Press "Enter" to skip to content

Aksi Kekerasan Dalam Rumah Tangga Meningkat Sejak Lockdown Diberlakukan

Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga, KDRT meningkat cukup besar, sejak diberlakukannya lock-down di AS sejak awal Maret lalu. Di Montgomery County, PA, insiden jenis ini meningkat 8 hingga 9 persen. Angka ini diambil dari analisa ribuan pengaduan yang diterima di saluran telepon 911 selama periode April tahun 2019 hingga 2020.

Dalam pekan ini misalnya, dua korban tewas akibat KDRT. Wanita berusia 21 tahun dituduh menusuk pacarnya hingga tewas, demikian pula seorang lelaki berusia 60 tahun yang menjerat istrinya sampati mati.

 

”Hidup di tengah-tengah pandemi seperti ini benar-benar sangat stress. Apalagi berada bersama dengan sesama dewasa dan anak-anak dalam sebuah rumah setiap hari. Jauh dari teman dan kegiatan rutin di luar,” tutur Kevin Steele, Jaksa Penuntut Umum Distrik Montgomery, Pennsylvania.

Demikian pula yang terjadi di Inggris. Sejak kurun waktu 23 Maret hingga 12 April 2020 lalu, tercatat 16 wanita dan anak-anak menjadi korban KDRT, sejak Inggris melarang warganya untuk keluar rumah pada jam-jam tertentu akibat krisis virus Convid-19.

Hasil riset yang dilakukan Karen Ingala Smith, pendiri Counting Dead Women tersebut tak berhenti sampai di situ. Karen Ingala menyebutkan, kekerasan itu bukan karena Convid-19, melainkan karena kaum wanita tidak memiliki pilihan lain untuk melarikan diri ke luar rumah. ”Kondisi seperti itu menjadikan kaum pria punya alasan untuk melakukan aksinya terhadap kaum lemah dan wanita,” tutur Ingala Smith.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, tercatat satu wanita dibunuh pasangannya setiap tiga hari. Sedangkan para korban yang dibunuh ayahnya tercatat tiga orang.

Karen Ingala Smith juga meminta agar polisi tidak terlalu ketat menerapkan pembatasan dalam rumah tangga selama krisis Convid-19 ini. ”Saya minta polisi memberikan waktu lebih longgar agar para korban KDRT bisa melaporkan lebih leluasa,” katanya.

Sementara, kasus kekerasan di dunia juga meningkat. Terbanyak terjadi di China dengan kenaikan  300%, disusul Spanyol 270%, dan Australia dengan 75%. Negara-negara lain berkisar antara 65% hingga 25%, sedangkan Timur Tengah masih cukup tinggi dengan kenaikan 45%.

Yang mengejutkan angka kekerasan di New York. Menurut Harian The New York Times, kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga di kota metropolitan itu malah menurun drastis. Sejak dua bulan belakangan, angka KDRT menurun hingga 40 persen. ”Bahkan menurut Departemen Kepolisian NYPD, laporan KDRT menurun secara progresif, sejak terjadinya pandemi Convid-19,” seperti dikutip The New York Times.

Angka kriminal, termasuk pemukulan, pembobolan rumah dan pembunuhan di antara famili dan warga menurun hingga 15% bulan lalu, dibandingkan periode yang sama Maret 2019.

Data itu mengherankan banyak pihak. Termasuk Komisioner Polisi Dermot F. Shea yang meminta para bawahannya untuk mengunjungi para mantan korban yang pernah mengalami KDRT sebelumnya. ”Saya khawatir apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah. Jangan-jangan banyak yang tidak mau melapor,” tutur Dermot F. Shea.

Apalagi penurunan jumlah kasus di New York, bertolak belakang dengan data nasional. Markas Besar Kepolisian AS mencatat adanya 1.753 laporan telepon KDRT bulan Maret silam, atau terjadi peningkatan sebesar 15 persen dari Maret 2019, kata jurubicara Mabes Polri AS kepada The New York Times. (DP)