Press "Enter" to skip to content

Kisah Pak Jaja Mengurus Jenazah Warga Muslim Indonesia di New York

Di setiap upacara penguburan warga Indonesia Muslim di New York, bisa dipastikan dia akan hadir. Lelaki bertubuh kecil berpeci itu akan membantu seluruh proses memandikan jenasah, mengenakan kain kafan bahkan mengurus jenasah hingga peristirahatan terakhir.

Dia adalah Mohammad Toha, yang sejak belasan tahun telah memakamkan puluhan jenasah. ”Sejak krisis Corona, saya memakamkan empat jenasah,” tutur Mohammad Toha yang dipanggil Pak Jaja itu.

Mohammad Toha (pribadi)

Karyawan sebuah bank Korea itu menuturkan, pada masa-masa normal, proses pemakaman warga Muslim berjalan seperti proses pemakaman di Indonesia. Bahkan kerap kali, Pak Jaja tidak perlu repot memandikan jenasah atau menutup kain kafan, karena semuanya dilakukan pihak rumah duka (funeral house) khusus Muslim yang ada di New York. ”Kadang saya juga ikut memandikan jenasah,” tutur Pak Jaja yang ikut membantu penguburan di dua rumah duka khusus Muslim di Brooklyn dan Queens, New York.

Menurutnya, warga Indonesia memiliki sebidang tanah kuburan dengan kapasitas 50 makam di Long Island. Karena hampir terisi, kini warga Indonesia memiliki 100 makam lagi di Marlboro, New Jersey. Dan itu dibeli berdasarkan iuran dan gotong royong dari jemaah Masjid Al Hikmah. Masjid berlokasi di Astoria ini, dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila itu, pimpinan mantan Presiden Soeharto, pada tahun 1980.

Bantuan cukup besar diberikan oleh Pak Jaja bersama sejumlah warga Indonesia lainnya. ”Terutama bagi warga yang sebatang kara dan tidak memiliki keluarga. Kami selesaikan upacara pemakamannya hingga tuntas,” tutur Mohammad Toha.

Perhatian!! video berikut ini bukan untuk konsumsi anak-anak!!!

 

Termasuk di antaranya, empat warga Indonesia yang meninggal dunia akibat virus Covid-19. ”Kami harus menunggu pemeriksaan selama 4 hari oleh pihak New York State Examiner, sebelum dikembalikan ke rumah duka,” tuturnya. Dan, prosesnya lebih sederhana, karena pihak rumah duka telah membungkus jenasah dengan kain kafan yang diselimuti plastik dan ditaruh di dalam peti jenasah.

Seperti yang dilakukan terhadap salah satu jenasah yang dimakamkan di Marlboro, New Jersey. ”Jenasah sudah dikafani dan dibungkus plastik. Saya hanya menaruh tanah ke dalam peti, sebagai prasyarat saja,” tutur Pak Jajak. ”Kadang peti matinya tidak boleh dibuka sehingga kita hanya mensholatkan saja,” sambungnya.

Salah satu Rumah Duka Muslim di New York (Mohammad Toha)

Mohammad Toha juga sering menengok dan membantu beberapa rumah duka khusus Muslim di New York. Maklum, di tengah krisis Covid-19, rumah duka itu kewalahan karena harus mengurus 15 hingga 20 jenasah. ”Padahal setiap hari, mereka hanya mampu menangani 12 jenasah,” katanya.

Dengan tiga kendaraan khusus mereka hanya bisa mengangkut 6 peti menuju ke pemakaman. ”Mau tidak mau, jenasah yang tidak sempat dimakamkan dimasukkan ke dalam peti kemas berpendingin, untuk dimakamkan keesokan harinya,” tutur Pak Jaja.

Salah satu truk peti kemas berpendingin untuk menyimpan jenasah. (Mohammad Toha)

Bahkan ia sendiri menyaksikan dua peti kemas berisi jenasah menuju ke tempat pemakaman di Hart Island, Bronx. Saya melihat di berita televisi, peti jenasah dijejer dengan rapi dan diletakkan dalam satu liang kubur.

Seperti diketahui, jumlah korban terpapar virus Convid-19 di AS mencapai 704.502 orang, dan korban meninggal sebanyak 33.194 jiwa, sedangkan yang sembuh mencapai 36.507 orang. Sementara kasus Convid-19 di New York mencapai 229.642 orang, dan korban meninggal mencapai 15.509 jiwa dan berhasil sembuh sebanyak 28.089 orang.

Pengalaman dan bantuan mulia itu dilakukan Mohammad Toha sejak beberapa tahun lalu. ”Awalnya sih cuma bantu-bantu saja, tapi lama-lama tergerak untuk membantu mereka yang membutuhkan,” tutur lelaki berusia 60-an tahun yang sejak dua bulan belakangan harus bekerja dari rumah.

”Untuk jenasah wanita, kami serahkan pada kaum ibu, dan saya hanya membantu administrasi saja,” sambungnya. ”Pihak Konsulat Jenderal RI juga sering memberi bantuan bagi warga Indonesia yang tidak mampu dan sebatang kara,” tutur Mohammad Toha yang tinggal di AS sejak tahun 1981. ”Saya masih tetap warga Indonesia. Saya bukan warga AS,” ujar lelaki kelahiran Bandung, Jawa Barat menutup pembicaraan malam itu. (DP).