Press "Enter" to skip to content

George Soros & ANTIFA Diduga Jadi Provokator Kerusuhan di AS

Jam malam masih diberlakukan di sejumlah kota AS, bahkan di New York diberlakukan hingga akhir pekan. Para pengusaha mulai membenahi tokonya yang diserbu massa. Belum dihitung berapa kerugian akibat penjarahan massal kali ini. Namun, sebagai gambaran, kerusakan pada saat kerusuhan Baltimore, 2015, saat terbunuhnya Freddie Gray, mencapai $ 9 juta.

 

Kerugian kali ini diperkirakan mencapai belasan kali lipat, mengingat kerusuhan yang dimulai Sabtu pekan lalu, tidak hanya terjadi di Kota Minneapolis dan sekitarnya. Tetapi menjalar ke seluruh AS dan kota-kota besar seperti New York, Washington DC, Boston, Philadelphia dan lainnya. Antisipasi pasukan keamanan dengan menerjunkan pasukan Garda Nasional, terasa terlambat.

Sejak kerusuhan meledak akhir pekan lalu, para pejabat tinggi Negara Bagian Minnesota – Gubernur Tim Walz, Walikota Jacob Frey, dan Walikota Saint Paul, Melvin Carter serta Jaksa Agung Keith Ellison — ”Mengakui adanya kekuatan dari luar yang menyelusup ke dalam massa demonstran di Minnesota,” tulis Majalah Forbes.

Bahkan tokoh-tokoh konservatif sayap kanan memainkan teori konspirasi yang menyebut nama George Soros berada di balik huru-hara kali ini. Edaran lowongan mencari ‘Pelaku Anarkis Profesional’ dengan imbalan $ 200/setiap aksi perusakan, beredar luas di media sosial dan di jalan-jalan kota AS. Lengkap dengan nomor telepon dan email atas nama Open Society Fondations, lembaga nirlaba milik Soros.

Tentu saja selebaran itu palsu alias Hoax. Bagaimana mungkin Soros yang kaya itu menyebarkan selebaran murahan seperti di bawah ini.

”Ayolah, tangkap saja Soros,” kata Bill Mitchell, tokoh sayap kanan AS. Bahkan Candace Owen komentator kulit hitam pro-Trump menyebut Soros berperan besar kali ini. ”Soros bakal menangguk bayaran besar. Seperti yang dilakukannya dengan kelompok Antifa. ” kata Owen, wanita kulit hitam yang menentang keras gerakan Black Lives Matter kepada Fox News.

Presiden Donald Trump juga menyebut kelompok Antifa. Dalam cuitan Twitternya, Trump menuliskan ”Ini pasti ANTIFA dan radikal kiri. Jangan salahkan yang lain deh,” tulis Fox News mengutip cuitan Trump tentang kelompok anti fasis itu.

George Soros, milyarder yang memiliki kekayaan $ 8.3 milyar itu, selalu menjadi sasaran konspirasi kelompok sayap kiri. Maklum, milyarder yang memiliki kekayaan $ 8.3 milyar itu mendukung berbagai kelompok Partai Demokrat. Open Society Foundation, menghabiskan dana milyaran untuk mendukung demokrasi dan HAM di 120 negara dunia. Bahkan namanya juga santer disebut dalam Krisis Ekonomi yang menggulingkan Presiden Soeharto tahun 1998.

 

Selain Soros, ada satu kelompok yang santer disebut kali ini. Kelompok itu adalah Gerakan ANTIFA, kependekan Anti-Fasisme yang bergerak seperti hantu. Gerakan ini dikenal milita, anti kapitalisme, dan pandangannnya anti pemerintahan yang sah. Tidak seperti organisasi umumnya gerakan ini tidak memiliki struktur organisasi dan hirarki kepemimpinan yang baku.

Kelompok ini tidak memiliki rantai komando dengan grup ANTIFA lainnya, namun mereka saling berbagi informasi tentang kegiatan sayap kanan dan kelompok supremasi kulit putih. Kegiatan mereka mengorganisasi atau menjadi provokator aksi protes, lewat media sosial dan jaringan internet. Pada pemilu presiden tahun 2016 gerakan Antifa ini mulai dikenal dan pada Agustus 2017, gerakan ini memiliki sekitar 200 kelompok yang berbeda dan aktifitas.

Dalam beberapa rekaman video di media sosial belakangan ini, terlihat seorang pemuda berpakaian serba hitam, tampak memberi pengarahan pada seorang bocah bersepeda. Ada yang lain lari-lari. Ketika kepergok kamera, pemuda itu menghindar dan melarikan diri. Pemuda berpakaian hitam itu seperti Korlap (koordinator lapangan) dalam berbagai kerusuhan Jakarta.

 

Video lain menggambarkan seorang anak muda, berpakaian serba hitam memecahkan kaca toko-toko di sebuah pusat pertokoan, tanpa rasa takut. Padahal di sana suasana sepi. Setelah ditegor seorang gadis hitam, anak muda itu marah. Salah satu rekannya, wanita juga mencoret nama BLM, Blak Lives Matter di dinding toko dengan semprotan hitam. Mereka berdua pergi.

Siapa mereka dan dari kelompok mana mereka? Benarkah mereka berada di balik kerusuhan AS kali ini? Atau hanya tuduhan tak disertai bukti kuat? (DP)