Press "Enter" to skip to content

Kisah Harry Santoso Pekerja Keras Amazon California Jadi Korban COVID-19

Namanya kini menghiasi sejumlah media AS, sebagai salah satu korban virus COVID-19 yang kini mencapai 100 ribu jiwa. Itulah Harry Santoso yang kisahnya ditulis lengkap di Los Angeles Times.

Harry Santoso dikabarkan meninggal dunia setelah kembali bekerja di Amazon. Lelaki kelahiran Malang, Jawa Timur berusia 63 tahun itu bekerja sebagai karyawan sortir dan angkutan paket barang yang harus dikirim ke pelanggan. Harry dikenal rajin bekerja, apalagi, 29 Maret lalu, Harry dipanggil lagi ke perusahaan e-commerce raksasa itu.

 

Maklum Amazon baru saja melakukan pengurangan tenaga kerja gara-gara ekonomi lesu. Namun setelah pandemi COVID-19, Amazon berubah menjadi satu-satunya perusahaan pelayanan barang yang dimanfaatkan pembeli yang ogah berbelanja secara langsung.

Harry yang bekerja dari hari Minggu hingga Kamis itu, tiba-tiba merasa sakit. Namun hal itu tak dihiraukan. Ia masih bekerja selama empat hari lagi, dan sakitnya bertambah parah: Nafasnya tersengal-sengal, batuk dan menderita demam. Setelah dites, Harry positif terkena virus COVID-19. Demikian juga Endang, istrinya yang bekerja sebuah apotek dan selalu membawakan masker setiap hari, pun kejangkit COVID-19. Mereka berdua melakukan karantina secara sukarela di kediaman mereka di kawasan Walnut, Los Angeles.

Tiga hari kemudian, 11 April lalu, kondisi Harry semakin parah. Lelaki 63 tahun itu tak mampu menyetir mobil, sehingga ia harus dibawa ambulans menuju rumah sakit ditemani istrinya. Dalam perjalanan Harry tak sadarkan diri dan meninggal dunia sebelum sampai ke rumah sakit.

Evan Santoso, putranya hanya diberi waktu 10 menit dan berada di kejauhan untuk melihat jasad ayahnya di ruang Gawat Darurat. Sementara itu, pihak Amazon menyatakan, Harry Santoso memang meninggal dunia. Itu pun setelah diberitahu Evan Santoso yang menelepon perusahaan raksasa itu berkali-kali.

Belakangan baru diketahui bahwa Amazon terlambat mengantisipasi karyawannya terpapar virus Corona. Menurut LA Times, sejumlah kantor Amazon di AS masih membuka kegiatan dengan alasan hanya mengirim paket non-esensial. Baru seminggu sebelum Harry Santoso meninggal dunia, Amazon menerapkan peraturan pemakaian masker dan jaga jarak. Mereka juga baru mengizinkan karyawannya yang terpapar virus COVID-19 untuk melakukan karantina sukarela selama 14 hari di rumah.

 

Ratusan karyawan Amazon di Hawthorne dan Eastvale, Riverside County, LA menanda tangani petisi agar kedua fasilitas itu ditutup selama dua pekan. Mereka juga meminta agar Badan Keselamatan dan Kesehatan California, untuk melakukan investigasi.

Sementara itu sejumlah gudang milik Amazon di Pennsylvania dan New York juga dituntut agar ditutup. Di kedua fasilitas itu, lebih dari 60 orang karyawan terpapar virus COVID-19.  Awal pekan ini, Amazon bersedia berdamai dengan pengadilan dan serikat buruh California: Mulai 2 Juni nanti, Amazon akan mengurangi jam giliran bekerja, dan mengurangi jumlah pekerja menjadi separuhnya. Selain diwajibkan jaga jarak, karyawan yang terpaksa dikarantina 14 hari di rumah juga diberi gaji penuh.

Seorang ibu warga Indonesia berusia 40 tahun yang bekerja di Amazon Pennsylvania mengaku selalu ketakutan. “Saya setiap hari was-was, tapi bagaimana lagi, saya butuh pekerjaan. Kemaren badan saya demam dan saya takut sekali,” tutur ibu yang tinggal di South Philadelphia itu. ”Lagi pikir-pikir untuk berhenti tapi perlu uang untuk bayar tagihan,” lanjutnya.

Ibu tersebut makin takut setelah mendengar cerita dari teman-temannya bahwa banyak pekerja Indonesia di pabrik perusahaan lain terkena Covid19. ”Serba salah, mau kerja takut, nggak kerja juga takut nggak bisa bayar sewa rumah,” tutur ibu dua anak itu dengan sedih. Suaminya juga sudah dua bulan tidak bekerja gara-gara pandemi yang belum ketahuan akhirnya ini. (DP)