar tidak dihafal pelaku kejahatan.

4. Prinsipnya adalah lebih baik mencegah terjadinya kejahatan sebelum jadi korban.
5. Bentuk group WA atau apa saja yang hanya digunakan untuk emergency saling beritahu situasi.
6. Kembangkan Community Policing dengan melibatkan tetangga agar bisa menjadi pelindung kita. Atau memberitahu kita jika ada hal-hal mencurigakan Ide untuk berbagi dengan warga sekitar adalah bagus untuk membangun komunitas saling peduli.

7. Fear of Crime yg terjadi di kalangan masyarakat Asia justru membuat pelaku merasa mendapat “angin”. Untuk menunjukkan bahwa kita tidak takut, dengan mengantisipasi kerawanan kejahatan, seperti yang sudah disebutkan di atas, yaitu melakukan upaya pencegahan/pengamanan diri & lingkungan.

Inilah yg disebut dengan konsep “Broken Windows Policing”, dengan tidak memberikan peluang penjahat melakukan kejahatan, karena lingkungan terang, bersih, ada CCTV (jika mungkin), komunikasi antar warga dan lain-lain. Ini artinya kita tidak beri peluang adanya kejahatan sekecil apapun, dan kita berani utk laporkan adanya setiap kejahatan sekecil apapun di lingkungan kita.

Pendeta Theny Landena

Lain halnya cerita Pastor Tenny Landena. Pemimpin agama Gereja ICC Philadelphia ini menceritakan beberapa anggota jemaatnya yang mengalami perundungan. ”Bahkan ada yang diludahi!,” katanya sehingga banyak peserta diskusi yang kaget mendengar hal ini.

Ada yang diikuti sewaktu hendak berbelanja ke Warung Pendawa, pusat bahan makanan Indonesia di Philadelphia. Juga ada pula pengantar paket UPS (United Parcel Service) yang dirampok dan aksi kejahatan lainnya.

Karena itu, Tenny Landena menyarankan ”Agar warga Indonesia menggunakan aplikasi informasi kejahatan yang terjadi di sekitar kita dengan mengunduh Citizen.com,” tutur Tenny, pendeta yang ditunjuk sebagai wakil warga Indonesia berhubungan dengan pihak Kepolisian Philadelphia.

Yang menyedihkan dialami Anya Bakri. Remaja cantik ini mengalami perlakuan buruk dan perundungan di atas bis kota, setiap hari. Mulai dari kata-kata ‘Cina balik ke negaramu’ atau sekedar diolok-olok ‘Cina’ bahkan sebutan lain yang menusuk hati. ”Kalau aku ceritain setiap hari, mamah pasti menangis,” tutur Anya Bakri, putri Indah Nuritasari, yang aktif dalam kegiatan remaja Masjid Al Falah itu.

Anya Bakri, kedua dari kanan (koleksi pribadi)

Karena itu, menurut Pastor Aldo Siahaan, ”Kita sebagai etnis Asia harus marah menghadapi perlakuan kasar dan menyakitkan hati seperti ini,” tutur pemimpin gereja Philadelphia Praise Center. ”Kita tidak bisa tinggal diam,” lanjutnya. Untuk itu diusulkan untuk menyusun sebuah rencana atau apapun bentuknya, untuk melakukan pembelaan diri.

Pastor Aldo Siahaan.

”Saya tidak tahu apa bentuknya. Nanti bisa kita bicarakan bersama,” kata Pastor Aldo Siahaan yang banyak berjasa kepada warga Muslim Philadelphia. Beberapa tahun lalu, Aldo pernah menyediakan gerejanya menjadi tempat sholat Ramadhan bagi warga Muslim yang saat itu belum memiliki gedung sendiri. Tanda salib raksasa ditutup kain putih, bangku-bangku disingkarkan dan sholat pun berjalan lancar.

Lain lagi tanggapan Aditya Setiawan. Pengurus senior Masjid Al Falah ini mengungkapkan bahwa Sinophobia atau sentimen anti China yang terjadi belakangan ini acapkali terjadi apabila terjadi peristiwa besar di AS. Bahkan etnis dan golongan lain pun mengalami hal yang sama. Usai peristiwa 9-11 juga terjadi Islamophobia, sehingga banyak warga Muslim jadi bulan-bulanan dan dikucilkan atau mengalami perlakuan buruk seperti yang dialami warga Asia sekarang ini.

 

”Sikap rasialisme juga muncul di kalangan kepolisian AS. Anti-Asia, anti Yahudi dan anti Asia juga juga banyak, sehingga puluhan di antaranya harus dinonaktifkan atau dibebas-tugaskan,” tutur Aditya Setiawan yang sering menghadiri acara kelompok-kelompok Muslim dan petugas keamanan di Washington DC dan kota lainnya.

Aditya Setiawan (paling kiri)

Diskusi itu berakhir setelah berlangsung hampir dua jam itu. Lebih dari 50 peserta berasal dair berbagai kota — Washington DC, New York, New Jersey, Delaware dan Philadelphia — tak mau beranjak dari komputernya mengikuti diskusi yang cukup menarik dan relevan dengan kondisi dewasa ini.

Termasuk Rizal Wirakara, Konsul bidang Sosial dan Politik Konsulat Jenderal RI di New York yang diutus mewakili Konjen Ari Saiman yang harus menghadiri konferensi video di tempat lain.

Pemutaran video berisi pelecehan dan perundungan etnis Asia membuat video konferensi yang baru digelar pertama kali oleh Indonesianlantern.com – sebuah majalah komunitas Indonesia di AS – semakin banyak dibicarakan berbagai kalangan warga Indonesia di AS. (DP)