Press "Enter" to skip to content

Kalangan Bawah Makin Merasakan Dampak Ekonomi virus COVID-19

Sebuah postingan yang dimuat pada pertengahan April di sebuah grup warga Semarang di Facebook mengundang banyak reaksi. Bagaimana tidak? Isi postingan berbahasa Jawa itu menawarkan hal yang lain dari biasanya. Yakni, Menjual akte kelahiran anaknya dan akte surat nikahnya akibat tak punya uang lagi.

“Lur, bade nyuwun tulung. Mbok menowo ono sing gelem gadai akta kelahiran anakku dan surat nikahku, lur. Mbok menowo ono sing gelem nulungi. Insya Allah amanah dan lancare bayare”

Artinya: “Saudara saudara, mohon bantuan. Siapa tahu ada yang bersedia menerima gadai akta kelahiran anakku dan surat nikahku. Siapa tahu ada yang mau membantu. Insya Allah amanah dan pembayaran lancar”.

Keluhan Randi yang sempat viral di media sosial (pribadi)

Postingan ini mengundang ratusan komentar dan puluhan kali dibagikan. Akhirnya, Rahmulyo, seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Jawa Tengah tergugah dan memutuskan mencari tahu siapa penulis postingan itu.

Bertemulah ia dengan pasangan muda Randi dan Savira di rumah kontrakan petak yang mereka tempati “Saya sudah mentok pak” keluh Randi di depan Rahmulyo. Ia tak tahu lagi bagaimana harus menyambung hidup setelah pekerjaannya sebagai buruh kasar terhenti, imbas dari mewabahnya virus Corona.

Randi tidak memiliki barang berharga apapun untuk digadaikan atau dijual. Untuk memasang postingan itu saja, ia meminjam hp ponakannya. Sampai kemudian muncullah ide untuk menggadaikan akta kelahiran anaknya dan surat nikahnya.

Berita WA yang viral itu.

Rahmulyo kemudian memberi bantuan kepada pasangan muda tersebut, tapi mereka tentu tak bisa hanya bergantung pada bantuan. Randi dan Savira tak henti menawarkan diri untuk bekerja apa saja sekedar untuk menyambung hidup, tapi di tengah situasi pandemi ini, pekerjaan pun sulit didapat.

Ada pula cerita sedih lain tentang tukang Ojek Online. Pagi itu bu Nana memesan ojek online untuk mengambil herbal pesanannya. Dalam hitungan detik, warga Tanah Mas, Semarang ini langsung mendapat pengemudi tapi gambar sepeda motor di aplikasinya tak kunjung bergerak.

Ia juga berusaha menghubungi pengemudi lewat chat, tapi tidak ada jawaban. Ketika hampir 10 menit berlalu tanpa ada jawaban, ia memutuskan membatalkan order dan mencari pengemudi lain. Singkat cerita, akhirnya herbal pesanannya pun tiba di tangannya. Siangnya, selewat dzuhur, ia mendapat pesan dari nomer yg tak ia kenal, “Mohon maaf, tadi saya tidak bisa terima order, bu. Saya ketiduran, saking sepinya…” Rupanya pengemudi ojek online yang tadi pagi ia batalkan, mengirimnya pesan.

Bu Nana kemudian menanyai, berapa order yang sudah didapat hari itu. “Baru satu, bu…” Hati perempuan setengah baya ini tergugah, “Saya ada beras 5 kg, kalau bapak mau”. Tak sampai setengah jam, pengemudi ojek online yang bernama Kasdi ini tiba di depan pagar rumah bu Nana. Kisah yang diungkap Kasdi, mengapa ia tidak menerima order dari bu Nana pagi itu ternyata memilukan, ”

Badan saya gemetaran, bu. Saya ga kuat narik. Saya belum makan dari kemarin pagi…”ceritanya dengan wajah sedih. ” Tadi ada tarikan dekat, Rp 8 ribu tarifnya. Saya kuat2kan supaya bisa sarapan, bu..”lanjut pria 48 tahun itu dengan suara bergetar. Dalam satu minggu itu, ia hanya mendapat 3 order, dengan total Rp 40 ribu. Jumlah yang tentu sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan Kasdi beserta istri.

Dua kasus di atas, mencerminkan kondisi kemiskinan di Indonesia gara-gara virus-Covid-19. Menteri Sosial, Juliari Peter Batubara, mengatakan angka kemiskinan diperkirakan bakal bertambah menjadi dua digit atau melebihi 10 persen dampak Covid-19. “Bahkan ada yang memprediksi agak ekstrem, menjadi 12 persen. Kami belum bisa memberikan angka pasti karena ini masih berjalan,” ujarnya.

 

Laman repotersatu.com menuliskan, menurut Juliari, pemerintah melakukan antisipasi agar jumlah orang miskin tidak naik. Saat ini angka kemiskinan Indonesia berada di posisi 9,4 persen. Angka kemiskinan single digit pertama kali terjadi sejak 2018. Namun akibat wabah Covid-19, jumlah orang miskin di Indonesia diperkirakan bakal meningkat.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksikan jumlah penduduk miskin di Indonesia semakin naik akibat wabah Covid-19. Selama periode Maret – Mei 2020 telah terjadi lonjakan pada angka kemiskinan.

“Bayangkan Covid-19 yang terjadi beberapa bulan, semua pencapaian penurunan kemiskinan dari 2011 sampai 2020 ini mengalami reverse,” kata Sri Mulyani dalam rapat dengan DPR.

Sri Mulyani menyebutkan potensi pertambahan angka kemiskinan di Indonesia salah satunya adanya jumlah pengangguran karena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang bertambah. Berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan angka pengangguran melonjak sekitar 2 juta orang dalam 1,5 bulan sejak pandemi Covid-19 muncul di Indonesia. (Efrosina Facita Budiartini)