Press "Enter" to skip to content

Bertahan Di Tengah Pandemi Covid 19

Krisis akibat virus COVID-19 telah melumpuhkan berbagai sektor bisnis dan ekonomi. Namun, siapa sangka, dibalik pandemi ini, sebagian kecil pengusaha, justru melihat banyak hal yang bisa dijadikan peluang agar bisnisnya tetap berkembang dan menguntungkan. Bisnis apa saja kah itu? Siapa yang sukses merebut peluang itu ? Berikut ini beberapa kisah sukses itu.

“Sedikitnya 8 dari sepuluh petugas delivery service yang datang ke lingkungan kami setiap 3 jam, pasti membawa kiriman paket makanan, minuman siap saji atau beku,” ujar Mafruhin Security Manager sebuah perumahan di Bekasi, Jawa Barat. Boleh jadi ini menjadi bukti bahwa di tengah pandemi, mengacu pada piramida Maslow, konsumen kini bergeser kebutuhannya dari “puncak piramida” yaitu aktualisasi diri dan esteem ke “dasar piramida” yaitu makan, kesehatan, dan keamanan jiwa-raga.

Back to basic – itulah kenyataan dewasa ini khususnya di Indonesia. Setiap orang kini sibuk memastikan bahwa kebutuhan dasarnya atau sembako (Sembilan bahan pokok) bisa terpenuhi setiap saat. Di mata pengusaha, di satu sisi ini bisa menjadi hambatan, tapi bagi yang berpikir positif, keterbatasan ini justru harus dijawab dengan inovasi.

Berbagai inovasi kini terus dilakukan dan bermunculan semata-mata agar bisnis yang dikelola bisa tetap survive dan bertahan di tengah krisis Covid-19 ini. Yuswohady, Managing Partner Inventure dalam laporannya menyebutkan sedikitnya terdapat 50 inovasi yang dilakukan perusahaan untuk bertahan bahkan menyalip para pesaingnya di tengah krisis. “Kita harus mampu membalik krisis Covid-19 ini menjadi peluang,” tegas Siwo, panggilan akrab Yuswohady kepada penulis baru-baru ini di Jakarta.

Berikut ini 10 ide inovasi paling sederhana yang dapat diikuti oleh para pelaku usaha kecil dan menengah seperti dikutip dari The 50 Survival Innovation Ideas That Matter dari Inventure Knowledge – sebuah Lembaga Think Tank Marketing dan Studi Pelanggan di Indonesia.

1. “Kopi Seliter” @Home

Di saat semua orang di rumah, konsumsi produk kuliner rumahan family-size package meningkat. Hal ini dimanfaatkan oleh pemilik coffee shop untuk membuat produk yang bisa dinikmati di rumah bersama keluarga. Pemain lokal seperti Kopi Tuku, Kopi Toko Djawa dan Bahagia Kopi mengeluarkan varian “Kopi Seliter” untuk segmen konsumen yang ingin menikmati kopi di rumah.

2. Travelogistics

Perusahaan travel terpuruk dengan pemberlakuan PSBB. Maka perusahaan seperti Cititrans, Daytrans dan Big Bird melakukan survival innovation agar tidak gulung tikar dengan beralih fungsi dari mengantar penumpang ke mengantarkan barang. Layanan kirim paket, same-day delivery, dan jemput paket menjadi unggulan saat ini. Istilah Travelogistic menjadi strategi utama mereka menciptakan revenue stream di tengah amukan wabah.

3. On-Demand Cleaning Services

Selama wabah permintaan terhadap produk/layanan kesehatan meningkat pesat. Ini merupakan peluang bagi sektor perhotelan dengan melakukan utilisasi aset yang mereka miliki yaitu kompetensi di bidang housekeeping khususnya cleaning services. Maka Hotel Teraskita (by Dafam) dan Hotel Ambhara meluncurkan layanan “on-demand cleaning service” dengan label kebersihan prima “berkelas hotel” ke rumah-rumah.

4. Home Leisure Wear

Pembelian produk fesyen kian turun kala masyarakat tidak keluar rumah. Tapi brand fesyen tak kehilangan akal. Mereka mendorong tren “homeleisure wear” walaupun di rumah tapi pakaian tetap fashionable karena bisa dipamerkan via Instagram.

