Press "Enter" to skip to content

Jam Malam Diperpanjang di Sejumlah Kota. Derek Chauvis Pengin Bunuh Diri

Rangkaian demo besar memrotes kematian warga kulit hitam George Floyd, 46, makin meluas ke 30 kota di seluruh Amerika Serikat. Sebanyak 26 kota di belasan negara bagian berbeda telah menerapkan jam malam dengan penjagaan dari Garda Nasional.

Salah satu yang terburuk di Los Angeles. Sederet bangunan dibakar massa, toko-toko dijarah termasuk yang berada di area belanja popular Melrose and Fairfax Avenue. Polisi menembakkan peluru karet untuk membubarkan massa dan menangkap ratusan perusuh.

 

Di kota New York, polisi menangkap 350 pendemo dalam sehari, dengan puluhan polisi luka-luka. Sedangkan di Salt Lake City, seorang laki-laki tak dikenal mencoba memanah kelompok pendemo sehingga makin memanaskan situasi.

Selain menjarah, banyak yang berperilaku aneh. Seorang lelaki tak dikenal di Salt Lake City, Utah membekali diri dengan panah dan memanah para demonstran. Tentu saja pria itu dikeroyok dan dipukuli hingga babak belur, serta mobilnya dibakar.

Samantha Shader, asal Catskill New York, ditangkap polisi karena ketahuan melempar 4 mobil polisi dengan bom molotov di Brooklyn, New York. Perempuan 27 tahun itu ditangkap di tempat kejadian di Crown Height, New York. Ada pula, Colinford Mattis dan Urooj Rahman, dari Brooklyn, ditangkap karena ketahuan melempar bom molotov pada sebuah mobil polisi di 88th Precinct, Brooklyn, NY.

Sementara itu, Derek Chauvin, mantan polisi Minneapolis yang dituduh membunuh George Floyd, ditahan di Tahanan Ramsey County Jail di St. Paul, Minnesota. Menurut orang dalam di penjara, Derek tidak mau menatap setiap orang yang bertemu dengannya. Dan ia juga dimonitor selama 24 jam penuh, karena menurut pemeriksaan dokter, berniat melakukan bunuh diri. ”Tidak harus diawasi sih, tapi kami jaga-jaga saja,” tutur penjaga tahanan kepada situs TMZ.

Derek Chauvin diancam hukuman maksimal 25 tahun penjara bila terbukti bersalah. Sementara Kellie Chauvin, istrinya menutut cerai usai kasus ini.

Kasus pembunuhan kriminal oleh polisi, bukan terjadi kali ini saja. Terdapat beberapa kasus besar sebelumnya yang memunculkan gerakan lintas negara Black Lives Matter pada tahun 2013. Sebut saja kasus Michael Brown Jr di Ferguson, dan Eric Garner di New York. Michael Brown tewas dengan enam luka tembak dari pistol oknum polisi berkulit putih Darren Wilson pada 9 Agustus 2014.

 

Kasus lain menimpa Eric Garner yang tewas kehabisan napas setelah lehernya dicekik dengan lengan polisi kota New York berkulit putih Daniel Pantaleo pada 17 Juli 2014. Saat itu, Garner menolak tuduhan aparat polisi bahwa dia menjual rokok eceran tanpa cukai. Pantaleo lalu melumpuhkan Garner dengan menjatuhkannya ke trotoar serta mencekik leher dengan lengannya. Garner sempat mengucapkan kalimat, “ Aku tidak bisa bernafas” sebanyak 11 kali sebelum pingsan dan akhirnya dinyatakan meninggal sejam kemudian di rumah sakit.

Dari Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump menyatakan kematian Floyd membuat Amerika dipenuhi horor, kemarahan, dan kedukaan. Trump mengecam tindakan penjarahan dan anarki. “Yang dibutuhkan adalah penyembuhan bukan kebencian, keadilan bukan chaos. Saya tidak akan membiarkan kerusuhan mendominasi, itu tidak akan terjadi,” tegas Trump.

 

Namun, Trump dituduh memperkeruh suasana dengan mempolitisasi aksi protes massal ini dengan menuduh Gubernur Minnesota Tim Walz dan Walikota Minneapolis Jacob Frey. Kedua pejabat tinggi yang berasal dari Partai Demokrat, dituduh tidak becus bekerja sehingga kerusuhan makin meluas. Trump pun menuding kelompok anti fasis Antifa sebagai otak dibalik kerusuhan.

“Trump seharusnya berhenti bicara. Kejadian ini seperti mengulang kembali Charlotteville. Semakin dia, maka situasi makin buruk. Jika dia tidak bisa diam, pakailah teleprompter agar dapat mengucapkan kalimat yang benar,” kata walikota Atlanta Keisha Lance Bottoms. (Astari Yanuarti Sumber: CNN, AP, NBC, BBC dan the Guardian)