Brand global H&M misalnya, membesut campaign #AtHomeWithHM mempromosikan produk fesyen pajama & loose style. Ketika hashtag #OnePajamaForTheWholeCNY booming viral saat tahun baru Cina, Dodococo brand fesyen, menggelar campaign #WorkFromHome dan #PajamaChallenge.

5. “Untouchable” Product

Penyebaran virus corona yang cepat membuat semua orang menjadi was-was untuk bersentuhan dengan apapun. Contactless lifestyle akan menjadi new normal. Maka TOTO mengeluarkan produk sanitary yang memungkinkan penggunanya tidak perlu memegang atau menekan tombol apapun ketika menggunakannya. Ditambah dengan fitur ultraviolet yang membuat penggunanya lebih aman terhindar dari bakteri. Inovasi ini merupakan respon terhadap perubahan perilaku konsumen saat wabah merebak.

6. Coronassurance for Fear Customers

Walaupun daya beli menurun, namun saat ini asuransi kesehatan merupakan salah satu yang sangat dibutuhkan oleh konsumen. Untuk memproteksi konsumen dari Covid-19, AstraLife mengeluarkan produk asuransi yang memproteksi nasabahnya dari penyakit ancaman Covid-19. Ditambah dengan fitur online yang memungkinkan nasabah membeli asuransi tanpa ke luar rumah, survival innovation ini menjadi penyelamat perusahaan asuransi.

7. Frozen Food Is the New Normal

Permintaan produk frozen food semakin meningkat di kala mereka tak bisa berpergian ke luar rumah. Apalagi emak-emak milenial memang tidak piawai memasak, sehingga mereka memasak yang mudah-mudah (simple cooking). Kondisi ini dimanfaatkan Es teler 77 dan Hokben untuk mengeluarkan varian produk frozen dan “ready to eat” untuk mengantisipasi pelanggan dine-in yang terus merosot.

8. WFH = “Work from Hotel”

Staycation akan menjadi new normal pasca Covid-19. Karena itu hotel seperti The Trans di Bandung menawarkan paket staycation dengan konsep “Pay Now, Save More“, bayar sekarang untuk menginap 3 bulan ke depan setelah Covid-19 lewat, dengan diskon yang sangat menarik. Begitu juga hotel-hotel di Bali menawarkan paket “Work from Hotel” dengan bargain price yang tak bisa ditolak konsumen. Sementara aplikasi penyewaan properti Travlio menawarkan “Work from Apartment“.

9. Beauty On-Demand

Ketika konsumen harus tinggal di rumah dan tak bisa mengunjungi klinik kecantikan untuk mendapatkan treatment, maka beberapa klinik kecantikan melakukan strategi jemput bola menyambangi pelanggan. Salah satunya adalah ERHA yang meluncurkan beberapa layanan mulai dari drive-thru treatment dimana konsumen bisa melakukan suntik vitamin C di mobil, virtual consultation, hingga membeli produk mereka secara online dan dikirim ke rumah.

10. Resto Experience @ Home

Sektor resto & kafe paling terdampak oleh Covid-19 karena tidak ada konsumen yang dine-in. Karena itu mereka melakukan survival innovation menghadirkan “resto experience” di rumah konsumen. Magal, Raa Cha dan Shabu Jin menghadirkan layanan home delivery “BBQ at home”. Mulai dari bahan makanan, condiment, sampai alat masak dan piringnya semua disediakan dan dikirim ke rumah.

Itulah antara lain inovasi yang kini telah dilakukan banyak pelaku bisnis di Jakarta. Senada dengan Siwo, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Prof.Dr. H. Rully Indrawan, MSi, dalam diskusi secara virtual dari Jakarta pertengahan Mei lalu mengatakan, betapa pentingnya inovasi dilakukan para pelaku Koperasi dan UKM dalam kondisi krisis agar tetap bertahan. “Kita belum tahu kapan wabah corona ini berakhir, maka yang penting adalah lakukan inovasi agar semua selamat dari dahsyat nya wabah ini, “ ujarnya. Dan ide-ide inovasi itu menjadi kunci menuju sukses setiap usaha, termasuk usaha kecil dan menengah.

Cepi Husada, Journalist.
Praktisi Komunikasi Pemasaran dan Bisnis.